
Reyna berpesan pada pengasuh Dewa untuk bersiap jika dirinya pulang lebih lambat dari biasanya, hanya jaga-jaga jika semua rencananya diluar ekspektasinya. Perjalanan ke kantor Satria memakan waktu 2 jam, Reyna akan kembali menyambangi kota kenangannya bersama Bimo.
Reyna termangu didepan bangunan cukup besar didepannya, setelah memarkirkan kendaraannya Reyna mulai melangkahkan kakinya. Terlihat banyak mata memandangnya, tak ayal karena tempat itu didominasi oleh customer dari kaum adam, Reyna menelisik setiap sudut mencari dimana ia tepat bertanya ruangan pria yang ia cari, matanya menangkap customer service center tepat ditengah bangunan.
''Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?'' tanya petugas itu ramah
''Saya cari Bapak Satria, beliau sudah datang?''
''Maaf dengan siapa saya bicara dan atas keperluan apa, sudah ada janji temu sebelumnya?"
''Bilang saja Reyna Bramantyo hendak bertemu'' jawab Reyna asal
Petugas itu memencet nomor ekstensi di pesawat teleponnya , buru-buru menutupnya dan mempersilahkan Reyna masuk ke ruangan di area belakang.
.
.
.
Satria berdiri saat ia membuka pintu ruangan dingin ber AC, mata mereka bertatapan penuh tanya. Reyna melepaskan jaket jeansnya, melepaskan ikatan rambut yang mulai kendur lalu mengikatkan rambutnya asal keatas. Keringat bercucuran membasahi pelipis, leher dan turun kebagian dadanya.
''Duduk'' suruh Satria, ia melangkah menuju cool case di pojok ruangannya dan memberikan sebotol air mineral dingin. Satria menyenderkan badannya di tepi meja melipat tangan dan menatap kearah Reyna tajam.
Dilihatnya kaos VNeck warna navy milik Reyna yang basah dibagian kerahnya, menandakan dia berkendara sejauh ini, demi apa??
''Maaf aku mengganggu waktu Mas Satria'' Reyna membuka pembicaraan
''Tak kusangka kau akan nekat mencariku Reyna, jujur aku ragukan itu. Hidupmu nampak sempurna saat terakhir kita bertemu dan maafkan aku kita harus berpisah seperti itu''
''Tak soal. Aku hanya ingin tahu soal Kak Bimo, Mas masih berhubungan dengannya?'' tanya Reyna tanpa basa basi
''Untuk apa?''
''Sepertinya aku tak perlu jelaskan'' Reyna mendengus dan menghabiskan air mineralnya sekali tenggak
Satria menyambar kontak mobil dan menyuruh Reyna memakai lagi jaketnya
''Kita bicara di luar'' ajaknya
Derap sepatu boot Reyna memecah keheningan bangunan yang banyak memajang design gambar berbau otomotif
''Tunda semua janji temu saya'' pesan Satria kepada wanita yang duduk di luar ruangannya
__ADS_1
Banyak pasang mata memandang keduanya saat melangkah keluar dan bergegas pergi.
.
.
.
Keduanya duduk berhadapan disudut sebuah kafe
''Dia anak Bimo?'' tanya Satria
''Mas pikir?'' Reyna mendelik kearahnya, baginya pertanyaan itu adalah suatu penghinaan bagi statusnya yang seorang janda
''Ccckkk, kenapa kau tak beritahu dia kalau kau hamil anaknya''
"Aku tak akan repot mencarinya lewat dirimu jika aku tahu dimana dia, setidaknya aku tahu bagaimana menghubungi dia. Tapi... "Reyna menggigit bibir bawahnya kasar
Selanjutnya dengan berapi-api dia menyerang Satria dengan berpuluh pertanyaan dimana mereka berdua saat Reyna kembali ke kota ini mencarinya dan berjuang lari dari Gandhi karena takut ia akan dipaksa untuk menggugurkan bayinya.
Tak terasa air bening menetes membasahi pipinya, hatinya sesak saat mengingat masa itu.
Satria membuang pandangannya, ia tak bisa melihat wanita menangis didepannya. Betapa beban berat Reyna selama ini, bahkan ia tak menyangka bahwa Gandhi akan tega menjadikan Reyna bagai tahanan selama 3 bulan.
Ditatapnya Reyna setelah wanita itu berusaha menghentikan tangisnya dan menghapus jejak dengan punggung tangannya.
''Dimana Kak Bimo sekarang, apakah dia sudah menyerah mencariku? apakah dia sudah punya kehidupan lain? istri? anak mungkin?'' rentetan pertanyaan keluar dari mulut Reyna
Satria menggeleng
''Aku akan katakan semua bahkan aku bisa mempertemukan kalian, tapi jawab aku Rey, jujur, apa tujuanmu menemui Bimo sedangkan saat ini kau sudah berbahagia dengan Pak Bram. Kau harus pikirkan konsekwensi dari semua ini''
Reyna menghela napas pelan
''Aku janji tak akan mengganggunya jika saat ini Kak Bimo sudah bahagia Mas. Aku akan lanjutkan hidupku jika memang seperti itu. Aku tak ingin merusak kebahagiannya dengan tiba-tiba hadir dan mengatakan bahwa dia mempunyai anak dariku. Toh Mas Bram tak pernah mengusik soal masa laluku''
''Dia masih mencarimu, berharap menemukanmu hingga detik ini. Dan baru kemarin saat kita bertemu lagi aku tersadar mungkin ia mencarimu karena rasa bersalah telah menidurimu. Brengsek!!''
''Mas..please! katakan saja Kak Bimo dimana, aku berjanji akan menyelesaikan semua ini baik-baik''
''Lantas kalian akan kembali bersama karena ada anak diantara kalian? Kau tak pikirkan perasaan Pak Bram!"
Reyna menggeleng pelan, dia sendiri tak yakin akan perasaannya saat ini jika ia dipertemukan kembali dengan Bimo
__ADS_1
''Aku akan pikirkan Reyna, saranku kau kembalilah pada Pak Bram. Biarlah Bimo jadi urusanku''
''Jangan Mas, kumohon jangan kau siksa lagi perasaanku. Bertahun-tahun aku hanya ingin berharap mengetahui kabarnya, buatku itu sudah cukup. Aku janji tak akan menuntut apapun darinya!''
Satria meraup wajahnya kasar seakan sedang dihadapkan dengan buah simalakama
''Siapa nama putrimu?'' tanya Reyna tiba-tiba
''Rara,, Humaira..''
''Rara pasti tahu siapa nama ayahnya bukan?'' sindir Reyna ''Kau bisa bayangkan hingga saat ini anakku hanya tahu Bram lah papanya'' tangis Reyna mulai tumpah, dia luluh lantak jika sudah membicarakan soal buah hatinya
''Maafkan aku Mas, keluargaku bahkan semua orang mengganggap bahwa kau adalah ayah anakku, anak dari seorang janda yang diceraikan paksa. Maaf aku tak punya keberanian sama sekali untuk mengatakan bahwa pria lain yang menghamiliku''
Satria tercekat
''Aku sudah cukup hina dimata orang sebagai janda, cukuplah hinakan aku dengan statusku. Apa yang akan mereka katakan lagi jika tahu bahwa anakku adalah hasil lelaki lain. ******???'' tanya Reyna dalam isak tangisnya
Satria mengambil kotak dari saku bajunya, menyulut satu batang pendek dari dalam kotak itu. Menyesapnya perlahan dan menunggu tangis Reyna mereda.
''Bimo tidak disini Reyna, tapi aku pastikan dia pasti segera terbang saat ini juga saat aku mengabarkan kau ada didepanku'' Satria mematikan batang berasap itu
''Biqmo mendapat promosi menjadi manager di cabang perusahaanmu di luar pulau. Bimo berangkat dengan anggota team terbaik kecuali kamu tentunya, untuk merintis kantor cabang dari nol'' Satria meminum kopinya yang mulai dingin
''Oh ya jangan tanya soal tuntutan. Aku cukup dibuat Bimo sibuk dengan wira-wiri ke bank setiap bulan untuk print out buku tabungan, dia berharap kau melakukan transaksi dengan setiap nominal yang ia transfer setiap bulannya ke rekeningmu. Dimana ATM dariku, hilang atau jangan-jangan Gandhi buang?''
Reyna terhenyak, dia segera membuka tas mengambil dompet dan mencari benda tipis yang terselip diantara kartu-kartunya yang tak penting. Ia yakin Gandhi juga lolos menemukan benda itu disana.
''Ini maksudmu?'' Reyna menunjukkan benda yang tertera nama Satria disana
Satria mengangguk danĀ Reyna menepuk jidatnya keras, ia sama sekali tak pernah mengusik benda itu sejak perceraiannya dengan Satria.
''Aku butuh waktu dan rencana matang untuk mempertemukan kalian. Aku tak ingin bicarakan soal anak, itu adalah bagianmu.Kuharap kalian bisa melanjutkan hidup kalian masing-masing sesudahnya dan yang paling penting jangan sampai Pak Bram tahu''
Reyna mengangguk, setidaknya dia lega mendengar kabar Bimo baik-baik saja bahkan mengkhawatirkan dirinya selama ini.
Reyna pamit untuk kembali pulang setelah keduanya sampai kembali di kantor Satria. Tak lupa mereka bertukar nomor ponsel.
"Oh ya Rey, aku hanya penasaran kenapa kau tak coba menghubungi Om Alex dikantor?" tanya Satria saat mengantar Reyna keluar
"Om Alex? Pak Alex maksud Mas Satria, direktur marketing di kantorku?"
Satria mendelik "Oh God!! Jangan bilang kalau Bimo tak memberitahumu Pak Alex adalah Om.nya, kakak tertua dari mendiang Ibunya"
__ADS_1
Mulut Reyna menganga lebar
"Oh shitt!!" Satria kembali mengumpat