
Reyna sedang memainkan ponsel dikamar setelah Dewa tertidur, ia mencari referensi perumahan dengan angsuran terjangkau oleh gajinya. Reyna akhirnya bertekat untuk menempati rumah sendiri.
Bantuan Bram selama ini tidak ingin ia jadikan kelemahan dan alasan untuk menerimanya. Pembicaraannya tadi pagi dengan Linda membuatnya makin terdesak.
Pesan di layar dari Linda mengabarkan bahwa dia dan Bram tidak akan pulang dan bermalam di hotel karena persiapan launching esok hari belum juga selesai.
Reyna keluar kamar untuk memastikan semua pintu dan jendela sudah terkunci dan berakhir dengan cemilan didepan televisi. Reyna menahan kelopak matanya demi menyelesaikan film yang ia tonton.
Suara berisik membangunkan Reyna yang tertidur di sofa dengan televisi menyala. Jantung Reyna berdegub dan berjingkat menuju arah pintu depan, mengintip dengan takut dari celah jendela. Matanya terbelalak dan segera membuka pintu lebar-lebar saat ia kenali sosok diluar rumah.
Badan pria itu limbung kedepan saat pintu terbuka, Reyna terhuyung saat ia berusaha memapahnya.
"Aku mau muntah Reynaaa...." pria itu berjalan terseok seok menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya disana.
Reyna membantu memijit tengkuk pria itu sampai akhirnya menjauh dari closet.
Saat hendak memapahnya keluar, tangan pria itu tak sengaja berpegangan pada kran shower hingga alat pancur itu mengeluarkan air dengan kencang dan membasahi baju mereka berdua hingga basah kuyup.
"Ya ampunnnn Mas Bramm.....ahhh sialll" Reyna terpekik kesal. Buru-buru dia matikan kran itu menyeret paksa tubuh kekar ke arah kamar dan menghempaskannya di ranjang.
"Jangan kemana-mana!!" teriaknya galak pada Bram yang hanya tertawa-tawa tak jelas
Reyna masuk kekamarnya mengganti kaos rumahan dan menuju dapur mengambil segelas air lalu kembali masuk ke kamar Bram. Laki-laki itu terduduk dengan kepala bersandar pada head board dengan mata terpejam.
Reyna melepas paksa kemeja basah dan memakaikan kaos yang ia raih acak dari lemari. Hatinya kebat-kebit saat melihat dada bidang dan otot perut Bram yang terbilang masih kencang diusianya sekarang.
"Minum!" perintahnya menyodorkan segelas air
Bram pasrah saja, matanya sedikit terbuka memandang Reyna yang melihat garang didepannya. Meraih gelas dari wanita itu dan menegaknya habis.
"Sorry,,," sahutnya
"Istirahat, besok kubangunkan pagi-pagi!"
Tangan Reyna dicengkeram kuat saat ia hendak berdiri, tubuhnya terjengkang ke ranjang saat Bram menariknya kuat.
__ADS_1
Lengan Bram mengunci tubuhnya, memeluk erat dan menciumi pipinya.
"Sorry Chintya..I'm so sorry. Don't leave me. Pleaseee" pelan sekali Bram meracau terdengar jelas ditelinga Reyna.
Reyna berusaha berontak tapi Bram makin menguatkan pelukannya. Tangannya menggapai tengkuknya dan menempelkan bibirnya dengan kasar disudut bibir Reyna.
Reyna menghela napas panjang, percuma dia melawan tenaganya tak cukup kuat apalagi kondisi Bram yang sedang mabuk.
Reyna balas memeluk Bram mengusap hangat punggungnya. Perlahan pelukan Bram mengendur. Reyna mengusap pipi yang kasar dengan bulu-bulu halus lalu tersungging senyum diwajah itu.
"Tidur ya..." bisik Reyna pelan dengan mengusap lembut kening Bram
Bram terpejam dan mengangguk
.
.
.
"Baru saja aku mau bangunkan" sapanya tanpa menoleh kearah Bram
Bram mendekat dan menarik pergelangan tangan Reyna membawanya menjauh
"Semalam aku..." Bram berbisik
"Mabuk" potong Reyna "Mandilah, tante pasti cemas mencarimu"
Bram melirik jam dinding, benar dia tak ada waktu membahasnya. Kemudian dia bergegas mandi, menyantap makanan yang telah disiapkan dan menghabiskan kopinya.
"Nanti siang aku ke konveksi. Kita bicara!" serunya sebelum naik ke mobil
Reyna sengaja tidak makan siang menanti Bram menepati janjinya. Pria itu datang tergesa, Reyna berdiri dan mengekor dibelakangnya menuju resto diseberang tempat kerjanya.
"Maaf soal semalam"
__ADS_1
"It's okay, heran aku Mas Bram masih bisa pulang tanpa bikin mobil lecet" gurau Reyna
"Aku minum berlebihan, tanpa sadar aku malah pulang kerumah bukan ke kamar hotel" Bram menelan ludah "Apa semalam aku berbuat yang tidak-tidak?" tanyanya hati-hati
Reyna menggeleng "Curi-curi kesempatan peluk-peluk aku trus cium-cium pipi aku" jawabnya tanpa beban
"arghhh shittttt!!!!!" pekik Bram mengagetkan Reyna
"Mas! Bikin kaget ah!" Reyna mendekap dadanya
"Sial...kenapa kamu tak mau jika kondisiku sedang waras!"
"Mau????.. Big No! Tadi malam itu terpaksa!!!" ralat Reyna cepat
"Ada lagi?" tanya Bram dengan tatapan penuh harap
"Hemm.." Reyna menggangguk acuh
"Sungguh????" Bram mencondongkan badannya "Aku pasti mabuk berat sampai tidak berasa apa-apa" pria itu berdecak pelan
"Ih Mas Bram jorok!" tukas Reyna cepat seakan bisa membaca isi kepala pria didepannya "Kamu sebut-sebut nama Chintya" jawabnya sinis
Seketika Bram memejamkan mata dan mengepalkan tangan dia merutuk dalam hati
"Apa disaat waras nama itu juga yang akan kau bayangkan saat memeluk dan menciumku" Reyna melempar tissue bekas dengan kasar
"Are you jealous Rey??" mata Bram terbelalak indah menatapnya
Whatttt, eh apa dia bilang cemburu, ah Rey yang benar saja, apa benar kau cemburu
Bram memegang punggung tangan tangan Reyna
"Bukankah wajar emosi manusia memiliki lebih dari satu nama yang spesial" katanya lembut
"She's my ex wife Reyna. Tidak salah jika dia pernah ada bahkan hingga sekarang"
__ADS_1