
Reyna menggerakkan badan, punggungnya terasa dingin diterpa hembusan AC di bilik kamarnya. Tangannya meraba-raba sekitar hendak menggapai selimut dan menariknya menutup tubuhnya dan bergelung kembali beberapa menit hingga nyawa terkumpul sempurna seperti biasanya.
Bukan benda halus lembut dan menghangatkan yang ia gapai melainkan kulit polos dingin dan berbulu lembut... ehhhh berbulu..???
Reyna membuka matanya lebar-lebar sedetik kemudian, tangannya sedang meraba-raba dada polos Bimo yang tidur dengan posisi terlentang. Kepalanya tidur beralaskan bantal sofa yang semalam menjadi barikade ditengah ranjang, hanya satu .. sisanya entah.
Reyna mendongak dan mendapati Bimo sedang menunduk kebawah menatapnya dengan senyum jahil tersungging disudut bibirnya, kedua tangannya terlipat dibawah kepalanya. Reyna menarik tubuhnya menjauh spontan dan ehhh apa ini, kaki kiri Reyna terdampar manja di atas paha Bimo, melintang bebas diatas paha pria itu layaknya guling.
Arghh sudah berapa lama Bimo terbangun mendapati posisinya yang tidak sopan ini. Buru-buru Reyna menarik kaki dari atas paha Bimo.
"Auuchh.. pelan Reyna, sakit!" Bimo merintih saat kaki Reyna menyenggol "batangnya" yang bangun pagi hari.
"Ehh maaf Kak" Reyna makin salah tingkah "Kak Bimo kok nggak bangunin aku" Reyna terduduk merapikan piyamanya lalu menyisir rambut dengan jemarinya. Jarinya sibuk menghapus kotoran disudut matanya, merentangkan dua tangannya menggeliat. Dua tangannya menutup bibirnya yang menguap berkali-kali.
"Mimpi apa aku semalam tidur dipeluk bidadari" Bimo terkekeh geli dan duduk menjajari Reyna
Reyna mengambil bantal sofa dan menutup area sensitif Bimo yang mengganggu pandangannya. Pergelangan tangannya ditahan Bimo saat hendak turun dari ranjang.
"Ayo mandi.. katanya berangkat pagi" Reyna menghardik pelan.
__ADS_1
"Sebentar lagi Rey, lagian masih kepagian kok" Bimo mengubah posisi tubuhnya menyamping, melingkarkan tangannya ke perut Reyna.
"Aku tidak kebagian tempat diranjang Dewa, trus selimutku Kak Bimo tindih, susah aku ambilnya..Jadinya aku ikut tidur disini. Tadinya aku taruh bantal-bantal ditengah tapi..ahh tau ah" terang Reyna sambil bersungut-sungut
"Ohhh... begitu" Bimo tak mempedulikan penjelasan Reyna, ia makin menggeser tubuhnya mengikis jarak tubuhnya dengan Reyna , menggesekan hidungnya pelan ke lengan wanita itu.
"Geli ah Kakk.. " Reyna mendorong kening Bimo dan berusaha melepaskan tangan pria itu dari perutnya. Ia pungut bantal-bantal sofa yang bertebaran dilantai, melipat selimut yang terjatuh kebawah ranjang. Melongo keheranan melihat tingkah Bimo yang absurd, berguling guling diranjang memeluk bantalnya dan menciuminya.
.
.
.
Menyesap kopi pahit perlahan, melirik Reyna yang cekatan menata rebusan mix vegetables dipiring yang telah berisi potongan dada ayam dan saus steak.
"Sarapan" Reyna meletakkan piring itu dan menepuk pundak Bimo
"Temani dulu" Bimo menggeser kursi di sebelahnya
__ADS_1
"Aku mau bangunkan Dewa"
"Nanti saja.. " Bimo menepuk kursi disampingnya
Reyna duduk dan menyesap kopi milik Bimo,sekali dua kali tiga kali, ia melirik pria yang masih tenang menikmati sarapannya.
"Kak Bimo kok nggak ngomel aku gangguin kopinya?"
Bimo menggeleng "Malah senang, kalau habis nanti kau bikin lagi. Aku bisa lebih lama disini, waktuku bersamamu dan Dewa itu berharga Reyna"
"Gombal" sahut Reyna sambil memukul pelan lengan Bimo.
"Survey membuktikan wanita lebih suka gombalan daripada berlian"
"Iya betul sekali survey nya.. Tapi itu survey untuk anak ABG. Kalau saya suka berlian"
"Aku kasih tapi dalam bentuk cincin kawin. Mau?! "
Diam pilihan akhir Reyna, dia tak akan menang berdebat dengan pria didepannya.
__ADS_1