Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
172. Maaf (3)


__ADS_3

Cicit burung membangungkan Reyna dari tidurnya, kepalanya berdenyut karena terbangun hampir tengah malam saat Bimo baru pulang dari luar kota. Dini hari ia kembali terbangun karena tak kuasa menahan kandung kemih yang terdesak bayinya dan baru kembali tidur selepas subuh.


"Sudah bangun?" suara Bimo terdengar dari balik pintu lemari, pria itu nampak sibuk memilih kemeja yang tergantung rapi, celana panjang melorot ke pinggang memperlihatkan boxer karena resleting belum dinaikkan


Reyna beringsut turun dari ranjang dan menuju kamar mandi,membasuh muka dan berkumur.


"Hoaaaeehhmmmmm..." kantuk masih menggelayut manja di matanya


"Ini" diberikannya kemeja warna abu gelap lalu mengambil dasi berwarna navy


"Hari ini pulang malam Kak?" aku mau pengakuan dosa imbuhnya dalam hati


"Aku usahakan petang hari ya Rey, maklum setelah luar kota pasti pekerjaanku menumpuk. Kau mau kuantar jalan-jalan?"


"Enggak, kangen saja" Reyna menatap Bimo sambil merapikan dasi


"Ehemmm..." Bimo meraih tengkuk dan memainkan jemarinya disana


Bulu kuduk Reyna serta merta meremang, duh salah kasih kode nih!


"Mau kemana?" tanya suaminya saat Reyna hendak melangkah kaki keluar


"Antar Dewa kedepan"


"Pakai celana dulu sayang..."


Sontak Reyna melihat bagian bawah badannya


"Astaga aku lupa..."


Kehamilannya yang membesar membuat semua gaun malam terasa sesak dipakai, alhasil hampir tiap malam Reyna hanya mengenakan kaos rumahan Bimo tanpa celana yang menurutnya lebih nyaman untuk tidur.


---


Hanya berbekal kata kangen saja sudah membuat Bimo bagai kerbau dicucuk hidung, pulang saat petang hari, bermain dengan Dewa hingga menemani putranya tertidur lebih awal agar bisa enak-enak dengan istrinya.


Hamil tua membuat Reyna enggan diajak berhubungan disamping Bimo sendiri merasa tidak tega melihat istrinya dengan perut besar masih harus melayani nafsunya. Kode "kangen"tadi pagi tentu saja membuat pria ini tak mau melewatkan kesempatannya.


"Sayang...." panggil Bimo saat tak melihat istrinya dikamar


Nah kan, baru juga masuk kekamar sudah ngebet!


"Ya Kak" Reyna muncul dari kamar mandi hanya mengenakan bathrobe


"Mandi? Mbok Nah bilang nggak bagus ibu hamil mandi malam-malam" Bimo berjalan mendekati istrinya


"Habis gerah Kak"


"Yah,,,padahal aku mau bikin gerah-gerahan lagi" tangan usil itu menarik simpul bathrobe hingga terlepas, mengunyel-unyel bongkahan sintal yang makin membesar hingga telapak tangannya tak lagi muat menampung.


"Kak Bimo pengen"


"Lah.tadi pagi siapa yang suruh kode-kodean jangan pulang malam"


"Iya aku tapi aku mau..."


"Mau gaya apa?" tukas pria mesum didepannya cepat


Reyna memutar matanya jengah, tangan oh tanganmu Kak, dikondisikan! Jemari Bimo sudah menggerayangi bagian bahunya dan bisa ditebak hanya butuh beberapa detik aja menghempaskan bathrobe dari badan.


Aku mau bicara kak bukan enak-enak,,,ehmmm otak Reyna berpikir keras, mana mau suaminya diberi iklan saat nafsunya sudah diujung tanduk begini


"Aku mau minta sesuatu" Reyna meletakkan dua telapak tangannya di dada bidang berbulu tipis


""Hemm..ya boleh. Apa?"


"Rahasia"


"Nggak boleh rahasia"


cup cup cup


Kecupan kecil mendarat di bahu Reyna, istrinya itu menggeliat mencoba menghindar


"Pokoknya ada, kenapa tak boleh rahasia?"


"Biar setimpal dengan service yang aku mintalah"


"Ya ampun Kak, perhitungan amat sama istri. Bayangin tuh kasus prostitusi online, sekali main aja puluhan bahkan ratusan juga. Sama istri kan paket unlimited"


"Mulut kamu Rey, amit-amit" Bimo mengelus-elus perut buncit istrinya, berjongkok dan menangkupkan dua telapak tangannya "Maafkan Mama adek...Mama khilaf, jangan dengar Mama ngomong jelek"


"Iya iya maaf, habis kesel" Reyna menangkupkan kembali bathrobe dan berjalan menuju ranjang


"Memang mau apa sih?" Bimo mencondongkan badan mengecup bibir Reyna yang berkerut-kerut ngedumel tidak jelas


"Raaa Haaaa Siiii Aaaa"


"Aku mampu beli?"

__ADS_1


"Nggak bisa dibeli"


"Lahhh..." alis garang itu menukik "Jangan minta aneh-aneh ya"


"Nggak, nggak bakalan" aku cuma minta Kak Bimo maafin aku tambahnya dalam hati


"Ehmm.. malam ini suka-suka aku tapi ya"


Reyna mengangguk-angguk , terserah ...


Bimo bersimpuh didepan perut Reyna, mengusap-usap perut dan menciumnya


"Hai adik...ayah tengok ya" tanpa disangka-sangka tendangan kecil seakan menampar bibirnya


"Rey...adik gerak..Rey gerak..nendang" laki-laki itu nampak antusias selama ini ia hanya bisa memandang gerakan bayinya saat di USG


"Hehhe,,akhirnya adik mau ya gerak sama ayah" Reyna mengelus perutnya dan berganti mengelus rambut suaminya


"Sepertinya adik nggak sabar pengen ditengok ayah"


Aaaaaa.......


Lidah nakal itu mulai bermain di ujung dua gundukan miliknya, menji*at, mengu*um, meng*igit. Bimo benar-benar menepati perkataannya, kali ini dia tak sedikipun memberikan ruang gerak untuk istrinya. Hanya dia yang mendominasi permainan malam ini.


Naik turun, kanan kiri, depan belakang. Apalah-apalah, suka-sukalah....


.


.


.


"Kak..." Reyna menggeser tubuhnya yang masih berpeluh mendekat ke tubuh polos Bimo yang telentang beberapa waktu lalu mengerang hebat karena pelepasannya


"Heemmm" panggilan lirih manja istrinya itu selalu bisa meluluh lantakkan pertahanan Bimo sebagai laki-laki.


Saatnya bersiap karena sebentar lagi istrinya akan meminta sesuatu yang bisa jadi membuatnya susah


"Boleh ya sekarang mintanya" tangan Reyna mulai melingkar di perut suaminya


"Hemmmm ya" menolehkan wajah memandangi istrinya yang menyaandarkan kepala dilengannya


"Aku mau minta ....maaf" kata-katanya tercekat seakan ada yang menghalangi jalan napasnya


"Maaf?" seketika perasaan Bimo menjadi tidak enak.


Pria itu berdiri meraup boxer di bawah ranjang lalu duduk bersila


"Aku minta Kak Bimo maafin aku" menunduk sambil menahan gemuruh didadanya


"Iya, tapi kenapa?"


"Janji dulu dikasih maaf" menautkan jemarinya cemas


"Iya, tadi kan aku sudah janji apapun" Bimo melepas tautan jemari itu, menarik dua tangan itu kearah tubuhnya


"Malam itu aku pergi ke ruko Om Alex"


"Malam? Kapan?"


"Malam waku aku pulang hujan-hujanan"


Bimo terdiam mencoba memutar ingatannya "Kamu...." genggaman tangan itu terlepas "Kenapa harus pergi kesana, tak tahukan aku mencarimu kemana-mana. Bolak-balik seperti orang gila!"


Reyna terdiam "Aku hanya butuh waktu sendiri"


"Heemmm, ya sudahlah. Tak apa, lain kali pulanglah kita selesaikan dirumah" Bimo hendak beranjak dari ranjang "Tunggu, bukan hal ini kan yang akan kau bicarakan, di ruko? kamu menemui Pras!" kali ini Bimo berkacak pinggang berdiri di sisi ranjang


"Iya" Reyna mengangguk pelan "Tak hanya menemuinya tapi....." memandang takut-takut ke arah Bimo


"Tapi apa?!" bentaknya


"Terjadi kesalahan antara aku dan Pras" seperti tertelan duri, rasanya susah sekali menelan ludah untuk sekedar membasahi kerongkongannya


"Apa maksudmu" Bimo kembali naik keranjang mendekati Reyna dengan berjalan diatas kedua lututnya "Apa yang Pras lakukan padamu?"


"Bukan Pras, tapi aku!" Reyna meremas selimut didepan dadanya "Aku yang salah Kak"


"Reyna bicaralah" Bimo menjambak rambutnya bayangan yang tidak-tidak seketika menari-nari di otaknya


"Reyna!" bentaknya kasar


"Kak,,jangan marah-marah. Aku jelaskan"


"Cepat jelaskan!"


"Aku salah bicara waktu itu"


"Apa yang kalian bicarakan??"

__ADS_1


"Pras sudah menyuruhku pulang baik-baik tapi aku yang sedang emosi malah menolak" Reyna mengambil napas dalam "Dan mengatakan yang tidak-tidak"


"Bilang apa? Ayo katakan!"


"Aku bilang biar Kak Bimo tahu rasanya jika aku bertemu pria lain"


"Rey!"


Wanita itu memejamkan matanya pasrah, belum juga ke inti cerita suaminya sudah naik pitam seperti ini


"Lalu..." membuka matanya takut-takut "Pras marah karena merasa aku memanfaatkannya"


"Dan menciumku" bicara sepelan mungkin dibawah tatapan tajam suaminya yang hendak menelannya


Derrrrr.................


"Shit!!! Damn!!! What Fuc* Both Of You" Bimo melempar bantal dan guling kesegala arah


"Kak...Please,...Jangan! Anak kita dengar" Reyna spontan memegang perutnya


Bimo turun dari ranjang menuju tepi jendela


bugggghhh melepaskan amarahnya dengan memukul tembok


"Brengsek! Bajin*an!"


Reyna buru-buru turun dari ranjang, kesusahan menyeret selimut lalu memeluk suaminya dari belakang


"Kak, jangan marah-marah"


Bimo membalikkan badan "Jangan marah katamu?? Coba bicara lagi apa lagi yang kalian lakukan"


"Cuma cium Kak, sumpah!" Reyna melipat tangan didepan dada


"Dimana?" Bimo membentak "Disini?" menunjuk bibirnya "Disini?"menunjuk perpotongan lehernya "Apa disini juga?" melepaskan lipatan tangan Reyna dan menunjuk gundukan indah dibalik selimut


"Kak!" Reyna mendorong Bimo kuat


"Demi anakmu yang ada dalam perutku berhentilah. Kumohon!"


Dada Reyna naik turun, tersengal menahan amarah "Menyesal aku memilih jujur!" memukul-mukul dada Bimo dengan kesal dan penuh amarah


Tess..air mata itu mengalir tanpa permisi


"Butuh keberanian untuk aku bicara jujur. Setidaknya hargai itu" jelas Reyna masih dalam isak tangisnya


"Rey...." Bimo buru-buru menangkap tangan istrinya memintanya berhenti memukul, menangkup wajah istrinya "Maaf...maaf" menarik tubuh itu dalam pelukannya "Wajar aku marah karena aku suamimu"


"Lihat saja nanti!" lanjut Bimo sambil mengepalkan tangannya


""Kak..." tiba-tiba Reyna menghambur ke pelukan Bimo, menguasak -asak wajahnya ke dada bidang itu seperti anak kucing "Kumohon jangan pukul Pras"


"Aku sudah mengabulkan permintaanmu, jangan kau suruh aku meloloskan permintaanmu lagi"


"Makasih, Kak Bimo ganteng kalau mau menuruti istrinya" Reyna masih memegang erat tubuh suaminya susah payah karena terhalang perutnya yang membesar


Bimo hanya mendengus kasar


---


"Sakit?" Reyna mengelus-elus buku-buku tangan Bimo yang memerah dan sedikit mengelupas akibat memukul tembok


"Sedikit"


"Makanya sabar, ingat umur, ingat sebentar lagi anakmu dua. Sabar.." Reyna meniup-niup tangan suaminya


"Kenapa baru sekarang kamu cerita?"


"Karena aku juga butuh waktu untuk meminta maaf pada Pras lebih dahulu"


"Hei! Dia lancang menciummu kenapa kau yang harus meminta maaf"


"Aku yang memulainya lebih dulu Kak, aku yang salah. Sudahlah ayo tidur, jangan bahas ini lagi"


"Sebentar.. " tangan Bimo menahan lengan Reyna


"Apa lagi?"


"Seperti apa dia menciummu"


Reyna berkedip-kedip "Ah! seperti Kak Andre menciumku waktu itu"


author : baca Aku Dan Lelaki-Lelakiku part 27 🙂


"Kurang ajar!"


"Sssttt.. aku karetin nih kalau bicara kasar lagi!" Reyna mendelik sambil meremas bibir Bimo yang mengerucut kesal


Hih! Kenapa jadi dia yang jadi lebih galak ya

__ADS_1


- Bimo-


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!


__ADS_2