
"Kak, aku sudah selesai. Aku tunggu depan kafe ya?" teriak Reyna diponsel saat terdengar hiruk pikuk dibelakang Bimo
"Kamu saja yang kesini..!! " teriak Bimo tak kalah nyaring
"Tapi .. "
"Ah shitt!" pekik Bimo " Kalah deh Rey gara-gara kamu. Ya sudah aku tunggu di arena main ya! "
tut
Ah ya sudahlah dia mengalah, mungkin Dewa juga sedang asik bermain. Diseretnya langkah ke trotoar yang panas diterpa matahari yang mulai merambat naik diatas kepala. Melewati beberapa blok bangunan, toko dan perkantoran untuk sampai di area play land.
Dari jauh nampak punggung Bimo dari belakang. Lelaki itu nampak asik memainkan arena balap virtual.
"Dewa mana?" tepukkan di bahu Bimo tak mengalihkan pria itu dari layar besar didepannya
"Diajak Bianca main"
Reyna celingak celinguk "Mana?"
"Tadi, sekarang ikut pulang kerumahnya"
"Kak, serius deh ah! " Reyna memukul lengan Bimo
"Arghhh.. kalah lagi kan gara-gara kamu!" Bimo memukul setir didepannya kasar
"Dewa kemana?" Reyna mendelik
Bimo menurunkan kakinya, berdiri dan menggeliatkan pinggang. Pria itu nampak terlihat muda dengan celana kargo panjang dan kaos oblong, masih pantas jika ia bermain di arena balap yang sebenarnya tidak lagi cocok untuk seusianya.
"Tadi ketemu Bianca trus katanya dia mau ikut adik bayi. Gampang habis ini nanti kita jemput"
"Jangan gitu dong Kak! Bianca kan punya bayi, repot kan kalau harus mengawasi Dewa juga"
"Ya.. kan ada suami Bianca" Bimo menjawab enteng dan berjalan menjauh dari arena main yang hiruk pikuk
"Makan Rey, aku lapar" pria itu mengusap perutnya
.
.
.
Piring-piring memenuhi meja disudut kafe, tempat ia meeting, ditatapnya Bimo dengan pandangan sinis
"Kalau tahu mau makan disini kenapa tadi Kak Bimo suruh aku susul kesana?"
"Ehmpmm, habisnya nggak minat dengan tempat makan lainnya"
Reyna mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Bianca, beberapa kali dan panggilannya dialihkan.
Ting .. pesan masuk ke ponselnya
Bianca : Dewa dan anakku sedang tidur. Biar nanti aku antar kalau sudah bangun.
Bimo mendorong satu piring kedepan Reyna
"Makan!"
Reyna menarik piring itu dan perlahan menyuapkan malas kemulutnya
"Habiskan!" Bimo masih memerintah
"Hemm.. ya"
"Lalu bayar" sambungnya pria itu enteng
__ADS_1
Uhukkkk.. Reyna terbatuk
"Makan-makan ulang tahun"
Cihh, kasih selamat saja belum sudah minta traktir. Sabar Rey sabar....
---
Reyna mengamit lengan Bimo terseok mengikuti langkah kakinya yang lebar kembali menuju ke play land tempat mobil Bimo terparkir. Tiga kali berjalan dari kafe ke play land sungguh membuat kakinya lumayan pegal, kantuk sungguh tak dapat ia tahan lagi.
"Kita jemput Dewa sekarang'' Bimo memasang seat belt dan menoleh pada wanita disampingnya
''Dewa sedang tidur, nanti diantar Bianca pulang'' Reyna menjawab tidak semangat
''Ini mau kemana lagi?''
"Pulang kerumah"
''Ngapain''
''Tidur"'
jedug!
tiba-tiba Bimo menginjak rem. Tidur? maksudnya Reyna mengajak tidur berdua? pikiran kotor mulai meracuni otaknya
''Kak! Hati-hati ahh''
''Ehm,,sorry''
---
Sesampainya dirumah Reyna melepas jeans dan mengganti celana pendek santai dan kaos rumahan, memasuki kamar dan menjatuhkan dirinya dipembaringan. Tak lama kemudian dirinya sudah melayang ke alam mimpi , tak menghiraukan Bimo yang berdiri mematung di pintu kamar memandangnya dengan melipat tangan.
---
''Bianca...'' Reyna mengambil ponselnya yang disodorkan oleh Bimo
''Ya Bi...''
''Dewa minta pulang Rey, aku tak bisa antar. Suamiku malah pergi keluar''
''Ehmm, ya Bi...''
''Buruan...'' teriak Bianca
''Iyaa...iyaa...''Reyna beringsut dari ranjang ''Jemput Dewa Kak!''
''Ehh...ganti bajumu dulu''
''Ah, cuma ke rumah Bianca ini''
''Pakai ini'' Bimo melempar jaket hoodie milik Reyna yang tergantung di kapstok kamar
---
''Tidurmu nyenyak sekali Rey'' Bimo melirik Reyna disampingnya yang masih saja menguap lebar
''Iya, aku ngantuk semalam tak bisa tidur" hah gara-gara menunggu kau ucapkan ulang tahun, dasar konyol!
"Ehmm.. Kak" Reyna mengubah posisinya menyamping "Aku sudah bicara dengan Bianca"
"Oh ya?" Bimo tak menoleh, matanya sibuk memandang spion tengah
"Aku masih punya banyak waktu sekalian menunggu sampai Dewa selesai sekolah disini"
"Ya.. "
__ADS_1
"Masih sebulan lagi Bianca kembali bekerja, kira-kira butuh sebulan untuk serah terima pekerjaan. Ehmm.. yah cukuplah 2 bulan untuk aku cari kerja dikotamu"
"Kamu masih mau bekerja?" Bimo bertanya dengan nada heran
"Kenapa?" Reyna balik bertanya tak kalah heran
"Ah.. sudahlah" Bimo memutar setir ke kiri menepikan mobilnya "Turun yuk" ajaknya
"Eh.. " Reyna celingak celinguk kanan kiri, mereka kini berada di tepi jalan raya disepanjang pesisir pantai "Nanti saja Kak, kita jemput Dewa dulu kasihan Bianca"
"Sebentar saja, kamu nggak mau lihat sun set" Bimo membuka pintu mobil mengulurkan tangannya
"Ahh iya.. sebentar lagi sunset" sudut bibir Reyna menyunggingkan senyum manis
---
Bimo membantunya melompati guard rail, berdua berjalan bergandengan menyusuri bibir pantai hanya beralaskan sandal jepit.
"Untung tadi bawa jaket ya Kak" Reyna membetulkan rambutnya yang berkibar terkena angin dan memakai hoodienya
"Dingin?" Bimo merangkul pundak Reyna dan mendekatkan tubuh wanita itu
Matahari kian temaram, Reyna seakan enggan berkedip menatap indahnya pemandangan ciptaan Tuhan.
Bimo mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memasang sebelah head set ditelinganya dan memasang sebelah lagi ditelinga Reyna.
Reyna tersenyum saat mendengar bait dilagu itu sambil tetap memandang jingganya langit
Only you can make all this change in me
For it's true, you are my destiny
When you hold my hand
I understand the magic that you do
You're my dream come true
My one and only you
Bimo memutar tubuh Reyna dan kini mereka berhadapan, laki-laki itu menarik pinggang Reyna mendekat dengan tangan kanannya. Tangan kirinya merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak lalu membukanya tepat didepan wajah Reyna
"Tell me if you want to become my wife and make me the happiest man alive “ Bimo berbisik dan menatap mata Reyna tak berkedip
Reyna mengerjab, mengusap pipinya memastikan
ini semua bukanlah mimpi. Anggukan pasti diiringi dengan air mata yang mengalir pelan membasahi pipi. Ini baru awal dari semua akhir penantiannya, masih panjang perjalanan mereka kedepannya nanti.
Bimo tersenyum lebar menarik cepat tangan kiri Reyna seakan takut wanita itu akan merubah keputusannya.
Ahh.. masih bersemat cincin dari Bram di jari manis kirinya, wajah Reyna menjadi serba salah
"Tak apa" tukas Bimo cepat, dia melingkarkan cincin itu di jari tengahnya "Untung aku pesan satu ukuran lebih besar" candanya
Reyna menghambur ke pelukan Bimo dan menuntaskan tangis didada pria itu. Bimo mengelus punggungnya pelan lalu menarik keluar bahu Reyna saat tangis itu mereda.
Mencium bibir wanita itu perlahan, pagutan bibir itu diiringi mentari yang kembali ke peraduan.
---
" Happy Birthday........ " tiba-tiba sorakan ramai terdengar jauh dibelakang mereka.
Sontak Reyna melepaskan pagutan itu, menoleh ke asal suara.
Tante Linda, Bianca beserta anak dan suami serta Dewa berdiri berjajar disepanjang guard rail. Sudah jelas teriakan Bianca yang paling nyaring diantara mereka dengan memegang ponsel mengabadikan adegan panasnya dengan Bimo.
Damn!
__ADS_1