Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
134. Bodoh! (part2)


__ADS_3

Bimo hanya terdiam di sisi ranjang, menatap istrinya yang tak henti meneteskan buliran bening dari kedua matanya. Dadanya sesak seakan aliran oksigen diruangan itu enggan menyapa kedua paru-parunya.


"Dokter sudah datang?" tanyanya kemudian


Reyna menggeleng, memejam kembali saat perut bawahnya kembali berkontraksi.


"Kak... bantu aku kekamar mandi" kakinya menjulur kebawah, Bimo menggenggam erat jemarinya memapah ke kamar mandi


Syurrrr....


Kali ini Reyna merasakan gumpalan keluar melalui alat vitalnya, ia berdiri menatap gumpalan merah di closet. Mengelap darah yang mengotori paha dalamnya, menekan tombol flash sembari merasakan sakit menjalar direlung hati melihat gumpalan itu berputar hilang di pusaran air.


Ditutupnya cover closet dan terduduk diam, memaki kebodohannya yang selama ini tak menyadari telah hadirnya bakal nyawa di rahimnya.


Tok Tok Tok


"Rey.. buka" suara Bimo terdengar dibalik pintu


"Reyna.... " panggilnya lagi


Matanya menatap daun pintu seakan bisa melihat sosok suaminya berdiri disana. Tangisnya kembali pecah saat ia membayangkan raut kekecewaan dan kemarahan terpendam di muka Bimo. Bersalah, menyesal, bingung dan segala hal campur aduk dalam benaknya.


"Buka Rey... " gedoran halus menggoncangkan daun pintu


"Ibu....buka pintunya" kali ini pasti suara suster


ceklek


"Jangan kemana-mana dulu ibu, tetaplah diranjang" suster itu menarik tangan Reyna pelan memapahnya kembali naik ke ranjang


"Dokternya sudah ada sus?"


"Masih menangani operasi, tunggu sebentar lagi"


Suster berlalu setelah mengecek kondisi pendarahan Reyna


"Boleh masuk?" suara pria terdengar di pintu luar, nampak Pras berdiri dipintu masuk. Lengan kemeja ia gulung hingga siku, celana kerja abu gelapnya ternoda dengan bercak darah yang telah mengering


Bimo mengangguk pelan


"Aku permisi pulang dulu Rey, Sisil akan membereskan barang-barangmu yang masih dikantor. Nanti akan aku antarkan ke rumah Pak Alex"


Wanita itu hanya mengangguk, tak perlu susah payah menjabarkan lagi maksud dari perkataan Pras


"Terimakasih banyak Pras"

__ADS_1


---


"Kenapa kau tak bilang kau hamil Rey?"


"Aku tidak tahu aku hamil Kak?" pelupuk matanya kembali menghangat


"Sudahlah.. jangan menangis lagi"


"Aku bodoh Kak, maaf.. "


"Nggak ada yang perlu dimaafkan. Kita tunggu dokter saja ya, siapa tahu masih ada harapan" Bimo menghibur dan mengelus punggung Reyna


"Nggak mungkin Kak" Reyna menggeleng dalam isak tangisnya


.


.


.


"Bagaimana Dok?" tanya Bimo setelah melihat Reyna turun dari ranjang periksa


Dokter itu menghela napas sambil mengarahkan laser pointer kelayar diatasnya


Bimo mendesah pelan


"Mau tak mau harus kita ambil tindakan kuretase atau pembersihan sisa jaringan dari rahim untuk memastikan tidak ada masalah kedepannya" dokter itu hanya bisa menatap dua wajah didepannya dengan ekspresi kecewa


.


.


.


"Kak Bimo pulang saja. Istirahat" Reyna mengelus punggung tangan suaminya "Dari tadi juga belum makan"


"Iya aku makan, nunggu Mbok Nah sampe sini dulu gantian jaga"


"Makan sekarang saja, aku nggak apa-apa sendiri"


aku tak bisa melihat kekecewaan di wajahmu Kak, hatiku sakit bagai terkoyak!


"Tak apa, nanti saja"


---

__ADS_1


"Mbok Nah pulang saja, sudah malam" ucap Bimo selepas ia makan malam dan membersihkan dirinya


"Kak Bimo saja yang pulang, biar Mbok Nah disini" pinta Reyna


"Jangan, kasihan Mbok Nah. Aku takut besok kesiangan dan tak bisa menemanimu"


"Nggak apa-apa kok Mas Bimo, biar simbok saja yang jagain Mbak Rey"


Bimo menatap wanita paruh baya itu tajam


"Ehm.. iya iya Mbok Nah pulang" wanita itu beranjak dan mengambil kantong plastik isi baju kotor dan selimut


"Mas Bimo dan Mbak Reyna yang sabar, adiknya cuma belum mau dimomong"


Bimo mengambil duduk disisi ranjang menatap Reyna


"Kak... jangan lihatin Rey kaya gitu"


"Kenapa?" Bimo mencoba tersenyum meskipun dipaksakan


"Aku merasa bersalah, seandainya saja... "


"Sssttt, sudah jangan dibahas. Benar kata Mbok Nah, dia belum mau jadi anak kita"


Mata Reyna berkaca-kaca, seandainya dia tidak bekerja bisa jadi saat ini janin itu masih hidup.


.


.


.


Reyna sudah diperbolehkan pulang beberapa jam setelah tindakan kuretase dilaksanakan pagi hari. Bimo mengantarkan pulang dan meminta ijin untuk pergi ke kantor.


"Mama tidur dimana tadi malam?" tanya Dewa yang menyambut kepulangannya dengan senang


Reyna menatap Alex yang menggelengkan kepala


"Ehmm.. maaf Mama selesaikan pekerjaan Mama. Soalnya Mama sudah nggak kerja lagi sekarang" Reyna memeluk anak kecilnya


"Hore......... " si kecil Dewa melompat-lompat kegirangan


"Kami tidak beritahu Dewa soal ini" Alex berbisik dan memegang bahunya "Istirahatlah"


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!

__ADS_1


__ADS_2