Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
16. Maling


__ADS_3

Senin menjelang...Reyna bersiap untuk menuju kampusnya sedari Subuh,ia memilih waktu sepagi mungkin agar tidak kepanasan dijalan. Semalam ia telah mengingatkan Satria akan kepergiannya, si empu rumah bahkan masih terlelap saat Reyna meninggalkan rumah.


Satria baru terbangun satu jam kemudian, hampir satu minggu lamanya rumahnya selalu hiruk pikuk di pagi hari tapi kali ini sunyi sepi hingga hari berikutnya, berasa ada bagian yang hilang. Ditambah dia juga tidak bisa bertemu Niken yang masih beberapa hari lagi kembali.


Satria menghubungi Reyna saat ia telah sampai tempat kerjanya.


"Ya Mas?" sahut Reyna di ujung sana


"Sudah sampai?"


"Sudahlah, lagi antri penambahan legalisir ijazah, Mas sudah makan?"


Lengan Reyna dicubit oleh Bianca yang menggodanya membentuk tanda cinta dengan kedua tangannya.


Reyna mengibaskan tangan dan mendorong Bianca menjauh.


"Belum, nanti siang saja. Kamu nggak bisa pulang hari ini?"


"Besoklah Mas..capek aku tuh"


"Iya Iya.. ya sudah ya"


---


"Duh romantisnyaa..... " Bianca berteriak girang ditelinga Reyna "Kayaknya ada benih-benih cinta nih" godanya


"Apaan sih kamu Bi.. " Reyna melengos, dia hanya bercerita pada Bianca jika dia terpaksa menikah tapi dia tak menceritakan soal alasan keduanya.

__ADS_1


Sesuai janjinya Reyna pulang sehari kemudian, meskipun ia masih ingin berada dikota Mbak May agak lama , dia masih rindu dengan si kecil Adam.


Bianca yang turut menginap dirumah Mbak May juga pulang dihari yang sama. Kedua karib itu berjanji untuk mengabari satu sama lain.


.


.


.


Beberapa hari kemudian disuatu pagi dirumah Satria. Reyna melajukan motornya menuju ATM diputuskannya untuk sekalian berbelanja sayur mayur.


Peluhnya bercucuran mengangkat kantong belanjaannya masuk kedalam rumah, sebenarnya dia agak heran melihat gerbang dan pintu depan tidak tertutup rapat, ia yakin sudah menutupnya saat meninggalkan rumah tadi.


Reyna tergopoh meletakkan beban bawaannya langsung menuju dapur dan saat dia membalikkan badan


taraaaaaaa.......


"ehmmm permisi...." deheman Reyna mengagetkan dua sejoli itu.


Wanita tersebut bergeser dari pangkuan Satria menurunkan rok span serta merapikan kancing atas seragam khas seorang pramugari lalu menghempaskan badannya ke sofa.


"Eehhhhh darimana Rey?" tanya Satria gagap sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Belanja" seloroh Reyna sambil cuek memilah-milah belanjaan tadi dan menatanya ke kulkas


"Emmm Rey..kenalkan ini Nik..." Satria melangkah ke arah dapur.

__ADS_1


"Iya tauuu" potong Rey tanpa melirik sedikitpun


seharusnya mereka yang malu terpegok kenapa justru mukanya saat ini yang menunduk dalam-dalam menyembunyikan semburat merah


"Mas, lain kali dikamar...." lanjut Rey lirih telunjuknya menunjuk kamar Satria.


Tak disangka ucapannya itu terdengar oleh Niken


"Ehhh apa kau bilang!!! Kamu tuh yang harusnya ke laut. Dasar penggangu!!" bentaknya.


benar-benar kesan pertama yang tidak menyenangkan bagi keduanya.


Reyna memasukkan kantong terakhir kekulkas dan membanting pintu kulkas dengan kasar. Dia sungguh tidak terima dikatakan pengganggu, bukankah selama ini dia selalu menjaga privasi tidak mencampuri urusan masing-masing.


"Eh kalau omong jangan sembarangan. Saya bukan pengganggu ya, saya cuma minta kalau mau mesum jangan didepan umum!" teriak Rey tak kalah sangarnya.


Niken mendekat dan mengacungkan telunjuknya mengarah Reyna


"Dasar pengganggu hubungan orang, keganjenan, kegatelan. Dasar MALING.. mana ada mau MALING ngaku!!"


Satria yang sedari tadi terpaku buru-buru menghalau langkah Niken agar tidak mendekat ke Reyna. Dari awal kedatangan Niken yang tiba-tiba setelah dia hanya berpikir pasti hanya perang dingin saja diantara keduanya, tidak ia sangka akan terjadi huru-hara seperti ini.


"Kenapa ... mau belain dia??" teriak Niken menghempas lengan Satria.


Reyna berdiri kaku mengepalkan tangannya, matanya melotot tajam ke arah Niken. Dadanya kembang kempis menahan gemuruh amarah. Kalau bukan karena Satria dia pasti sudah melayangkan tinju ke muka wanita itu.


Maling...tidak pernah ada pikiran sedikitpun di otak Reyna untuk mengambil apapun dari hidup wanita itu. Tak tahukah dia pernikahan ini sangat merugikan dirinya. Dadanya sesak,sakittt.....

__ADS_1


Reyna menyambar kontak motor di meja dapur melewati dua sejoli itu menatap Niken dengan penuh kebencian


"Mulut kamu butuh disekolahin!" desisnya sinis


__ADS_2