Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
69. Gairah


__ADS_3

Reyna merebahkan badannya ke ranjang setelah menidurkan Dewa, hari ini cukup penat ia lalui di kantor sampai ia lalaikan beberapa panggilan dari Bram. Jemarinya menekan kontak diponselnya .. tuttt..


hanya cukup sekali nada sambung panggilan itu sudah direspon pemiliknya


"My dear Reyna "


"Halo Mas.. maaf aku baru sempat.. "


"Sudah mau tidur? "


"Emmhh ya.. Mas besok pulang kan? "


"Sorry Reyna.. aku butuh beberapa hari lagi disini" nada Bram terdengar cemas


"Why? Something happen? "


"Temenku dokter menyarankan tes lanjutan.. sekalian mumpung disini"


"Is it okay? "


"Don't worry Rey. I'm fine.. "


diam.. dua manusia itu tenggelam dalam pikiran masing-masing


"Ehmm.. yaa hitung-hitung liburan Mas. Mas terlalu keras bekerja.. "


"Mau oleh-oleh apa Rey? "


"Nggak usah.. Mas cepet pulang"


"Ehmm.. kangen?? "


"Dewa kangen.. "


"And his mom? "


"Bangettt... " Reyna tergelak


"Rey.. tadi aku mampir ke outlet temenku. Ada barang bagus buatmu"

__ADS_1


"Oh ya.. what is it? "


"I'll send you the picture. Hopefully you like it"


"Hemm.. okay. Aku tidur ya.."


"Ok.. Bye Rey"


Baru Reyna hendak memejamkan mata yang sudah lengket sedari tadi, tiba-tiba matanya terbelalak kembali melihat foto yang dikirmkan Bram padanya. Sebuah lingerie motif leopard tipis transparan, captain dari Bram membuatnya bergidik "Aku siap kamu terkam!"


.


.


.


Bram tiba tepat di saat akhir pekan dan langsung menuju kediaman Reyna, kepulangannya disambut ceria oleh Dewa. Lebih tepatnya sangat ceria karena Bram membelikan lego idamannya membuat anak kecil itu sibuk merakit dan tak menghiraukan Reyna dan Bram melepas rindu.


Reyna melepas pagutan Bram saat napasnya hampir habis, dia sentuh kedua pipi Bram dan ditatapnya kedua manik mata yang tak secerah biasanya.


"Mas Bram sakit??" tanya Reyna cemas


Bram menggeleng "Jet lag"


"Adalah.. akupun juga tak begitu paham. Aku memang merasa cepat capek akhir-akhir ini"


"Mungkin karena Mas pegang 2 kerjaan. Bianca sudah aktif minggu depan kan? "


Bram mengangguk "Aku janji aku bakalan punya waktu banyak untukmu dan Dewa" tangannya menangkup wajah Reyna dan dikecupnya pelan bibir itu.


"Aku ajak Dewa main dulu ya.. "


"Okay. Aku siap-siap dulu didapur untuk makan nanti malam"


.


.


.

__ADS_1


Reyna selesai urusan dapur untuk nanti makan malam. Ayam fillet tepung siap goreng, saus steak sudah siap dan tinggal dihangatkan tak lupa sayuran beku juga hanya perlu direbus sebentar.


Dia membuka almari dapur untuk membereskan beberapa perkakas, tangannya terulur pada lampu yang ia beli beberapa hari lalu, lampu dapurnya mulai berkedip mengajak disko.


Reyna berjalan menuju ruang tengah untuk meminta bantuan Bram tapi didapati pria itu tertidur pulas di karpet demikian juga Dewa. Hah bisa-bisanya dua pria itu kompak ketiduran disaat bermain lego.


Reyna terpaksa menggeser meja tamu lalu menumpuknya dengan kursi dan mulai memanjat.


Tangannya kesulitan meraih lampu di atap karena membagi konsentrasi agar kursi dibawahnya tak bergerak.


Jantungnya hampir berhenti berdetak ketika kakinya dipegang pelan dari bawah. Dilihatnya Bram mendelik ke arahnya.


"Bahaya.. " pekik Bram tertahan


Reyna hanya tersenyum kecut


"Aku nggak enak bangunin Mas, udah pegangin kursinya aja.. "


Bram membantu Reyna untuk menuruni kursi dan menyingkirkan kursi itu kembali ke tempatnya. Reyna yang masih berdiri diatas meja mengulurkan dua tangannya bagaikan anak kecil minta gendong. Tak disangka Bram melingkarkan tangannya dipantat Reyna, diangkatnya tubuh itu terhuyung. Reyna tertawa kecil dan memukul bahu pria itu.


"Turunin ah Mas.. kasian kamu kayak kuli panggul beras"


"Berat kamu Rey.. "


Bram memutar badan dan memilih duduk di meja tamu dengan Reyna masih dipangkuannya.


Mata mereka bertatap , deru napas keduanya memburu tak lama bibir mereka beradu. Lembut saling ******* hingga berubah makin panas meninggalkan decapan penuh gairah.


Desahan Reyna yang tertahan terdengar merdu memompa nafsu kejantanan Bramantyo. Diciuminya leher Reyna, lidahnya menjilat telinga Reyna membuat wanita itu mengeratkan kuku dipunggung pria itu.


Tangan Bram menggerayangi kemeja linen big size milik Reyna, ditanggalkannya kancing demi kancing dan menyisakan 2 kancing terakhir. Sudut matanya menangkap benda merah berenda yang menyembunyikan dua gundukan sintal didalamnya.


Bram lanjutkan menggapai kait BRA yang kali ini bisa ia lepaskan dalam beberapa detik, tangan kanannya merayap masuk ke lengan Reyna menarik keluar dengan paksa tali BRA melewati lengan mulus itu, benda berwarna merah itu terlempar dari tangan Bram sesaat kemudian.


Mata Bram memandang Reyna dengan penuh harap, anggukan dari wanita itu tak disia-siakan. Ia sibak kemeja didepan matanya. Memandang bentuk sempurna ciptaan sang maha kuasa dengan takjub.


Lenguhan Reyna terdengar jelas ditelinganya saat lidah Bram mulai bermain disana. Ia raba pantat Reyna dan mengangkatnya naik saat ia rasakan desakan dicelananya.


Tangan Bram mulai bergerilya dipaha Reyna, menyelipkan tangan kedalam celana pendek, menyentuh tepat dipusat yang terasa lembab. Baru saja ia hendak menyingkap lembaran elastis untuk memainkan jemarinya disana. Tiba - tiba....

__ADS_1


"Mamaa....... "pekikan Dewa yang terbangun terdengar dari ruang tengah


Reyna spontan turun dari atas meja, tergesa mengancingkan bajunya dan menyambar serbet dapur untuk disampirkan kedepan dadanya. Tak lupa mengambil benda merah berenda dan memasukkan ke keranjang cucian. Bergegas menuju ruang tengah meninggalkan Bram yang frustasi melawan ketegangan tak tersalurkan.


__ADS_2