
Satria melepas head set nya dan melangkah kedapur menegak segelas air. Langkahnya terhenti saat ia membalikkan badannya dan melihat Bimo duduk di ruang tamu menatapnya tajam.
Tak lama Bu Wiji keluar dari kamar Satria diikuti Reyna dibelakangnya, Reyna menatap Satria was-was saat mereka bersisihan. Satria segera menjajari langkah Rey menuju ruang tamu
"Ada apa Kak?" tanya Reyna pelan
basa basi busuk gumam Bimo harusnya kau tahu aku kesini untuk apa, bukan untuk lawakan tidak lucu semacam ini
Bimo menatap dua orang didepannya bergantian
"Sebentar" Bimo beranjak dari kursi menuju mobilnya dan kembali kedalam rumah memberikan segepok kertas ketangan Reyna
"Aku lupa kasih ini buat bahan besok Senin"
Bimo berbalik badan hendak pergi tapi langkahnya terhenti saat Bu Wiji datang membawa minuman
"Loh mau kemana nak Bimo, diminum dulu"
Bimo kembali duduk
"Nak Bimo ini siapanya nak Rey?"
"Partner kerja Bu"
"Loh.. Reyna kamu ijinin kerja Satria??"
"Kak Bimo teman Mas Satria kok Bu, Reyna yang minta soalnya Reyna bosan dirumah" sahut Rey takut-takut
"Oalah... temenmu tho Sat"
Satria mengangguk
"Iya betul Bu, teman main malam" seringai Bimo.
"Ya iyalah mainnya malam, kalau pagi siang kan kalian kerja" celetuk Bu Wiji polos
"Nak Bimo ikut sarapan yuk.."
"Boleh Bu, terimakasih sebelumnya" sahut Bimo bersemangat, dia ingin tahu peran apa yang dimainkan oleh Satria dan Reyna sebenarnya
.
.
.
Bimo duduk bersebrangan dengan Rey. Reyna mengambil nasi untuk Satria, kedua mertuanya kemudian Bimo.
Mata Bimo tertuju pada cincin yang menikah di jari manis Reyna saat dia menyerahkan piringnya. Dia melirik jari Satria yang duduk bersebelahan dengan Reyna yang juga tersemat cincin disana.
__ADS_1
Dia yakin bahkan sangat yakin selama ini tidak ada perhiasan menempel ditubuh Reyna kecuali anting. Jemari itu sudah seringkali dia genggam bahkan dia berangan-angan menyematkan sebuah cincin dijari itu. Hatinya sesak karena sakit yang teramat sangat.
Hanya sepatah dua patah kata terucap di meja makan, Bimo yang menimpali pertanyaan kedua orang tua Satria. Reyna dan Satria hanya memilih diam tak bersuara.
"Hemmmm, pantes Sat kamu tambah gemuk, lha istrimu masak enak-enak, beruntung kamu dapet istri Reyna,iya kan Pak"komentar Bu Wiji
Pak Wiji menggangguk
sakitttttttttt hati Bimo mengaduh, terkoyak tapi tak berdarah
"Oh ya Nak Bimo..Ibu minta tolong jangan biarkan Nak Rey capek-capek ya. Biar cepet hamil, kami sudah pengen gendong cucu" lanjutnya
jlebbbbbb Bimo kembali hanya bisa mengangguk pasrah
hamil, apakah Reyna juga melakukan hal itu dengan Satria jika mereka menutupi status mereka selama ini. Tapi untuk apa???
Selesai sarapan berakhir Bimo segera buru-buru pamit. Reyna melepas kepergian Bimo dengan pikiran tak menentu. Sedangkan Satria nampak tenang dan biasa saja.
.
.
.
Siang harinya saat Bapak dan Ibu Wiji berangkat menuju tempat resepsi, Reyna mencoba berbicara dengan Satria soal tadi kejadian tadi pagi
"Kenapa?" sahut Satria enteng sambil memainkan ponselnya
"Aku nggak enak sama Kak Bimo"
"Nggak enak kenapa?"
"Mas bisa serius dikit!?" Reyna mendelik sambil merampas ponsel Satria
Satria menghela napas panjang
"Bimo nggak perlu penjelasan apapun. Kita menikah tidak menikah tidak ada urusannya dengan dia"
"Tapi..." Reyna tergagap
"Aku bisa membaca kalau Bimo ada perasaan khusus padamu Rey. Aku justru senang melihat dia patah hati seperti tadi" Satria menjawab dengan enteng
"Mas..." Reyna terbelalak
"Kamu layak untuk mendapat lelaki baik-baik, bukan seperti Bimo. Aku kenal Bimo seperti apa Rey..aku tahu baik buruknya"
Reyna tertunduk sesaat kemudian dia tersenyum kecut
"Jadi menurutmu aku tak lebih baik dari perempuanmu yang bisa merubahmu menjadi sekarang?"
__ADS_1
"Rey..jangan kau bawa-bawa Niken untuk masalah ini. Sudah pasti kalian berdua perempuan baik-baik"
"Lantas apa bedanya Mas dengan Kak Bimo?"
Satria terdiam kehabisan kata
"Kalau Mas tidak mau menjelaskan kepada Kak Bimo. Biar aku saja yang menjelaskan padanya" Reyna bangkit dari duduknya
"Lalu apa yang kau harapkan setelah Bimo tahu tentang hubungan kita?" Satria mencegahnya pergi dan menggenggam pergelangan tangan Reyna
"Berbuat hal yang sama sepertimu mungkin. Menjalin hubungan dengan orang lain termasuk urusan pribadi bukan?" jawab Reyna sengit dan menghempaskan tangan Satria kasar
"Aku tak akan membiarkan semudah itu Rey" teriak Satria frustasi
Reyna berbalik dan berkacak pinggang
"Mas tak perlu repot-repot mencampuri sesuatu yang bukan urusanmu. Urus saja bisnismu hingga membaik seperti yang kau harapkan dan kita segera mengurus perpisahan. Aku tidak bisa tinggal lebih lama dengan orang egois seperti Mas" telunjuk Reyna mengarah pada wajah Satria, dadanya bergemuruh, ubun-ubunnya seakan hendak meledak.
.
.
.
Reyna memunggungi Satria saat mereka terpaksa tidur seranjang malam harinya,dia masih bungkam seribu bahasa sejak tadi siang. Berpura-pura mereka baik-baik saja saat didepan kedua mertuanya dan itu sangat meyiksanya. Pelupuk matanya memanas kemudia tetesan bening membasahi pipinya
Satria juga masih kekeh dengan pendiriannya, Reyna adalah wanita baik-baik yang terpaksa ia libatkan dengan hidupnya yang rumit. Menurutnya tak ada yang salah jika ia harus menjaganya dan mengembalikan ke pihak keluarganya dengan baik-baik.
''Reyna..'' panggil Satria pelan
''Rey..aku tahu kamu belum tidur'' Satria menggoyangkan pundak wanita itu'.
''Apa?'' suara Reyna terdengar serak ''Bicara saja aku dengarkan''
''Kamu menangis?'' Satria bangun dari posisi berbaringnya dan menghentakan tubuh Reyna.
Reyna duduk dan menangkup wajahnya, dadanya sesak menahan air mata agar tidak lagi turun.
''Rey...maafkan aku'' Satria menarik telapak tangan Reyna yang kemudian ditepisnya "Maaf jika aku membawamu kedalam situasi sulit seperti ini''
Reyna mendongak dan menghapus jejak air mata dengan punggung tangannya ''Tak apa, bukan masalah. Aku hanya ... aku lelah berpura-pura''
''Aku minta kamu bersabar sebentar lagi''
Reyna kembali menunduk ''Aku tak tega melihat orangtuamu Mas, dia menyayangiku seperti anaknya sendiri. Besar harapan mereka untuk kita ... tapi...''
''Sudahlah, mereka berdua urusanku. Aku juga ingin semuanya berakhir dan mengembalikan dirimu utuh kekeluargamu tanpa cela sedikitpun. Apa aku salah hanya ingin menjagamu, bagaimanapun kamu adalah tanggung jawabku saat ini Rey'' Satria berusaha meyakinkan Reyna
Reyna menarik selimutnya dan kembali pada posisi tidurnya,ia memandangi dinding kamar dan mencoba menelaah setiap perkataan Satria yang memang benar adanya.
__ADS_1