
Sudah 2 pekan ini Reyna kesulitan menghubungi Bram. Jawaban pendek ia dapat dari semua pesan yang ia kirim, alasan sibuk atau capek menjadi jawaban di tiap panggilannya. Seperti pagi ini saat ia baru saja sampai di tempat kerja, Bram tidak membalas pesannya dari semalam bahkan tidak menjawab panggilannya.
"Reyna..! " panggilan pria dari ruang manager produksi membuatnya bergerak cepat memasuki ruangan itu
"Ya Pak"
"Hari ini minta bisa bantu saya follow up ke butik, karena saya harus memimpin meeting mendadak. Ada beberapa berkas yang saya butuhkan dari sana"
Permintaan itu disambut Reyna dengan senyum lebar , kesempatan ke butik aku mau tanya soal Bram ke Bianca
Reyna meluncur ke butik dengan supir perusahaan. Setelah ia dapat berkas-berkas yang diminta, Reyna melangkah menuju ruangan Bianca yang dulu adalah ruangan Bram.
sepi
Reyna celingak celinguk heran, ia panggil nomor Bianca dari ponselnya tapi tidak ada jawaban. Reyna beralih menuju ruang Linda, belum juga langkahnya sampai dipintu ruangan besar itu ada suara memanggilnya.
"Mbak Reyna... " sekretaris Linda berdiri dibelakanganya
"Bu Linda nggak ada diruangan Mbak, beliau ke Singapura"
"Oh.. " Reyna menjawab dengan kecewa dan berbalik berniat pulang.
__ADS_1
"Mbak Reyna... " lagi-lagi ada yang memanggil menahan langkahnya, kali ini assisten Bianca
"Mbak Reyna..bisa sekalian titip untuk bawain barang-barang Pak Bram bisa? Kemarin Bu Bianca menyuruh saya merapikan barang-barang yang belum sempat dibawa. Tapi karena Bu Bianca tidak tinggal lagi serumah dengan Pak Bram saya bingung kasih kesiapa. Nggak mungkin kan saya kasih ke Bu Linda"
Reyna mengangguk pelan, tak lama gadis itu datang membawa kardus dan menyerahkan pada Reyna.
.
.
.
Reyna mengetuk-ngetuk meja kerjanya, dia tak bisa berkonsentrasi saat ini. Pikirannya tak jauh dari sikap Bram yang lain dari yang lain. Tak pernah lelaki itu mengacuhkannya selama ini.
Nama Bianca terpampang dilayar ponsel., Reyna bergegas mengangkat panggilan itu
"Halo Bi... kamu kemana aja tadi.. " serunya
"Ehhh sorry.. aku tadi ke rumah sakit"
"Kamu sakit Bi? "
__ADS_1
"Enggak.. justru aku lagi dibikin happy nih" nada Bianca bersorak di ujung sana "Doain ya bentar lagi Dewa punya teman main"
"Aishhh.. aku mau punya keponakan Bi?? " jawabnya tak kalah senang.
"Iya nih. Suami aku tokcer... " Bianca tergelak disana
"Eh oh iya Bi.. bisa minta nomor suamimu? Aku cuma mau pastikan Mas Bram baik-baik aja"
"Loh. Emang kenapa Rey? "
"Ehmm.. aku agak kesulitan menghubungi Mas Bram. Apa akhir-akhir ini kamu bertemu sama dia? "
"Ehh..Nggak tuh Rey, aku sudah lama nggak kerumah Mama"
"Oh.. " jawab Reyna pendek
"Oke deh nanti aku kirim kontaknya. Kamu jangan khawatir kaya gitu deh. Palingan juga sibuk kerja, soalnya suamiku sudah 2 mingguan ini pulangnya juga malam-malam. Ya udah ya Byee.. "
Bianca langsung mengirimkan kontak suaminya sesaat setelah panggilan berakhir, Reynapun langsung menghubungi nomor itu.
Reyna masih harus bersabar ketika dia juga tidak mendapatkan jawaban melegakan. Suami Bianca mengatakan bahwa Bram tidak sedang ditempat dan membenarkan bahwa akhir-akhir ini mereka sibuk di outlet.
__ADS_1
Reyna memandang berkas-berkas pekerjaan dimejanya dengan malas. Tangannya memainkan kursor laptop tanpa arah. Diantara tumpukan kertas terdapat banyak brosur gaun pengantin, catering dan beberapa print out hasil browsing villa dan semacamnya.
Reyna mengambil ponselnya dan mengetik pesan "I miss you.. ❤" lalu ia kirimkan ke nomor Bram, bertopang dagu mematung berharap ada balasan dari pesan itu.