
Dewa menghambur masuk rumah dengan riangnya.
"Stop Dewa, Opa capek.... " Alex muncul dibelakangnya sambil terengah-engah.
"Kenapa Om?" tanya Reyna yang sedang menata piring dimeja
"Dewa pulang sambil berlarian, anakmu itu tak bisa diam saja barang sejenak" Alex berkacak pinggang "Mirip Bimo waktu kecil" dadanya naik turun mengatur napasnya.
"Om mau makan, sudah siap semua kan?" Alex menatap semua hidangan dimeja "Panggil Bimo turun Rey" suruh Alex.
"Dewaa..... " teriak Reyna "Panggil ayah turun" teriaknya lagi
.
.
.
"Besok Dewa sudah pulang ya?" tanya Alex sedih
"Iya Om.. " jawab Reyna pendek sambil sesekali menyuapkan makan Dewa
"Besok kalian ada acara?" tanya Alex
"Besok aku mau ajak Reyna kerumah Satria" Bimo menatap Reyna, dilihatnya wanita itu hanya melirik nya sambil mendesah kecil "Dewa kangen sama Rara, ya nak?"
Dewa mengangguk-angguk senang
"Setelah itu?"
"Nanti Bimo antar Reyna dan Dewa pulang Om" Bimo menyenggol kaki Reyna dari bawah meja, Reyna hanya menarik kakinya tanda tidak tertarik usul Bimo.
"Jangan! Biar Pak Man saja yang antar"
"Pak Man libur Om, besok kan hari Minggu" Bimo masih bersikukuh
"Biar nanti Om telepon dia, kamu tidak perlu repot-repot cari alasan, Om tahu kamu pasti tidak akan pulang dan menginap" Alex menjawab enteng seperti bisa membaca jalan pikiran Bimo.
Reyna hanya tersinyum simpul dan menahan tawanya.
"Nanti malam Dewa tidur sama Opa ya?" Alex mendekatkan wajah ke bocah kecil didekatnya "Nanti Opa cerita dongeng sampai Dewa tidur"
"Apa itu Ma?" Dewa yang tidak mengerti bertanya pada Reyna
"Dongeng itu cerita, mungkin Opa mau cerita waktu kecil Ayah Bimo" Reyna menjawab semanis mungkin "Dulu ayah Bimo suka juga tidak ya dengan anak perempuan yang cantik-cantik? " Reyna melirik sinis kearah Bimo.
"Ooo.. suka...suka banget..semua cantik-cantik seperti Rara" Bimo menjawab santai sambil menatap Dewa "Yang paling ayah suka ya yang paling cantik..mamanya Dewa, mama Reyna"
Reyna memutar bola matanya jengah, sudah jelas dia kalah cantik dan tidak sebanding dengan wanita di foto tadi.
.
.
.
Reyna memainkan ponselnya sembari menunggu kantuk menyerang, Dewa sudah tertidur di kamar Alex. Kini tinggal ia sendiri menatap langit-langit kamar, hatinya masih saja gusar hanya karena selembar foto usang.
Selama ini Reyna bisa menerima masa lalu Bimo dengan sederet wanita malamnya, tapi semua itu hanya kesenangan sesaat, tidak ada cinta untuk mereka. Reyna sendiri tidak mengerti ada apa dengan dirinya saat ini, intuisinya sebagai wanita bermain dan mengusik keingintahuannya tentang masa lalu Bimo dengan wanita di foto itu.
Tit
Satu pesan masuk dilayar ponselnya
Bimo : Temani aku tidur...
Reyna mengabaikan pesan itu, ia mencoba memejamkan matanya
Tit
Reyna meraih ponselnya lagi
__ADS_1
Bimo : Om Alex sudah tidur. Aman!
Belum juga ponsel ia letakkan kembali sudah ada pesan masuk lagi
Bimo : Aku saja yang temani kau tidur?
Dan lagi
Tit
Bimo : Jawab Rey! atau aku turun sekarang?
Reyna terduduk, memastikan pintu kamarmya telah terkunci. Bisa saja Bimo nekat dan menerobos masuk. Ia meraih ponselnya dan mengirimkan pesan balasan.
Bimo melompat dari ranjangnya dan menuju meja di sudut kamar setelah membaca pesan dari Reyna.
Jawab aku dulu siapa wanita di foto laci mejamu!
.
.
.
Tok Tok Tok
Reyna membuka pintu kamar dan melihat Bimo berdiri disana membawa dua pasang sweater ditangan.
Bimo menyerahkan satu sweater kepada Reyna "Cepat pakai dan ikut aku jika kau ingin jawabannya" perintah Bimo yang juga bergegas memakai sweaternya.
Bimo menggandeng tangan Reyna dan melangkah berjinjit ke garasi.
"Buka pintu lalu tutup lagi pelan-pelan" Bimo menuju sudut garasi yang cukup lebar, tak berapa lama ia muncul dengan mendorong motor sport.
"Aku tunggu didepan" bisiknya saat melewati Reyna yang bersiap menutup pintu garasi.
Bimo mendorong motornya lalu menaikinya cepat tanpa menyalakan mesinnya. Reyna berlari kecil dibelakangnya.
"Naik saja dulu"
Reyna buru-buru naik ke jok belakang
"Ayok" tepuknya dipunggung Bimo yang tak segera menyalakan mesin.
Bimo meraih tangan Reyna dan melingkarkan ke perutnya.
"Tambah lagi satu syarat untuk mendapat jawabannya" Bimo menepuk tangan Reyna dan menyalakan mesinnya.
Angin malam dingin menerpa wajah Reyna yang sedari tadi hanya terdiam, berharap Bimo segera menghentikan motornya dan memberikan dia jawaban.
Deru motor Bimo meraung ditengah keheningan malam, Bimo membelokkan motornya menuju gapura besar nan megah dan terpampang logo universitas ternama dikota itu.
"Kita sampai, ayo turun"
Reyna turun dan menuju gapura besar itu, logo universitas sama seperti yang tertera di album kenangan.
Bimo menggosokkan kedua telapak tangannya kemudian ditangkupkan kewajah Reyna
"Maaf, dingin ya? buru-buru sampai lupa bawa helm"
Reyna menepis tangan Bimo dan memilih bersandar di balik gapura, melipat kedua tangan dan menatap Bimo tajam. Bimo mengambil rokok dari celananya, menyulutnya dan menikmati kepulan asap.
"Namanya Lidya.. " Bimo bicara tertahan "Aku bertemu dengannya pertama kali disini"
"Aku memujanya Reyna, dia wanita tercantik yang pernah aku kenal" Bimo melirik Reyna takut-takut
Reyna memejamkan matanya, ada perih yang ia rasakan didalam sana.
"Iya cantik, pada waktu itu aku hanya melijat perempuan dari paras saja. Aku dibutakan oleh nafsuku" Bimo membuang rokok dan menginjaknya kasar "Oh God Reyna, sepenting apa dia hingga kau harus tahu" Bimo mengacak rambutnya kasar.
Reyna mengangguk "Harus"
__ADS_1
"Tapi kenapa?"
"Entah" Reyna mengedikkan bahunya
"Dia bukan wanita baik-baik, aku hanya salah satu dari pria-pria yang pernah hadir dihidupnya, hanya saja.. "
"Kak Bimo mencintainya?"
Bimo mengangguk "Sangat! "
Reyna membuang mukanya, perih kian ia rasa.
"Reyna.. itu hanya masa lalu, sebaiknya kita tak perlu membahas..bukan hanya aku saja yang sakit mengungkitnya, mungkin kau juga.."
"Lanjutkan.. " pinta Reyna tegas
"Gaya hidupnya tak bisa kuimbangi dengan kondisiku yang waktu itu hanya seorang mahasiswa, hingga aku nekat menjual perhiasan ibu peninggalan dari bapak.. "
"Kak! " Reyna terpekik
"Satu-satunya peninggalan dari mendiang kedua orangtuaku" Bimo tersenyum kecut "Apa saja, asal aku bisa menidurinya..ah shiitt bodohnya aku! "
Bimo mengajak Reyna untuk duduk bangku beton disepanjang boulevard.
"Om Alex menghajarku habis-habisan saat aku jarang pulang dan lebih memilih menginap di apartement Lidya waktu itu"
"Aku sadar sepenuhnya Lidya hanya bermain-main denganku tapi entahlah...dia menarik ulurku dengan lihainya seakan tak ingin aku pergi darinya"
Bimo mengambil lagi satu batang rokok menghisapnya dalam hingga terbatuk kecil..
"Hidupku benar-benar berantakan waktu itu hanya karena wanita"
Kepulan asap itu dimainkan Bimo membentuk huruf O
"Tak lama setelah lulus kuliah, Lidya menikah dengan lelaki yang mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. Brengseknya aku masih mau diajaknya tidur sesekali, bahkan aku sempat berpikir apakah dia menyimpan perasaan denganku juga"
Reyna spontan meletakkan telapak tangan ke dadanya yang makin dirasa nyeri.
"Aku sadar saat Tante meninggal dan Om Alex keluar masuk rumah sakit. Aku takut kehilangan Om Alex!"
"Dan dia..?"
"Entah.. aku dengar kabar terakhir dia menetap di luar negeri dengan suaminya" Bimo menatap Reyna "Sudah puas?"
"Kak Bimo tidak berniat mencarinya?"
"Buat apa?" Bimo menautkan alis tebalnya "Sudah cukup aku sakit dibuatnya. Aku justru senang dia tak ada lagi disini"
"Sakit yang kau buat sendiri!" cela Reyna "Kak Bimo masih mencintainya?"
"Come On Reyna!" Bimo menggoncang bahu wanita itu "Yes I Love Her, Much! But It Was!"
"Lalu kenapa masih kamu simpan foto itu?" Reyna mendorong tubuh Bimo kasar
Bimo menepuk jidat dan mengeluarkan foto dari kantongnya , foto yang sudah tidak berbentuk karena sudah diremas tak karuan.
Lagi Bimo mengambil pemantik api lalu menyulutnya, berjongkok memastikan foto itu telah berubah menjadi abu lalu berdiri.
"Puas kau? Kalau saja bukan kau yang temukan, aku juga tak tahu ada foto itu disana! "
"Bohong! "
Bimo mendelik lalu menarik tubuh Reyna, mengunci tengkuk dan ******* bibir itu dengan buas.
"Khaak.. " Reyna meronta "Eephhass."
"Cukup! Ayo pulang. Aku tak mau lagi membahas hal tidak penting" Bimo membentak Reyna
"Tapi.. "
"Diamlah atau kau memang ingin kucium lagi agar berhenti bicara! " Bimo membalas galak
__ADS_1
Reyna menggigit bibirnya, ia menurut saja saat Bimo memasukkan rambutnya kedalam sweaternya, menggandeng erat tangannya menuju motor sport dan mengajaknya pulang.