
Bimo menatap meja dipenuhi piring dan gelas yang hampir separo kosong, keduanya pasti menunggunya cukup lama.
''Sorry pesawatku delay'' Bimo memecah keheningan matanya tak henti menatap Reyna
''Kak Bimo apa kabar?''
Satria mendengus ''Sorry aku tak bisa lebih lama disini. Tak enak aku meninggalkan Niken di hotel terlalu lama'' potongnya
Dia merubah posisi tubuhnya menghadap Bimo dan menatapnya tajam ''Kau Bimo, ada yang perlu kau sampaikan padaku, sepertinya kau melewatkan hal penting tentang kalian berdua''
''Mas..'' Reyna mendelik ke arah Satria
Kerutan terlihat didahi Bimo, ada nada curiga pada pertanyaan Satria. Mungkinkah Reyna menceritakan kejadian malam itu. Bukannya dia tak punya cukup nyali untuk mengakui perbuatan mereka tapi bagi Bimo dia juga harus menghormati privasi Reyna,tapi dia heran bagaimana Satria bisa curiga??benarkah firasatnya selama ini benar adanya?
Belum juga Bimo mengeluarkan sepatah kata, terdengar langkah kaki berat tergesa menuju pondokan mereka. Sosok lelaki itu menatap bergantian ketiga manusia di depannya
''Mas Bram?!'' pekik Reyna tertahan
''Bisa kau jelaskan padaku?'' Bram menatap Bimo dan menyangsikan usia Bimo yang sudah tak pantas lagi menjadi mahasiswa akhir semester, tapi siapa dia.
Satria tak kalah terkejut ''Pak Bram silahkan duduk ,saya bisa jelaskan'' tawarnya
''Maaf Pak Satria tapi apa benar anda mantan suami Reyna?'' tanya Bram tanpa basa-basi
Reyna dan Satria bertatapan saling curiga, siapa diantara mereka yang memberitahukan Bram
''Mas Bram duduk dulu'' Reyna berdiri dan menarik pria itu duduk disebelahnya
''Siapa dia Rey?'' kali ini Bimo yang bertanya dengan bingung
''Jawab saya dulu Pak Satria'' Bram menatap Satria
''Iya benar saya adalah mantan suami Reyna'' jawab Satria pelan
Bram menatap Reyna ''Kenapa kau sembunyikan semua ini Rey?''
''Pak Bram tenang dulu saya akan jelaskan nanti'' Satria melanjutnya
''Aku tak akan melarangmu bertemu dengannya tapi tidak diam-diam seperti ini!'' Bram menaikkan nada suaranya ''Kenapa harus berbohong??''
''Satria bisa kau katakan padaku siapa dia'' Bimo bertanya frustasi sambil menunjuk kearah Bram
__ADS_1
''Mas,,aku..sebentar Kak Bimo'' Reyna tercekat, isi kepalanya terasa membeku kaku
''Jadi Dewa...'' omongan Bram menggantung saat Reyna menhentakkan lengannya
''Jangan...'' larang Rey sambil menggeleng
Bram menatap heran ke arah Reyna , berganti menatap Satria yang juga terlihat cemas
''Dewa anak kalian, apanya yang jangan??Apa aku salah bicara!!'' teriak Bramantyo lantang
Suasana menjadi hening seketika dan menjadi hiruk pikuk kemudian saat sosok wanita mendekat ke arah pondokan dan menangis terisak
''Satria...apa benar itu??'' tanyanya serak di sela tangisnya
Satria yang merasa mengenali suara itu langsung menengok ke arah suara ,wanita itu membalikkan badan menggendong anak kecil disampingnya dan berlari menjauh
''Niken tungguu,, arghh'' tergesa dia menuruni pondokan memakai sepatunya '' Maaf Pak Bram saya harus pergi dan putra Reyna bukan anak dari saya'' jelasnya terburu '' Reyna segeralah selesaikan urusanmu dengan Bimo''
''Anak?? Anakmu Reyna? Anak kita!?'' yang ini suara Bimo
Satria yang sudah siap berdiri dan melangkah tiba-tiba berbalik dan melayangkan tinju kepada Bimo hingga laki-laki itu mengerang kesakitan memegang pelipisnya
.
.
.
Bram hanya menatap malas kepada Reyna yang sedang menempelkan balok es ke pelipis Bimo yang berdarah dan sedikit robek, Reyna menggulung beberapa tissue dan menyuruh Bimo menahan lukanya agar darah segera berhenti.
Bimo memegang tangan Reyna yang sibuk mengelap ceceran darah didahinya, Bram segera menarik tangan Reyna yang lain dan menyuruhnya duduk. Reyna duduk di bagian sisi pendek meja ditengah kedua pria yang menatapnya bersamaan.
''Kak Bimo, aku hamil dan melahirkan seorang putra,namanya Dewangga'' Reyna menatap Bimo dari sudut matanya dan cemas menantikan reaksi dari Bimo
Mata Bimo terbelalak diiringi tarikan senyum lebar di sudut bibirnya ''Sungguh, dimana dia Rey?'' tangannya bergerak hendak meraih tangan Reyna tapi niatnya terhenti saat tangan Bram menghalaunya
''Jadi kau berselingkuh dengannya disaat pernikahanmu dengan Pak Satria, itukah sebabnya kalian bercerai?'' desak Bram
''Bukan begitu Mas,,'' Reyna menggeleng
''Itu bukan urusanmu, dan maaf apa hubungan anda dengan Reyna?''Bimo menjawab jengkel
__ADS_1
''Saya calon suaminya! Dan saya berhak tahu ada apa sebenarnya!'' jawab Bram tegas
''Aku dan Satria menikah karena dijodohkan dan pernikahan itu hanya berdasarkan perjanjian'' terang Reyna
''Soal itu aku sudah tahu dari Bianca, tapi tetap saja apa yang kalian lakukan itu salah!'' bentak Bram
Bimo dan Reyna terunduk, benar sekali apa kata Bram tapi apa daya saat nafsu setan membelit dua insan yang saling mencintai.
''Waktu itu aku dan Kak Bimo mab...''
''Mau sama mau!'' Bimo memotong omongan Reyna cepat melirik Bram dengan pandangan tidak suka
Bram mengeram kesal ''Sudah selesaikah urusanmu dengannya Rey? Kita pulang!''
''Rey, aku perlu bertemu dengan anak kita!'' Bimo bersikukuh
''Iya Kak, tapi tidak sekarang!'' tahan Reyna
''Jadi,, setelah bertemu dengan Dewa urusan pria ini selesai kan Reyna?''tanya Bram menuntut
''Tentu saja belum! Aku perlu bertanggung jawab sepenuhnya atas anakku dan juga Ibunya,kau pikir buat apa Reyna masih mengharapkan bertemu denganku'' Bimo menantang Bram
Reyna memejamkan matanya, dia ingin sekali berteriak meminta dua pria ini diam dan memberikan kesempatan dia bicara.
drttt drttt ponsel Reyna berbunyi
''Halo..''
''Hem,, iya Mas Bram disini bersamaku''
''Ehh iya, maaf merepotkanmu''
''Ok Bye!''
Reyna meletakkan ponselnya dan menatap Bimo ''Kak Bimo, Dewa sudah tidur. Besok saja kalau kau ingin bertemu'' Reyna ganti menatap Bram ''Mas Bram,ayo kita pulang. Biarkan aku menjelaskan semuanya, jangan menyimpulkan semuanya sendiri''
Bimo bergerak cepat menyambar ponsel Reyna dan memencet deretan nomor lalu menekan tombol panggilan hingga terdengar ponsel disakunya berbunyi.
''Oke Rey, kutunggu kau besok pagi. Kuharap pria ini tidak usah ikut datang dan mengganggu!'" kata Bimo sembari mengulurkan tangan mengembalikan ponsel Reyna
Bram segera merampas ponsel itu dari tangan Bimo, menarik kasar tangan Reyna memaksanya berdiri. Keduanya segera berlalu dengan mengendarai mobil masing-masing.
__ADS_1