
Sama halnya dengan Bram, Linda melarang Reyna untuk memutuskan keluar dari rumah belum lagi omelan Bianca yang membuat Reyna pusing. Tapi dia tetap melaksanakan niatnya itu, dia bertekat untuk mandiri.
.
.
.
3 bulan berselang Reyna memandang puas setelah selesai membongkar dan menata barang-barangnya. Rumah petak kecil berhasil ia miliki dengan uang muka rendah meski harus mencairkan deposito peninggalan dari mendiang orangtuanya.
Rumah terasa kosong, masih banyak perabot yang harus Reyna beli untuk membuat rumah ini hidup. Uang tabungannya hanya cukup membeli beberapa perabot penting, selebihnya ia sisakan untuk keperluan mendadak.Terletak tak jauh dari lokasi kerjanya agar siang hari ia bisa sesekali pulang.
.
.
.
Sejak kepindahannya Reyna jadi jarang bertemu Bram, keduanya hanya bertemu di konveksi saat Bram memang ada keperluan atau memang mencari-cari keperluan hanya untuk bertemu dengannya.
Seperti hari ini, pria itu sudah duduk dimeja kerjanya bermain ponsel saat ia baru saja menginjakkan kaki ditempat kerja.
"Ada perlu apa Pak Bram?" sapa Reyna sopan, ia memang lebih senang menjaga jarak saat berada di lokasi kerja meskipun banyak rekan kerja yang mulai menggunjingkan mereka.
"Aku minta data untuk buyer A dan B"
"Bisa minta saya via email, tak perlu kemari" sahut Reyna datar dan menyalakan komputernya.
Bram berdiri memasukkan ponsel ke sakunya, tangannya bertopang di tepi meja memandang wanita itu dari atas
"Ehm.. biar praktis, daripada back and forth kalau ada revisi" jemarinya menarik selembar kertas dan mengambil pena lalu sibuk menulis sesuatu disana selagi menunggu Reyna menyelesaikan mencetak data yang ia minta.
"Ini Pak Bram, silahkan ke ruang meeting jika ingin mereview"
"Ehmm.. ya.. " Bram berlagak membolak balik tumpukan kertas itu "Sudah.. yang ini ya saya butuh feedback segera" sodornya mengembalikan kembali tumpukan kertas itu dan mengetuk-ngetuk halaman pertamanya.
"Eh.. " Reyna melongo mendengar Bram selesai mereview tak ada 3 menit. Matanya makin membelalak melihat coretan di lembar paling atas yang berhasil membuat pipinya bersemu merah.
"AKU RINDU BERAT. KAMU?? " tulisan itu dihiasi lambang hati bertebaran
.
.
.
Seringkali Bram juga menahannya lebih lama saat mereka harus bertemu karena pekerjaan di butik. Semua cara dilakukan Bram termasuk menyambangi rumah Reyna sepulang kerja dengan alasan bertemu Dewa.
Tok tok tok
Deru mobil terdengar sebelum pintu rumah Reyna diketuk. Malas Reyna melirik jam dinding diruang tengah yang sudah menunjukkan pukul 9malam.
"Mas Bram mau apa malam-malam kesini?" sungutnya
"Aku kangen Dewa" langkahnya terhenti saat Reyna mengendus-endus tubuhnya lalu merentangkan tangan menahannya masuk
__ADS_1
"Dewa sudah tidur. Mas pulang saja.. "
"Sebentar.. "
Gelengan itu menciutkan nyali pria itu
"Setidaknya tawari aku minum"
Hembusan napas berat terdengar
"Oke, tapi duduk diteras saja" pria itu menurut dan mengambil duduk di kursi teras
---
"Mas Bram baru pulang jam segini? "
"Pulang meeting"
"Bohong.. "
Bram mengambil sebatang rokok dan menyulutnya
"Belum puas juga merokok, bajumu sudah mirip asbak" tukas Reyna sengit
"Janji sebatang lagi hari ini" kepulan asap itu menerpa wajah Reyna membuatnya terbatuk "Sungguh kau tak ijinkan aku masuk, cium Dewa"
"Tidak! Mas Bram minum dimana? "
"Arghhh.. aku cuma minum sedikit! Masih ketahuan juga" pria itu merengut "Rumah sepi Rey sejak kau pindah, seperti ada yang hilang"
"Itu bukan alasan buat Mas minum-minum lagi. Pulanglah sudah malam, lain kali tak kuijinkan kemari jika mas minum lagi" Reyna bangkit lalu menutup pintu rumahnya rapat.
.
.
.
Sore hari saat baru tiba dirumah dan memarkirkan motornya, deru mobil yang ia hapal suaranya berhenti didepan pagar rumahnya.
Bram turun disusul dengan Bianca, gadis itu segera menghambur memeluknya.Bianca berkeliling melihat-lihat selagi Reyna menyiapkan minuman di dapur dan juga makanan ringan untuk Dewa.
"Tumben pulang, jangan bilang karena ingin lihat rumah aku yang baru" canda Reyna
Dia mengulurkan tangan hendak mengambil Dewa dari gendongan Bram.
"Biar aku saja yang suapin" tawar Bram "Kalian ngobrol saja dulu"
"Ahhh...kalian bikin aku baper, kenapa sih nggak buruan nikah" seru Bianca
"Aku sih mau banget, sudah ngebet malah. Reyna itu yang gantungin tidak jelas" Bram tergelak lalu pergi ke teras
"Udahhh.. terima saja Mas Bram, kurang apa sih dia Rey" desak Bianca
"Nikah itu nggak gampang Bi..apalagi saat perasaan kamu masih abu-abu" terang Reyna
__ADS_1
"Aku mau nikah Rey" cuit Bianca
"Ehh... oh ya?" Reyna terkejut "Sejak kapan, siapa?"
"Kami kenal belum lama, tiba-tiba saja diajak nikah, yah sudah jodoh mungkin. Masih lama tapi.. nunggu S2 kelar dulu. Setahun lagi mungkin. Aku pulang minta restu mama"
Reyna memeluk Bianca gemas
"Maaf ya, sepertinya aku terlalu sibuk dengan hidupku. Sampai-sampai aku tak tahu sahabatku ini bertemu belahan jiwa"
"Besok minggu kamu ikut ya, rencananya ada temu keluarga di resto. Kamu kan juga keluarga aku"
"Ahhh nggak usah deh Bi, nanti kalau Dewa rewel ganggu acaramu gimana"
"Dewa sama baby sitter aja. Cuma bentar kok Rey, cuma makan siang. Please ya ikut" bujuknya
.
.
.
Hari Minggu tiba, Reyna duduk dikursi penumpang mobil Bram. Dia terpaksa meninggalkan Dewa karena lokasinya yang cukup jauh dan tak ingin Dewa kelelahan dan rewel sesampainya disana.
Sesampainya dilokasi mereka telah dinanti oleh pihak keluarga kekasih Bianca, dari perbincangan yang Reyna dengar calon suami Bianca bekerja dibidang otomatif. Tak butuh waktu lama untuk Bram bisa berbincang akrab dengan calon Bianca itu.
"Nak Reyna nanti ikut menginap?" tanya calon ibu mertua Bianca
Reyna hanya diam dan menatap bingung pada Bianca
"Oh tidak Bu, nanti Reyna pulang bersama saya" sahut Bram lantang
Menginap , hei kenapa tak ada yang membahas masalah ini. Dia lirik Bianca yang sedang tersenyum simpul, berganti memandang Bram yang menutup bibir menahan tawa. Ah sial Reyna merasa dijebak, pasti mereka merencanakan sesuatu.
Bram tersenyum-senyum sepanjang perjalanan pulang, akal-akalannya dengan Bianca sukses membuat wanita disampingnya cemberut.
Reyna hanya menjawab sepatah dua patah kata saja untuk semua pertanyaan Bram, ia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Efek dari perutnya yang kekenyangan membuat kantuknya tak tertahankan.
Mata Reyna mengerjab pelan saat pipinya terasa hangat karena paparan sinar matahari senja menerobos jendela mobil. Sesaat Reyna tersadar bahwa mobilnya berhenti dan Bram tak ada di kursi pengemudi.
Dia buka pintu mobil yang terparkir di tepi jalan cukup mendaki, sosok Bram ia lihat sedang berdiri bersandar disebuah batu besar menikmati kepulan asap putih dari sebatang rokok yang terselip di bibirnya.
Senyumnya tersungging saat Reyna berjalan mendekat ke arahnya, buru-buru ia lempar puntung rokok dan diinjaknya.
"Ibu Ratu sudah bangun" ejeknya "Sini!"
Bram berjalan memutari batu besar itu , Reyna hanya mengekor dibelakangnya.
Nampak pemandangan bukit kecil dengan langit jingga temaram, burung-burung kecil terbang hendak kembali pulang ke sarang.
"Cantik.." gumam Reyna sambil kedua tangan terlipat di depan
Bram berbalik menatap Reyna "Lebih cantik kamu Rey"
Ditariknya pelan tangan kiri Reyna untuk digenggamnya, tangan kanannya merogoh sesuatu dari saku celananya. Kilauan dari benda itu berhasil membuat mata Reyna membelalak terkejut.
__ADS_1
"Mas.. aku..."
"Aku hanya ingin kau memakainya di jari manis kirimu. Aku tunggu sampai nanti kau siap untuk memakai di jari manis kananmu" bisik Bram pelan penuh pengharapan