Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
117. Bahagia


__ADS_3

Geliat dua tubuh polos dibawah bed cover yang terbangun 2 jam kemudian, Bimo mencium kening Reyna dan kembali memeluk erat tubuh disampingnya. Wanita itu membuka mata dan tersenyum hangat, jemarinya menyusuri kening turun menyisir ke alis Bimo yang tebal lalu menjentik-jentikkan telunjuk pelan ke hidung mancungnya.


"Bangun Kak, mandi.. gerah.. lengket" Reyna membenamkan lehernya kedalam bed cover


"Kamu dulu nanti aku nyusul"


Reyna meraup semua bed cover melingkarkan ke tubuhnya, tertawa geli saat tubuh Bimo tertelungkup polos diatas ranjang.


"Ih Rey, dingin... " Bimo menyentak bed cover hingga Reyna terhuyung jatuh kembali ke ranjang


"Ihh.... " Reyna kembali menarik pelapis ranjang berwarna putih itu "Malu.. " Reyna menaikkan hingga ke atas dada


"Rey Rey... " Bimo menggelengkan kepalanya lalu beringsut turun dan berjalan santai ke arah kamar mandi


Reyna mencuri pandang tubuh polos Bimo dari belakang. Ah mukanya tersipu...


"Sudah lepas.. ayo sini" Bimo mengulurkan tangannya saat sampai di depan kamar mandi


Reyna buru-buru melepaskan bed cover dan meraih handuk di rak stainless, tapi tangan Bimo buru-buru menepisnya lalu menarik Reyna ke bilik kaca membasahi tubuhnya dengan guyuran air dari shower.


"Ronde kedua ya .. " Bimo menyentuh telinga Reyna seduktif. Meraup bibir Reyna, tangannya meremas gundukan didepannya beralih ke pangkal paha. Lama gairah menyelimuti keduanya dibawah guyuran air hingga terdengar suara perut Reyna yang membuat keduanya terhenti lalu terbahak.


"Nanti saja ya Kak... aku lapar" Reyna menutup mulutnya malu


"Ehmm.. yaa, jadi nanti double rounds. Eh lebih.. pokoknya sampai kamu minta ampun"


"Ya ya ya.. terserah Kak Bimo saja"


Reyna berjalan menuju bath up mengisi dengan air suam-suam kuku, menambahkan sabun dan wewangian lalu berendam disana.


Keduanya berbincang hangat di bath up, Reyna bersandar di dada Bimo menikmati geli tiap jemari Bimo yang nakal meraba setiap jengkal tubuhnya.


"Kakkkk..!!! " Reyna terpekik didepan cermin saat dilihat hampir sepanjang leher hingga dada penuh bekas kemerahan


"Kenapa sih" Bimo mendekat dan memeluk istrinya dari belakang


"Gimana nutupinnya coba Kak"


"Biar aja kelihatan"


Reyna melirik sengit, awas besok kapan-kapan aku balas. Rambut setengah kering ia gerai kedepan, mengganti dress dengan kaos dan legging hitam. Dicarinya hoodie dikoper lalu dipakaikan ke kepala.


Bimo merangkul pundak istrinya dan menciuminya sepanjang koridor hingga masuk lift. Sepasang paruh bayu hanya tersenyum saat melihat keduanya.


"Semoga cepat dapat momongan" tepuk sang bapak tua dipundak Bimo


"Terimakasih Pak... " Bimo mengangguk senang


Selesai mengisi piring makan dengan beberapa menu makan malam hotel keduanya berjalan menuju meja makan bundar berukuran besar. Telah menunggu disana Alex yang berbincang akrab dengan Gandhi, Hermawan dan May beserta Aris


"Adam mana Mbak?" tanya Reyna


"Ikut Dewa kerumah Satria, dia nggak mau sendirian"


"Wah.. rupanya nggak cuma kita Kak yang honeymoon" colek Reyna dipundak Bimo


Mbak May mendelik sedangkan Aris hanya tersenyum.


"Kelihatanya besok kita check out pagi-pagi Rey soalnya harus jemput Adam dulu" kata May sambil menuntaskan makannya "Pamit sekalian ya takutnya kalau ganggu kalian"


"Makasih ya Mbak, makasih Mas ... Pakdhe.. Om"


"Kamu sakit Rey?" tanya Alex melihat Reyna tak juga melepas hoodienya


"Dingin Om" sahut Reyna sambil melirik Bimo yang terkikik geli

__ADS_1


"Maklum Om pengantin baru, malas pake baju" Bimo menyeletuk namun seketika terdiam saat Gandhi mengarahkan telunjuk padanya


"Jaga Reyna baik-baik Bimo. Jangan pernah kamu sakiti dia"


"Iya Mas" Bimo lalu terdiam seperti kucing yang berpapasan dengan anjing


"Besok kalian langsung ke cottage?" tanya Alex


"Iya Om, Reyna titip Dewa ya Om"


"Tak masalah Rey, kalian nikmati waktu kalian sebaik-baiknya. Kamu kapan resign?"


"Secepatnya Om, setelah pengganti Reyna siap untuk mutasi bagian"


"Kamu mau bekerja lagi Rey" kali ini Gandhi yang bertanya


"Ehm.. menurut Mas?" Reyna menggigit bibir bawahnya


"Lebih baik kamu dirumah, mengurus Dewa, Bimo dan Om Alex"


"Tuh Rey dengar.. " Bimo menyenggol lengan Reyna


"Gandhi.... Reyna tidak seperti May yang betah berada dirumah. Jangan bebani adikmu dengan pemikiran kolotmu itu" Hermawan berpendapat


"Sudah-sudah.. jangan dengarkan mereka Rey. Pokoknya kamu harus menikmati liburanmu" May mengelus punggung Reyna dan tersenyum menghibur.


.


.


.


Selesai makan mereka tak beranjak dari meja bundar, masih berbincang hangat. Reyna meminta Mas Aris untuk bertukar duduk dengannya, kini dia duduk diantara Bimo dan Gandhi.


"Mas.. Kak Bimo sudah jadi suami aku lho, jangan galak-galak lagi" bisik Reyna


"Hemmm... " Gandhi enggan menjawab


"Dulu Mas Gandhi saja bisa akrab sama Mas Satria"


"Ya kan beda.. "


Bimo melirik Gandhi, beda apanya aku kan juga laki-laki


"Dia menyentuhmu yang jelas-jelas suami orang"


Reyna menghela napas panjang "Kalau Mas mau marah ya harusnya Mas marah juga sama Reyna"


"Kenapa?" Gandhi menoleh


"Ya karena Reyna juga salah mau disentuh pria yang bukan suami Reyna"


Bimo membalas genggaman Reyna, lebih erat.


"Ayolah.. itu kan masa lalu. Sekarang semua sudah bahagia. Sudah saatnya melanjutkan hidup" Reyna menggoyangkan lengan Gandhi


Gandhi menepuk bahu Reyna lalu menyodorkan tangan menyalami Bimo yang langsung disambut semangat.


"Aku titip Reyna, jaga dia, jangan pernah kamu sakiti atau aku akan mengejarmu hingga kelubang semut" kata Gandhi dengan serius


"Pasti Mas!"


.


.

__ADS_1


.


Masuk dalam kamar yang redup pencahayaan Reyna melepas hoodienya lalu duduk berselonjor bersandarkan head board. Bimo tidur telentang meletakkan kepalanya di paha Reyna, menatap wajah manis diatasnya.


"Kamu yakin Rey semua sudah bahagia?" Bimo memainkan jemarinya di perut Reyna.


"Ehmm.. ya. Menurutmu ada yang belum?" Reyna menatap dan memainkan rambut Bimo


"Kayaknya Mas Gandhi perlu kamu carikan istri lagi" Bimo terkekeh


"Ish..cari mati namanya"


"Seperti apa mantan istrinya?"


Reyna mengingat-ingat "Ehm.. pembangkang seperti aku"


"Oh ya?"


"Istrinya lari dari rumah karena Mas Gandhi terlalu keras"


"Kita carikan saja jodoh wanita yang halus lembut, lebih lembut dari lelembut" Bimo terkikik


"Ihh.. Kak Bimo ah becandanya kelewatan" Reyna mendorong kepala Bimo pelan dan menyalakan televisi


Jemarinya berkali-kali memilih channel dan berhenti di film bergenre romantis.


"Rey.. "


"Ehmm.. "


"Sudah kenyang kan?"


"Heem"


"Yuk.. " Bimo mengecup paha mulus didepannya


"Hemmm"


Hanya butuh beberapa detik keduanya kembali polos tanpa sehelai benang diatas ranjang. Kembali bergulat dalam keremangan kamar hingga peluh bercucuran.


Bimo begitu lihai memainkan tubuh Reyna, dari depan dari samping dari belakang. Reyna melirik jam dinding, hampir 1 jam berlalu dan Bimo belum puas saja. Tubuhnya terasa ngilu-ngilu nikmat akibat hentakan hentakan yang diberikan berirama ke tubuhnya.


"Kakk.... " panggilnya pelan "Aku capek.." memohon


Bimo menghentikan gerakannya, melepaskan pertautan lalu telentang diranjang.


"Sebentar lagi, aku janji. Naik... " pintanya pada Reyna yang duduk bersimpuh disampingnya


"Naik?? "


Tangan Bimo menarik tungkai kaki Reyna dan menuntunnya duduk di bawah perutnya


"Ayo layani aku.. " kedua tangan Bimo terulur ke bokong Reyna dan menyatukan kembali tubuh mereka


"Aaarghhh... " Bimo memejam sesaat "Ayo Rey" Bimo memancingnya dengan menggerakkan bawah tubuhnya


Reyna menunduk malu, aaahhh kenapa juga dia tak coba melihat video "tutorial" dulu kemarin. Berasa **** sendiri sebagai amatiran.


Bimo meremas dua gundukan diatasnya dengan tetap menggerakkan panggulnya. Menarik punggung Reyna mendekat ke wajahnya. Menggigit puncak kenikmatan membuat wanitanya mengaduh


"Sakit Kak.. "


Bimo meraup bibir Reyna, tersenyum kecil disana saat Reyna mulai menggerakkan tubuhnya.


"Come On Rey,, faster" bisik Bimo penuh gairah

__ADS_1


Mata Reyna membulat, kepercayaan dirinya tumbuh tatkala bisa memuaskan Bimo dibawah sana. Keringat mengalir dari leher menuju dadanya. Gerakan itu mulai ia nikmati hingga matanya memejam menahan kenikmatan yang menerpa pusat tubuhnya.


"Ahhh... " tubuhnya bergelinjang hebat disusul oleh lenguhan Bimo menandai berakhirnya pergulatan malam ini dan tentunya malam, pagi dan siang dihari-hari selanjutnya hingga roda kehidupan bahagia mereka berhenti berputar.


__ADS_2