
Malam minggu dirumah Satria, Reyna hanya terlihat mondar mandir di ruang tengah sedangkan Satria asik bermain dengan game di kamarnya.
Ketika hendak kembali dari dapur setelah mengambil air minum ia melihat Reyna menggonta-ganti channel televisi dengan malas. Satria berjingkat mendekat dan menepuk pundak Reyna pelan, Reyna menoleh malas
‘'Yaahhh,,kok nggak kaget sih, padahal aku udah mati-matian lho ngagetinnya''
‘'Garing ah!'' sungut Reyna
Satria melompat kesofa dari belakang.
‘'Bosan?''
Reyna menggangguk
‘'Kencan yuk!"
‘'Si itu??''
‘'Amannn,nyonya besar sedang dinas''
Reyna melangkah menuju kamar berganti celana jeans dan kaos kutung tak lupa ia sambar cardigan hitamnya.
‘'Kemana Rey?''
‘'Terserah kan Mas Satria yang ajak''
‘'Nonton?''
‘'Boleh''
Mobil Satria masuk ke area parkir bioskop mereka berdua sepakat untuk menonton film komedi. Gelak tawa keduanya masih tersisa saat keluar dari gedung bioskop.
Reyna meminta Satria untuk menemaninya berkeliling mall menghabiskan waktu sebelum mall itu ditutup.
"Satria..!"
Nampak Andre berjalan kearah mereka, disampingnya wanita bertubuh molek dengan baju kurang bahan menggelayut manja dilengannya.
Spontan Reyna meraih lengan Satria dan mundur selangkah bersembunyi di balik Satria.
"Hai..!" sapa Satria malas
"Berdua saja?" Andre mengedarkan pandangannya
"Iya!" Satria menjawab sekenanya
"Kupikir ada double date" Andre menyunggingkan senyum sinisnya
"Mas.. pulang.. " Reyna menggoyangkan lengan Satria
Satria menggenggam tangan Reyna erat dan berjalan melalui Andre "Sorry, aku duluan Ndre"
Andre sempat menjawil lengan Reyna saat mereka berpapasan. Reyna bergidik, tanpa sadar ia makin melekatkan tubuhnya kelengan Satria.
"Ndre, tolong jaga sikapmu! " bentak Satria
"Santai Sat, ngomong-ngomong aku boleh minta nomornya tidak? Aku masih cukup percaya diri kalau hanya sekedar bersaing dengan Bimo" Andre tertawa mengejek
Satria mendengus
__ADS_1
"Sudah Mas, ayo pulang" Reyna cemas saat Satria melepaskan genggamannya dan maju selangkah
Satria berbalik merengkuh pundak Reyna dalam pelukannnya dan berlalu pergi.
.
.
.
‘'Makasih ya Mas dah ditraktir nonton dan es krim''
Satria melirik kearah Reyna, begitu mudahnya menyenangkan wanita itu hanya dengan es krim hatinya sudah kembali ceria.
‘'Suka lihat kamu ketawa lagi Rey, horor deh lihat kamu jadi pendiam''
Satria menghentikan laju mobilnya yang terhalang lampu merah
"Aku masih heran kenapa Andre berpikir Bimo berusaha mendekatimu? "
"Ah paling hanya salah paham, waktu itu memang pernah bertemu denganku dan Kak Bimo ditempat makan"
‘'Bimo apa kabar?'' tiba-tiba Satria menanyakan hal yang membuat mood Reyna seketika jungkir balik.
Satria menerka-nerka jawabannya dengan melihat perubahan raut muka Reyna yang menjadi murung.
‘'Baik'' jawab Rey singkat sambil membuang muka ke arah jendela
‘'Sudah tahu soal kita?''
‘'Tak perlu tahu katanya'' Reyna menggeleng sambil mengusap sisa es krim dimulutnya dengan kasar
‘'Cukup deh nanya soal Bimo atau aku turun nih'' ancamnya
Satria kembali melajukan mobilnya dan keduanya membisu di sisa perjalanan
.
.
.
Hari ini pekerjaan tiada henti mengalir, Reyna menggeliat meluruskan punggung. Menghela napas lega akhirnya bisa menutup laptopnya setelah dua jam bergulir lebih dari jam pulang.
Revisi proposal yang barusan dia rampungkan harus ia serahkan esok hari, suasana kantor sangat sepi, rekan yang membantunya sudah pulang satu jam lalu sedangkan Bimo belum juga kembali dari tugas luar.
Ah Bimo peduli apa dia sekarang dengan laki-laki itu
Reyna berdiri menunggu lift terbuka didepannya dan buru-buru masuk tanpa memperdulikan pria yang keluar dari sana, hanya tatapan mereka saja yang beradu.
Reyna mendengus kesal saat starter motornya mogok , dia merogoh tas untuk mencari ponselnya dan tersadar ponselnya lupa ia cabut dari charger di meja kerjanya.
Langkahnya ia bawa kembali ke lobi menitip pesan kepada bapak security bahwa motornya akan ia tinggalkan di area parkir malam ini.
Ia ragu saat keluar dari lift lantai 2, berharap tidak bertemu laki-laki yang sudah lebih dari sebulan terpaksa ia temui dikarenakan pekerjaan. Dari kejauhan dia melihat punggung laki-laki itu masih sibuk dengan laptopnya, banyak berkas-berkas diletakkan di meja samping milik Reyna.
Dengan ragu Reyna melangkah mendekat
‘'Permisi Kak, aku mau ambil ponsel'' Reyna memindah berkas-berkas yang menindih ponselnya, lalu berjongkok ke bawah meja melepas charger.
__ADS_1
Tangannya kesulitan meraih kepala charger,menggapai-gapai kesegala arah. Reyna menarik tangannya cepat saat jemarinya menyentuh kulit panas.
‘'Kak Bimo sakit'' tanyanya spontan sambil mendongak kearah pria yang menunduk disampingnya
ahhhh menyesal aku keceplosan
Pria itu menggeleng dan menyerahkan ponsel padanya lalu kembali duduk dan menatap layar
‘'Pulang Kak, lanjut besok lagi''
‘'Iya tanggung Rey, sebentar lagi''
Reyna bergegas turun dan menghubungi Satria via ponselnya meminta untuk menjemputnya, Satria mengiyakan tapi meminta Reyna menunggu di seberang gedung karena kantor Reyna jalan satu arah.
.
.
.
Drttt drttt ponsel Bimo bergetar saat hendak ia masukkan saku bajunya, nama Satria terpampang dilayarnya. Sejenak ia ragu untuk menjawab tapi setelah ketika panggilan masuk ketiga kalinya dengan terpaksa ia jawab.
‘' Ya Sat?''
‘'Bim,,mana Reyna!''
‘'Udah pulang, telepon saja ke ponselnya!''
‘'Sudah, tapi ponselnya mati…….Shitttt!" pekik Satria diseberang, bunyi bising klakson sampai di telinga Bimo
‘'Halo Bim, Bimo,,, tolong antar Reyna pulang kalau dia masih tunggu didepan kantor. Aku terjebak kemacetan, tolong kasih kabar secepatnya! Thanks''
Tanpa menunggu diiyakan oleh Bimo sambungan telepon sudah diputus.
Bimo mendengus sebal, menyeret kakinya dengan gontai. Energinya terkuras habis hari ini, kepalanya dirasa agak pening, harapannya untuk segera pulang dan tidur menjadi berantakan.
Bimo mencoba menghubungi Reyna, seperti yang Satria ponsel Reyna tidak aktif. Rasa khawatir tiba-tiba menyergapnya bukankah seharusnya baterai ponsel Reyna telah terisi daya.
Bimo berpapasan dengan bapak security didepan lobi
"Lihat Reyna Pak?"
"Sudah pulang Mas Bimo, motornya mogok katanya"
Bimo berlari kedepan gedung dan tak terlihat Reyna disana, dia meraih ponsel dan menghubungi Satria
"Ya Bim? Sudah ketemu Rey?"
"Nggak ada didepan"
"Aku suruh tunggu dia di gedung seberang, biar aku tidak putar balik"
tut
shittt nyusahin saja
Bimo menuju ke area parkir kemudian melajukan mobilnya perlahan menelusuri ruko sepanjang perkantoran.
__ADS_1
Diatas jam kerja suasana disana sepi dan gelap, hanya beberapa kafe pinggir jalan itupun dengan penerangan redup. Bimo memaksakan matanya menelisik, mendung menggantung makin menggangu pandangannya.