
Tak banyak yang terjadi dalam 5 bulan kedepan, hubungan Reyna dengan Bimo makin menghangat dari hari ke hari. Kesibukan Bimo makin mengikis waktunya bersama anak dan wanita yang diyakininya sebagai calon istrinya, kunjungan tiap akhir pekan berubah kunjungan tiap 2 pekan. Tak jarang Reyna lebih sering mengalah untuk menyambangi kediaman Om Alex di akhir pekan seperti sekarang ini.
''Kak...'' Reyna menyodorkan sepucuk surat sesaat mereka menuntaskan makan malam
-Undangan Parenting dari sekolah Dewa-
''It's weekday! I know you can't join with me but no problem'' Reyna menyentuh lengan pria yang mendengus disampingnya
''Maaf Rey, aku belum bisa menjadi ayah yang sempurna untuk Dewa'' Bimo menggenggam tangan Reyna ''Jarak benar-benar membuatku tak bisa berbuat lebih. Kesibukan dan kelelahan menderaku di pertengahan dan akhir bulan disaat banyak permintaan untuk proyek''
''Tak apa, aku mengerti Kak. Oh ya bisa jadi kita juga akan jarang bertemu 3 bulan kedepan. Ini minggu terakhir untuk Bianca sebelum cuti hamil dan pastinya aku akan sibuk wara-wiri di dua tempat. Bisa jadi aku ada janji temu juga di akhir pekan'' keluh Reyna
''Reyna, apakah kau sudah bicarakan dengan Bianca? Aku yakin posisimu cukup diperhitungkan, kau harus siapkan calon penggantimu segera''
Ditenggelamkan wajahnya di dua telapak tangan ''Iya nanti akan aku bicarakan setelah Bianca melahirkan saja'' Reyna menjawab malas
''Reyna,,jangan bilang kau masih akan bertahan tinggal dikota itu'' Bimo menyentak lengannya
''Tidak eh,,maksudku entahlah. Jujur aku masih belum bisa memutuskan apapun saat ini'' Reyna melepas ikat rambutnya kepalanya yang terlalu ketat ia rasa kepalanya makin pening tiap mendengar desakan Bimo
''Ikut aku!'' Bimo berdiri dan menarik paksa tangan Reyna
''Kemana?'' malas wanita itu ''Aku capek baru tadi sore datang dan sekarang kau suruh pergi lagi''
''Ikut saja!''
Diseretnya langkah Reyna paksa keluar rumah, melewati Alex yang sedang menemani Dewa bermain
''Om,,aku ajak Reyna keluar sebentar saja, aku janji tidak akan macam-macam. Bye Dewa ayah pergi dengan Mama sebentar ya. Nanti ayah belikan es krim'' Bimo berbicara cepat tanpa jeda tanpa meminta persetujuan Om Alex yang hanya menggeleng pelan
Mobil Bimo memasuki pelataran gedung bertingkat dengan ratusan unit blok-blok hunian, tak melepas tangan Reyna dari genggamannya sejak turun diarea parkir basement hingga saat ini keduanya berada di depan pintu.
''Pass key-nya tanggal ulang tahun Dewa'' bisik Bimo meminta Reyna yang membuka pintu didepan mereka
Ruang kosong yang belum selesai penggarapan untuk interiornya nampak di retina Reyna saat lampu dinyalakan.
__ADS_1
''Punya siapa Kak?''
''Kamu, Dewa, Kita...'' bahu Bimo mengedik ''Harusnya ini untuk kejutan ulang tahunmu 2 bulan lagi, tapi sudahlah tak apa, aku harus cari ide untuk kado lainnya'' Bimo tertawa kecil
Ulang tahun? Ahh, kapan terakhir ada orang yang mengingat ulang tahunnya? Dia sendiri saja tak peduli dengan ulang tahunnya. It's just about number
Tapi Bimo, lelaki ini malah menyiapkan kado yang tak terduga seperti ini
Reyna berhenti di jendela tanpa tirai memandang semua hal yang menjadi kecil dibawah sana ''Terimakasih Kak..meskipun nggak jadi seru" cicitnya pura-pura sedih ''Tapi untuk apa nantinya apartement ini?''
Bimo merangkul pundak Reyna ''Aku hanya ingin kamu mempunyai hunian nyaman ketika kau memutuskan untuk siap pindah kekota ini Rey''
Isi kepala Reyna bekerja, maksudmu ini hunian kita setelah menikah? bukankah Om Alex tidak akan mengijinkan mereka bertiga berumah sendiri setelah menikah ehh sebentar atau mungkin yang dimaksud Bimo adalah aku tidak harus menjadi istrinya dulu saat aku sudah memutuskan pindah kemari.
''Kak,,, perkataannmu itu ambigu''
''Ah wanita, semua memang harus dijelaskan gamblang!'' Bimo membuka satu jendela dan terduduk dibingkainya ''Aku hanya ingin kau sesegera mungkin untuk pindah kemari, tak jadi soal buatku jika kau juga belum yakin untuk menjadi istriku''
''Jadi?''
''Jadi tinggallah kau disini hingga nanti kuboyong kau kerumah Om Alex'' Bimo menangkup wajah wanitanya itu
Buket bunga teronggok di meja kerja Reyna saat ia baru kembali menghadiri undangan parenting di sekolah Dewa. Ia buka amplop kecil yang menempel disana
''So sorry can't join with you today''
Reyna tersenyum simpul meski tak ada nama pengirimnya disana
''Mbak Rey'' Lia, rekan kerja yang duduk diseberangnya melongok ''Paketnya aku masukin frezeer, takut meleleh''
''Paket?Meleleh?''
''Iya,, tadi mas yang kirim bunga juga bawa satu karung es krim. Mbak Reyna wajib kasih aku persenan. Berat banget paketnya''
''Ya..'' Reyna menjawab santai dan mulai menyalakan laptopnya, fasilitas yang ia minta sejak merangkap pekerjaan Bianca. Langkah ia ayun ke pantry untuk mengambil air minum sekaligus menelisik frezeer yang membuat matanya terbelalak. Berbagai macam es krim semua jenis dan varian rasa berjubel memenuhi semua ruang freezer, heran membayangkan cara mas kurir membawa es krim sebanyak itu beserta buket bunga yang berukuran cukup besar.
__ADS_1
Ponselnya berdering saat baru saja terduduk dikursi kerjanya, senyumnya mengembang saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya
''Ya Kak''
''Jangan banyak-banyak makan es krimnya, aku tak kuat gendong kamu lagi kalau jadi gendut'' ledek Bimo di ujung sana
Reyna ikut tertawa "Siap, aku bagi kepenjuru kantor ya Kak". Spontan muka Lia kembali muncul dari biliknya mengangguk-angguk senang
''Up to you, ya sudah Rey, bye"
---
''Mbak Rey'' Lia masih berdiri mematung di seberang bilik
''Ya?''
"Aku senang lihat Mbak Rey bisa tertawa lagi''
''Ehm..'' Reyna hanya menganggukan kepalanya
Reyna termangu didepan layar laptopnya memikirkan perkataan gadis diseberang bilik mejanya. Sudut matanya menangkap buket bunga yang hampir memenuhi meja kerjanya, terbayang wajah pria yang beberapa bulan terakhir ini mengisi hari-harinya. Setia menunggunya bangkit dari kesedihan yang seolah tak berujung.
Lia adalah karyawati yang sempat diperbantukan oleh Bianca saat Reyna mengambil cuti hamil waktu itu. Tak ada salahnya jika kali ini ia meminta bantuannya juga kali ini. Cukup gesit dan tidak diragukan lagi kinerjanya.
''Lia'' panggilnya
''Ya Mbak''
''Selama Ibu Bianca cuti hamil, aku boleh minta bantuanmu untuk mengerjakan beberapa porsi dari pekerjaanku? "
''Oh boleh Mbak, yang dulu pernah saya handle kan?''
"Bukan" Reyna menggeleng "Porsi pekerjaanku lainnya, yang dulu dipegang Ibu Bianca saat aku cuti hamil, kamu tak keberatan kan belajar hal yang baru?"
Lia mengangguk-angguk senang.
__ADS_1