Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
56. Tak Terduga


__ADS_3

Reyna beranjak untuk mengajak Bram kembali ke kamar karena sudah saatnya Dewa untuk tidur, tapi dia urungkan niatnya saat melihat Bram menghentikan langkah seorang pria yang sedang melintas didepannya dan berbincang.


''Reyna...'' panggil Bram sesaat kemudian dan melambai memintanya mendekat


''Maammaaa'' Dewa berlari mendekatinya ketika Bram tak lagi menghiraukannya


Reyna menggandeng Dewa dan berjalan pelan mendekati dua pria yang sedang beramah tamah itu


''Pappap iyooo'' Dewa menggoyang-goyangkan tangan Bram dan merajuk naik ke gendongan


Bram segera meraih tubuh mungil itu  ''Oh iyaa,, ini kenalkan mama dari si jagoan'' ucapnya


''Reyna...kenalkan designer pemilik hak cipta outlet , Pak Satria''


deg.....


Kedua pasang mata bertemu , bagi Reyna sesaat waktu seakan terhenti menghempaskannya pada sosok pria yang terakhir ia temui  lebih dari 3 tahun lalu, perpisahan yang hanya di atas kertas tanpa ucapan pamit sama sekali.


Sama halnya dengan Satria, dia berdiri mematung melihat wanita yang telah ia torehkan luka tanpa sempat ia ucapkan maaf


''Cantik kan Pak Satria'' gurauan Bram membuyarkan suasana dingin itu


''Ehh emm iya...Saya Satria'' pria itu menyodorkan tangannya


''Reyna..'' Reyna menyambut jabat tangan itu


''Pak Satria datang sendiri?'' tanya Bram


''Tidak, bersama istri dan anak saya'' jawabnya sambil mencuri-curi pandang ke arah Reyna yang terlihat gelisah


''Oh ya,, putra atau putri? berapa tahun?''

__ADS_1


''Perempuan, 3 tahun sebentar lagi''


''Oh sama dengan Dewa, tahun ini juga genap 3 tahun. Nggak berencana nambah Pak Satria? Belum lengkap kalau belum ada jagoan'' canda Bram


Satria hanya tersenyum tipis


''Pak Bram dulu saja, istri saya cukup kerepotan hanya dengan satu anak'' ia mencoba menguasai degub jantungnya yang tak karuan, sungguh dia tak tahu apa yang akan ia lakukan saat ini, ia menoleh kekanan dan kekiri menghilangkan gugupnya.


''Kau dengar Rey, bertambah satu orang lagi mendoakan kita segera menikah dan memberikan Dewa adik'' Bram memeluk pundak Reyna dengan gemas


Satria sontak menatap Bram dan Reyna bergantian


Whattt,,apa ia tak salah dengar, segera menikah?


Satria menatap Reyna dengan sejuta pertanyaan, jika itu bukan anak Bram lantas???


arghhhh 


Dia meraup wajahnya kasar, pantas saja ia merasa tak asing saat 2 pekan lalu bertemu dengan Dewa. Ia pandangi lagi wajah anak kecil digendongan untuk meyakinkannya lagi


Bram mengangguk mengiyakan dan membiarkan pria itu berlalu dengan gontai


.


.


.


Reyna memasuki lift dengan malas, sejuta rasa membuncah dibenaknya saat ini, disaat hatinya merasa mantap mengakhiri masa penantian panjangnya entah kenapa tiba-tiba dia dipertemukan dengan kunci utama akan masa lalunya.


Sudut mata Reyna tadi sempat menangkap pandangan Satria yang lekat melihat wajah Dewa

__ADS_1


, anak laki-lakinya itu memang mewarisi ketampanan Bimo , singkatnya Dewa adalah Bimo dalam versi kanak-kanaknya.


Reyna yakin cukup 5 detik saja bagi seorang Satria untuk meyakinkan bahwa Dewa adalah benih cintanya dengan Bimo.


Tiba dikamar Dewa sudah menguap dan rewel meminta susu, Reyna menyiapkan susu dalam dot melepas baju pesta dan menggantikan dengan dress piyama tidurnya, tak makan waktu lama Dewangga sudah lelap tertidur dalam pelukannya.


Reyna beranjak dari ranjang melepaskan pelukan di tubuh mungil itu, menarik selimut dan menggelarnya ke tubuh Dewa.


Bram yang sedari tadi menunggu di sofa beranjak ketika menoleh dan melihat pemandangan indah di tepi ranjang itu, bagian belakang Reyna terekspose menatang jelas saat ia membungkuk.


Naluri kelaki-lakiannya tiba-tiba muncul, ia bergerak mendekat memeluk Reyna dari belakang menyeret badan sintal itu perlahan menjauhi ranjang dan memapahnya kearah sofa.


Tangannya menyentuh mematikan lampu utama dan menggantikan lampu tidur, ruangan itu meredup semakin membangkitkan romansa.


Dituntunnya Reyna untuk duduk di salah satu pahanya, perempuan itu melingkarkan lengannya ke bahunya.


Bram mendekatkan wajahnya, bibirnya mulai menjelajah di telinga Reyna mendaratkan kecupan hangat di pipinya, disesapnya sesaat bibir berwarna merah merona.


Memulainya dengan ******* hangat seperti biasa, tangan Bram memeluk erat pinggang Reyna dan memaksanya merapat ketubuhnya hingga benda sintal itu menyentuh dadanya. Ia rasakan sesuatu menegang dibawah sana. Aksinya mulai nakal, jemarinya mulai menari-nari di leher Reyna turun berniat menyentuh dua benda sintal yang tertutup.


Bram merasakan tangan halus Reyna merayap menyentuh dadanya, mendorongnya pelan disertai lepasnya pagutan dua bibir itu.


Reyna masih terdiam menatap Bram, jemarinya memainkan sejumput bulu-bulu halus dibawah bibir Bram. Ciuman yang biasanya hangat teduh menenangkan itu tiba-tiba berubah penuh gelora dan Reyna tak mau terlarut kedalamnya.


"Kau tidak menginginkannya Rey?" Bram mendesah


"Nanti pada waktunya,,," Reyna mengecup gemas bibir Bram. Dia berdiri dan menarik dua tangan Bram "Yuk tidur sudah malam.."


Bram berdiri pasrah sambil menahan ngilu dibawah sana. Tapi bukan untuk keluar menuju kamar melainkan melepas kemejanya asal dan menghambur ke ranjang menjatuhkan badannya di sebelah Dewa.


"Mas..pindah ke kamarmu sana. Apa kata orang nanti" Reyna berkata cemas

__ADS_1


"Ahh Rey, aku capek ngantuk. Tenang saja tak akan ada apa-apa, siapa juga yang akan tahu kita sekamar. Aku cuma ingin merasakan tidur bertiga" sahut Bram cuek


Reyna hanya menghela napas pelan, ia tak enak untuk mendebat lagi setelah penolakan yang tadi dia berikan. Reyna menyusul ke sisi ranjang lain setelah mengganti bajunya dengan piama tidur. Mulai memejamkan mata dan menghalau serentetan pikiran di otaknya mengenai pertemuannya dengan Satria.


__ADS_2