
Reyna bersiap dipagi hari untuk berangkat ke kantor, gerbang ia buka lebar untuk mengeluarkan motornya.
Kembali ia periksa isi tas sembari menunggu mesin motornya cukup panas.
"Reyna... " panggilan itu membuatnya menengok kebelakang.
Nampak pria paruh baya berjalan mendekat padanya sambil tersenyum.
"Pak Alex!!" demi Tuhan apa yang membuat mantan bos nya itu datang kemari menemuinya. Ah.. sudah pasti ini ulah Bimo.
Mobil hitam terparkir di depan rumah kosong disebelah rumah Reyna, nampak pria bersetelan rapi turun dari kursi depan penumpang dan menjajari langkah Pak Alex.
Reyna menyalami kedua pria tersebut
"Kau hendak berangkat?" tanya Pak Alex
"Ehmm iya Pak.. "
"Maaf mengganggu waktumu. Aku ingin menemui cucuku"
Cucu?? Ah ya untuk apa lagi beliau datang lemari jika bukan untuk bertemu putranya
"Ohh.. ah ya. Silahkan masuk" Reyna mematikan motornya dan mempersilahkan dua pria itu kedalam.
Tak lama Reyna keluar bersama Dewa yang menggigit biskuit cemilannya.
Alex menghampiri Dewa dan berjongkok didepan anak kecil, Dewa mendongak melihat arah Reyna
"Ayo Dewa.. salim.. "
__ADS_1
"Ini Opa" Alex mengulurkan tangannya yang disambut tangan mungil itu dan ditempelkan ke pipi Dewa yang penuh remahan biskuit disana.
"Aish Reyna.. aku bagai kembali ke 30 tahun lalu saat Bimo seusianya" Alex mengamati Dewa dengan takjub.
Alex kembali duduk di kursi tamu, Reyna permisi hendak kebelakang tapi Alex mencegahnya
"Tak perlu repot-repot Reyna. Aku tak ingin menyita waktumu lebih lama" cetus Alex
Reyna kembali duduk
"Aku kemari bukan semata untuk menemui cucuku. Ehmm.. Bimo minta tolong padaku satu hal" mata Alex menjelajah tiap jengkal rumah mungil Reyna
"Hari ini aku minta kau ijin setengah hari. Bisa?" tanya Alex
"Ehmmmm..Pak Alex ada perlu apa?" Reyna nampak gelisah melirik jarum jam tangannya yang seakan bergerak makin cepat
"Bimo memintaku mengurus pembelian rumah kosong disebelahmu. Dia ingin mengatas namakan anaknya, tapi karena diantara kalian belum ada ikatan resmi.. emm jadi aku bawa notaris kemari untuk mengurus semua dokumennya karena kau adalah walinya"
"Ayolah Reyna.. kau tak kasihan denganku yang sudah tua ini. Aku hanya butuh tanda tanganmu saja" potong Alex cepat
shitt Bimo bisa-bisanya kau, rutuk Reyna
Tak lama kemudian Reyna sudah berada disebelah Alex dikursi penumpang belakang. Sebelumnya dia hubungi kantor untuk meminta ijin serta membawa semua berkas-berkas penting yang perlu ia bawa sesuai arahan notaris.
"Pak Alex sehat?"
Pria disampingnya itu mengangguk
"Aku hanya semakin menua dan rasanya tak sanggup untuk memimpin team besar lagi Reyna" terdengar napas panjang dari pria payuh baya itu "Maaf Reyna, saat ini aku masih membutuhkan Bimo sampai dia selesaikan proyek di luar pulau dahulu"
__ADS_1
"Eh.. tak masalah buat saya Pak Alex" Reyna menggeleng enggan
"Aku sudah mengajukan kandidat pengganti Bimo disana secepatnya toh lambat laun Bimo akan menggantikan posisiku disini. Tapi itu semua butuh waktu Reyna. Kumohon bersabarlah sebentar lagi"
Alis Reyna tertarik ketengah dahi heran, mengapa ia harus bersabar
"Bimo tak mendesakku untuk segera bisa berkumpul bersamamu, tapi aku bisa membacanya itu dari semua gerak tubuhnya. Anakmu butuh sosok Bapak. Jangan sampai dia alami seperti yang Bimo alami dimasa kecilnya"
Ahhh..kira-kira apakah Bimo bercerita soal Bram juga. Reyna melirik Alex berharap cemas pria itu melanjutkan kata-katanya, tapi pria itu hanya terdiam menunduk memainkan ponselnya.
Tak makan waktu lama Reyna menunggu dikantor notaris, rupanya pembayaran sudah diselesaikan oleh Bimo ke pihak penjual dihari sebelumnya. Hanya berkas-berkas resmi saja yang perlu diurus, notaris tersebut berjanji mengabarkan jika berkas telah selesai.
"Ini kunci rumahnya Bu" kata sang pemilik rumah sebelumnya "Sampaikan ucapan terimakasih saya kepada Pak Bimo.
.
.
.
Alex tersenyum puas memandang dua rumah didepannya saat mengantarkan Reyna kembali ke rumahnya.
" Kedua rumah ini cukup besar untuk kalian bertiga tinggali"
"Tapi nampaknya Bimo harus berkerja lebih keras untuk membeli rumah yang lebih besar jika nanti ada Reyna junior lagi"
Alex tertawa kecil dan menepuk punggung Reyna lembut
"Aku pamit Reyna. Jaga cucuku baik-baik, jangan biarkan dia besar seperti ayahnya. Suka mabuk bahkan membuat wanita hamil. Aku benar-benar tak menyangka kau berani memutuskan untuk tetap mengandung anaknya dan berjuang sendiri selama ini" Alex menggelengkan kepalanya
__ADS_1
"Baik Pak" wajah datar Reyna menampakkan ia bingung menimpali apa lagi
"Oh ya... satu hal lagi" pria paruh baya itu berputar dan memegang pundak Reyna erat "Aku bukan atasanmu lagi melainkan calon ayahmu juga, biasakan panggil aku Om. Okay! "