Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
121. Original


__ADS_3

Pagi masih teramat pagi saat Reyna terbangun, geliat tubuhnya mengendurkan semua otot yang terasa kaku. Outbond seharian ditambah aktivitas malamnya membuat tubuhnya terasa remuk redam. Dipandangi pria yang tertidur pulas diseberang ranjang, memeluk tubuh anaknya dengan dengkuran teratur.


Berjinjit turun perlahan dan menuju lantai bawah rumah Alex. Mencuci muka sekenanya dikamar mandi tamu dan berjalan menuju dapur.


"Pagi Mbak Rey" sapa Mbok Nah sang assisten rumah tangga


"Pagi Mbok, masak apa?" Reyna mengikat rambut bergelombangnya keatas dan bersiap membantu


"Masak sop daging kesukaannya Mas Bimo, ehhh Mbak Rey nggak usah bantuin. Mandi saja atau bangunin Mas Bimo"


"Nggak apa-apa Mbok" sengaja aku kesini biar Bimo nggak bangun, bisa bahaya! Pria itu kalau pagi kan bangunnya satu paket sama Si Ontong.


"Mbak Rey kapan pindah sini?"


"3 bulan lagi Mbok, menunggu akhir tahun masa sekolah Dewa"


"Simbok sudah nggak sabar nunggu rumah ini ramai anak kecil"


Satu jam berlalu dan makanan sudah siap dihidangkan, Reyna beranjak naik kembali ke kamarnya. Terdengar gemericik air dari kamar mandi, rupanya Bimo sudah terbangun lebih dulu sedangkan Dewa masih meringkuk pulas. Diambilnya setelan kerja untuk Bimo tak lupa kaos kaki berikut boxer yang rata-rata berwarna gelap.


"Eh dari mana Rey?"


"Bantuin Mbok Nah masak"


"Belum mandi?"


"Belum"


"Yah... " nampak raut kecewa dari wajah Bimo "Tahu gitu tadi aku tunggu" tangannya mulai usil meraba bagian belakang Reyna


"Semalam kan sudah cukup stocknya" Reyna menjawil hidung Bimo, menyodorkan boxer, membantu mengancingkan kemeja sertamemasang dasi.


"Yap, siap! Kak Bimo mau turun dulu?" tanya Reyna menepuk dada suaminya pelan


"Ehmmm.. ya. Aku ke ruang kerja sebentar mengechek email masuk"


"Bangunkan Dewa ya, aku mandi dulu"


.


.


.


"Pagi Om" sapa Reyna saat dirinya menuruni tangga bersama Dewa. Keduanya sudah rapi, Dewa mengenakan baju kasual karena masih ijin dari sekolah dan dirinya mengenakan busana kerja.


"Bimo mana?" Alex menurunkan koran yang ia baca


"Masih diruang kerja mungkin" Reyna menuju salah satu kamar tamu disulap menjadi ruang kerja menggantikan ruang kerja di lantai atas yang kini menjadi kamar anaknya.


"Kak.. " Reyna mengetuk pintu lalu masuk, dilihatnya Bimo berkutat dengan laptop didepannya "Yuk sarapan, mau aku siapkan kopi?"


Pria itu melepas kacamata bacanya "Sini dulu" tangannya melambai meminta Reyna mendekat dan duduk dipahanya


Kecupan kecil dan pelukan erat melingkar di perut wanita yang baru saja diperistri. Menenggelamkan kepalanya didada dan menguyel-uyel manja.


"Takut kangen.. " rajuknya seperti anak kecil


.


.


.


"Hati-hati dijalan Rey, jangan ngebut" pesan Bimo sebelum dirinya melajukan mobilnya keluar dari pelataran rumah Alex "Kasih kabar begitu sampai disana" lanjutnya


"Iya Kak.. saya permisi Om. Dua minggu lagi saya kemari" Reyna memeluk hangat Alex lalu masuk ke kursi kemudi di mobil baru kado pernikahan dari keluarganya.


.

__ADS_1


.


.


Tempat Kerja Reyna


"Mbak... Mbak Reyna.. " goyangan pelan dilengannya membangunkan tidur siangnya


"Ah... " mata Reyna mengerjab


"Maaf Lia bangunkan, sudah hampir kelar istirahatnya. Mbak Rey juga belum makan siang kan"


"Ehmp.. " Reyna menyandarkan punggungnya "10 menit lagi" gumamnya


Dibuka laci mejanya mengambil satu cup mie instan lalu berjalan menuju pantry. Memainkan ponsel selagi menunggu makan siang instannya siap. Beberapa misacall dan pesan dari Bimo masuk.


"Kemana saja istriku?" gusar suara pria diujung sana


"Tidur aku Kak, capek"


"Sudah makan?"


"Ini baru mau makan mie cup"


"Makanan nggak sehat!" Bimo mendengus


"Udah mepet mau masuk jam kerja lagi"


"Jangan racuni calon adik cantik Dewa dengan mie rendeman" omelnya sebal


Reyna tergelak "Iya iya Kak, kamu sama Dewa yang dibahas adik cantik melulu"


"Apa mau bahas cara bikinnya?"


Duh merinding kalau sudah dengar Bimo bercicit mesum "Sudah ah, keburu teng nanti. Muach"


.


.


.


"Eh sudah Mbak, tadi pagi sudah masuk HR. Tapi saya harus tunggu pengganti posisi saya Mbak. Mbak Rey masih lama kan ya disini"


"3 bulan lagi Lia"


"Cepet amat! Apa cukup buat serah terima kerjaan Mbak Rey semuanya?" keluh gadis itu


"Cukup banget, ayo semangat. Ini demi karir kamu juga kan"


"Mbak Rey cari kerja lagi?"


"Ehm.. belum kepikiran Lia. Masih dibicarakan"


"Sayang lho Mbak kalau karirnya berhenti. Mbak Reyna potential untuk perusahaan besar"


Reyna hanya termangu memikirkan kata-kata Lia.


.


.


.


Long Distance Relationship, sulit untuk pasangan suami istri apalagi untuk yang baru menikah seperti dirinya. Membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Reyna bagaikan punya 2 bayi di weekend seperti sekarang, Dewa dan Bimo berebut perhatiannya.


"Dewa tidur siang sana" Bimo mendorong Dewa menjauhi Reyna


"Nggak mau, Dewa nggak ngantuk" Dewa kembali melesak ke dada Reyna dan bergelayut manja

__ADS_1


"Dari pagi kamu sudah kuasai Mama, giliran ayah sekarang" Bimo ikut-ikutan mendesak didada istrinya


"Sudah sudah.. aduh tubuh Mama sakit semua" Reyna menjauhkan wajah Bimo dan menaruh di pahanya


"Kirain Kak Bimo datang semalam" mengusap kepala pria itu


"Aku capek Rey, ketiduran sampai pagi. Sial...! " rutuknya


"Dewa bobo siang yuk. Mama ngantuk" bujuk Reyna, bayi besarnya lebih butuh perhatiannya saat ini


"Nggak mau Mamaaaa" bocah kecil itu merengut marah


"Kita ajak ke play land saja bikin dia capek nanti juga tidur" bisik Bimo, Reyna mengedipkan mata tanda setuju


.


.


.


Reyna melihat deretan barang pajangan didisplay minimarket selagi menunggu petugas kasir menghitung total belanjaan. Ketiganya mampir membeli beberapa keperluan selesai dari play land. Dewa masih berlarian melihat mainan diikuti Bimo.


"Sudah selesai Rey?" tepukan Bimo mengagetkannya, mengalihkan pandangan dari benda yang sedari tadi mencuri perhatiannya.


"Ehmm.. sudah. Tinggal bayar, Dewa beli mainan lagi" Reyna melirik Bimo yang menyodorkan kardus berisi mainan


"Iya, tak apalah asal anak itu janji tidur siang" Bimo menjawab pasrah, meraih benda didepan Reyna dan menyodorkan ke arah kasir "Sama ini mbak" pintanya santai sambil melirik penuh arti ke arah Reyna


---


"Ih.. Kak Bimo bikin aku malu tadi" bisik Reyna sambil naik keranjang setelah berhasil menidurkan Dewa dikamarnya


"Kamu penasaran" tanya Bimo mengeluarkan sebuah benda itu dari kotaknya


"He em" Reyna menunduk


"Kenapa tak kau ambil sendiri"


"Malu lah!" melengos sebal


"Reyna, kita ini kan sudah suami istri. Tak perlu malu-malu lagi"


"Aku malu ama kasirnya kalau sampai beli barang itu"


"Jadi sama aku nggak malu nih" Bimo menggoyang-goyangkan benda kecil ditangannya itu dan mencium ceruk leher istrinya seduktif memulai aktivitas yang sudah ia impikan 5 hari terakhir.


"Ayo pasang" Bimo menyelipkan benda itu ke telapak tangan Reyna saat Si Ontong telah siap untuk menerjang


"Kak Bimo saja"


"Biar nggak bikin penasaran lagi"


Reyna bersimpuh didekat kaki Bimo, meraba pembungkus luar benda yang berbentuk seperti cincin. Membuka dan memandang isinya, bau khas seperti permen karet menyeruak hidung. Memegang dengan jijik benda licin yang kini ia genggam ditangannya.


"Gini nih caranya" Bimo mengulurkan tangan memandu Reyna untuk memasangnya dengan benar


"Ihh.. " Reyna menarik tangannya, meskipun sudah beberapa kali tubuhnya dimasuki Si Ontong tapi baru itu ia memandang dan memegang benda tegak didepannya yang sekarang sudah bersarung rapi dengan benda tipis bergerigi.


"Siap?" Bimo mengambil aba-aba untuk memasuki tubuh istrinya


"Ahhh.. " Reyna mendesah pelan, sensasi aneh dirasakan dipangkal pahanya. Mula-mula nikmat tapi lama kelamaaan membuat tak nyaman.


"Kak... acchhh" menahan hentakan Bimo dengan telapak tangannya, pelan melepas tautan dari tubuh pria itu


"Kok dilepas?" Bimo keheranan saat Reyna menarik benda tipis dari Si Ontong


"Panas...enak yang original" cetusnya cuek


Bimo hanya tersenyum simpul, sama, aku juga, nggak ada rasa! kurang gereget!

__ADS_1


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!


__ADS_2