
Reyna ragu untuk melangkah masuk, sejak insiden keguguran ini kali pertama ia kembali ke ruko. Lantai dua nampak sepi, nampaknya karyawan disana belum kembali dari makan siangnya, ruang kaca juga kosong tak ada orang.
"Pras... " panggilnya sambil naik ke lantai tiga "Aku naik ya... "
Derap langkah terdengar diujung anak tangga
"Hai.. " sapa pria itu
"Bantuin" ia melirik setumpuk berkas yang ia apit dilengannya, dua tangannya membawa bekal makan
Pras mengambil alih berkas Alex lalu melenggang mengambil dua pasang sendok garpu
"Sudah kubuatkan minum" tunjuk Pras ke arah meja kecilnya
Reyna mengangguk, berjalan menuju sofa dan merebahkan badan disana "Aku duduk di sini saja, disitu panas"
Pras menyusulnya duduk dan mengambil tepak makan yang disodorkan Reyna
"Ehm.. pasti enak" gumamnya "Ayo makan" ajaknya saat Reyna hanya terdiam
"Eh" Reyna menatap tepak milik Bimo "Oke deh, kebetulan aku juga belum makan. Lagian sayang kalau mubadzir"
"Ah Reyna, kamu selalu sukses buat aku patah hati" Pras tersenyum kecut "Kupikir kau memang sengaja mau makan siang denganku" sungutnya
Reyna melongo menatap Pras "Kamu bilang apa Pras?"
"Bukan, bukan apa-apa. Sudah, ayo makan"
"Aku kemari diminta Om Alex" kata Reyna sambil menyuapkan makanannya
"Hemm.. " Pras seperti tak acuh
"Tadinya aku ke kantor suamiku antar makanan tapi.. " Reyna memejamkan mata teringat perempuan ular "Tapi malah makan diluar"
"Bodoh!" Pras bergumam
"Siapa?"
"Suamimu"
"Eh?"
"Lebih enak makanan istrinya daripada makan diluar" Pras berkata dengan mulut penuh
"Itu.. soalnya .. mungkin karena.. Ah sudahlah" Reyna mengibaskan tangannya lalu menyalakan televisi di ruangan itu
Keduanya terdiam menikmati hidangan masing-masing. Pras yang selesai lebih dulu,menghempaskan tubuhnya ke sofa dan menyalakan sebatang rokok
"Kalian baik-baik saja kan?" matanya melirik pada Reyna yang asik menatap layar televisi didepannya
"Iya, baik" wanita itu hanya manggut-manggut
"Siapa dia?"
"Siapa?" Reyna balik bertanya
"Wanita yang bersama suamimu waktu itu"
"Oh, bukan siapa-siapa" Reyna mengedikkan bahu
"Kamu cemburu!" Pras menghembuskan asap putih pekat dengan gusar
Reyna mendengus "Ayolah Pras, aku malas membahasnya, kau ini" menutup bekal makannya yang masih tersisa
__ADS_1
"Is he cheating?"
"No! He's not!"
Tiba-tiba ponsel Reyna berdering, ihhhh panjang umur sekali suaminya ini
"Ya Kak"
"Sudah dirumah?"
"Belum, masih di ruko"
"Ruko??"
"Iya, antar berkas titipan Om Alex"
"Sudah lama disitu?"
"Aku makan dulu, lapar"
"Segera pulang selesai makan! "
"Iya iya ini juga mau pulang"
"Aku kan sudah bilang, jangan dekat-dekat! Buat aku cemburu saja!"
Reyna memutar bola matanya jengah
"Kenapa? Tak suka pasti mendengar kau datang kemari" Pras menghembuskan asap lewat hidungnya lalu mematikan puntung rokok
Reyna menggigit bibir bawahnya
"Suamiku pikir tak ada pertemanan antara pria wanita"
Reyna mendengus, entah kenapa dia benci reaksi pria itu, seakan mengejeknya. Merogoh tas dan mengambil sesuatu dari kantong celananya
"Truth" menunjuk pada keping koin yang bertuliskan angka "Dare" menunjuk sisi sebaliknya
"You first" lanjutnya, memaksa meletakkan koin ditelapak tangan Pras
"Siapa takut!" bibir Pras tertarik keatas
Koin itu ia lemparkan ke atas menangkap sigap dengan dua telapak tangan
"Truth!" pekik Reyna lalu tertawa
"Okay.. " Pras mengedikkan bahu "Apa yang ingin kau tahu?"
"Ehm.. sudah lama aku ingin tahu perasaanmu sebenarnya"
"Apa untungnya buatmu? "
"Hei... come on! Aku ingin jawaban bukan pertanyaan"
"Kau kan sudah menikah"
"Justru aku sudah menikah, aku tak ingin salah bersikap"
Pras menatap Reyna "Ya begitulah kira-kira"
"Apa? Aku tak ingin menebak, ini bukan kuis"
"Iya iya.. aku memang suka padamu sejak dulu" Pras memejamkan mata
__ADS_1
"Kenapa tak pernah bilang??"
"Memangnya harus?"
"Pras!" Reyna membentak kesal
"Radit bilang kau tak mau punya pacar sebelum lulus"
"Hah?!" Reyna menautkan dua alis "Ah ya aku memang pernah bicara begitu" kepalanya manggut manggut
"Aku berusaha mencarimu beberapa bulan setelah lulus, saat aku diterima bekerja. Bukan kabar gembira malah kudengar kamu sudah menikah. Hei stop, kenapa aku terpancing. Giliranmu!"
Reyna mengambil koin dan melemparkan
"Hahaha.. truth!" seringai licik muncul dari bibir Pras
"Apa??" Reyna bertanya malas
"Apa kau juga menyimpan perasaan yang sama?"
Reyna terdiam sesaat "Ehmm.. "
"Jawab!" Pras mencondongkan tubuhnya
"Ya dulu....Tapi itu kan sudah masa lalu"
"Jadi?" makin mendekatkan wajah
Reyna mendorong pundak pria itu "Cinta monyet!"
"Hanya itu??" Pras spontan menarik tubuhnya menjauh
"Ayolah Pras, itu sudah bertahun-tahun lamanya. Lupakan, lagipula kau kan sudah punya calon. Ah sudahlah lupakan omong kosong ini. Aku mau pulang"
Reyna berdiri dan menuruni tangga
"Mbak Rey.... " teriakan Sisil membahana
"Hai" Reyna melambaikan tangan mendekat
"Kesini kok nggak bilang-bilang"
"Cuma mampir kok, ngobrol sebentar"
"Duh Mbak Rey tambah cantik, aku doakan segera hamil lagi ya Mbak"
"Ehem.. Rey aku masuk ya kalau kalian masih ngobrol" Pras menepuk pundaknya
"Eh enggak enggak, aku mau pulang sekarang. Antar aku kebawah sebentar, aku lupa sesuatu" Reyna melambai pada Sisil dan melangkah turun
"Ini, makasih ya" Reyna memberikan selimut yang dulu Pras pakaikan saat insiden
"Oh" Pras tersenyum "Kamu butuh diet Rey, berat sekali waktu itu"
Reyna memukul lengan Pras, laki-laki itu justru menarik tangannya,
"Makasih ya Rey sudah memaksaku jujur"
"Eh" Reyna buru-buru menarik tangannya
"Ternyata lega rasanya saat kita bicara jujur"
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!
__ADS_1