
#Benih Cinta
Lorong kampus di lantai 3 mulai sepi seiring matahari yang bergulir ke peraduan, Pras baru selesai membereskan beberapa worksheet hasil remidi adik-adik tingkatnya yang mengikuti mark up mata kuliah yang ia ampu sebagai asdos
Langkahnya terayun ke ruang sebelah dimana Reyna sedang duduk sendiri memangku dagu didepan meja dengan binder terbuka lebar dan menggigit ujung bolpoin di mulut
Hatinya berdesir melihat pemandangan indah didepannya. Wajah cantik, bibir sensual dengan rambut gelombang indah yang sebagian terjatuh menutupi wajah.
Reyna, perempuan yang sejak dari semester awal ia akrabi sebagai teman dan baru 1 semester ini meninggalkan debar di jantungnya. Kedekatan keduanya terjalin sejak memutuskan menjadi asdos disalah satu mata kuliah saat keduanya menginjak semester 4. Ah! kenapa tak dari dulu ia sadari kecantikan luar dalam perempuan itu
"Sudah selesai Rey?" pertanyaannya membuat sepasang mata itu mengerjab kaget dan memandangnya
"Eh Pras, kaget aku" Reyna buru-buru membereskan barang-barangnya "Sudah kok"
"Aku tungguin kalau belum kelar. Itu apa?" tunjukknya ke binder yang berisi coretan gadis itu
"Ehm, aku lagi nge-list nama perusahaan untuk magang nanti"
"Oh, kamu dapat magang dengan siapa?"
"Bianca, kamu?"
"Belum check, nggak mungkin sama Bobi atau Radit. Mereka belum cukup syarat untuk ambil magang"
"Aku doain dapet temen magang cantik biar semangat"
"Pengennya yang cantik kaya kamu" celetukan Pras membuat wajah Reyna merona
"Sudah ah, yuk pulang" Reyna mencolek lengan Pras dan berjalan mendahuluinya
Pinggul sintal itu bergoyang seirama didepan matanya, tubuh indah berbalut jeans washed dipadankan kemeja denim. Susah payah Pras menelan ludah melihat geliat tubuh indah yang berjalan didepannya.
"Aku lihat banyak kakak tingkat remidi di kelasmu" langkah Pras terayun cepat menjajari langkah Reyna
"Heem ya, mark up nilai untuk semester akhir"
"Aku lihat banyak yang godain kamu Rey, nggak risih?"
"Risih, tapi ya gimana lagi. Resiko!"
"Resiko jadi orang cantik. Aku banyak pesaing nih" tawa kecil lolos dari bibir Pras
Matanya melirik ketika gadis itu tak bergeming dengan pujiannya kali ini. Tentu saja pasti sudah kenyang dengan banyak pujian dari mulut-mulut gombal kakak tingkat hari ini
"Aku langsung cabut ya, ke kost Bobi. Ambil catatan sekalian ngembaliin gitarnya" ucap Pras saat sampai di rumah kediaman Mbak May
"Iya, makasih ya Pras" Reyna mengalungkan gitar ke tubuh Pras memposisikan tepat dibelakang punggung sementara lelaki memindah ranselnya kedepan
"Besok mau aku jemput ke kampus. Kita ada kelas Pak Bambang jam 10 kan?"
"Ehm, nggak usah. Aku udah janji sama Bianca pagi-pagi untuk ke survey ke beberapa perusahaan calon magang"
...
"Nih.. " Pras meletakkan gitar di kasur milik pemuda yang baru saja bangun tidur
"Wah, angin apa nih. Baik banget bawain gitar aku yang titipkan dirumah Reyna" Bobi menguap lebar lalu meraih gitar kesayangannya
"Hih! Biar kamu nggak kelayapan ngapelin Reyna" Pras menjatuhkan badannya bersandar di pintu kost
"Emang iya Bob? Cari mati kamu sama teman sendiri" kali ini suara Radit yang muncul dari kamar mandi
"Enggak! Fitnah! Aku cuma sekali ke rumah Reyna soalnya malas pinjem catatan Pras, kejauhan. Aku tahu Pras kamu suka sama Rey. Lagian aku cukup sadar diri kok nggak mungkin cewek seperti Reyna suka sama aku" Bobi tergelak
"Syukurlah kalau sadar diri" Pras mengambil kotak rokok dan pemantiknya, bergelung asap putih dan memanjakan pikirannya dengan bayang-bayang Reyna
"Kekepin erat Pras. Jangan sampai Rey diembat cowok lain" Radit mengambil sebatang rokok dan menyulutnya disamping Pras
"Pasti!" Pras menjawab tegas
"Tapi sabar setahun lagi.. " Radit menyenggol lengannya
"Apanya?"
"Nembaknya!"
"Kenapa?" Pras mengerutkan dahi heran
"Kata Bianca, Reyna enggan pacaran kalau belum lulus. Nggak mau ganggu konsentrasi katanya"
__ADS_1
"Oh ya?"
"Iyak betullll" Bobi menimpali sambil genjreng genjreng gitar sembarangan
Asap tipis berhembus dari hidung Pras, mungkin itu sebabnya Reyna masih berstatus jomblo hingga sekarang. Tak jarang ia dengar banyak kakak tingkatnya yang mengejar gadis incarannya itu. Tapi tak satupun yang berhasil memacarinya.
...
"Jadi gimana tadi ke perusahaan magangnya?" tanya Pras saat kuliah Pak Bambang selesai
"Lolos, ya cheating gitu lah ya secara perusahaan itu punya kenalan Papa Bianca" Reyna tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi
"Seminggu cukup datang 3 kali aja kok cukup setengah hari. Jadi nggak ganggu kuliah dan jadwal asdos" lanjutnya
"Ehmm.. Rey. Boleh tahu type cowok kamu seperti apa?"
"Ish.. Apaan sih!" Reyna mendorong bahu Pras dengan telunjuknya
Tak disangka Pras justru memegang pergelangan tangannya cepat
"Serius aku Rey! " Pras menautkan jemarinya cepat disela-sela jari Reyna
"Lepas ah" Reyna menggoyangkan cepat tautan tangan keduanya "Aku mau pulang"
"Jawab dulu" Pras menghalangi langkahnya
"Aku nggak punya tipe apapun"
"Kakak-kakak tingkat banyak yang ngejar-ngejar kamu. Nggak ada yang kamu suka satupun?"
Bukan nggak ada, tapi aku belum mau batin Reyna
"Ehm, enggak enggak ada" Reyna menggeleng enggan
"Kalau aku masuk kriteria?" Pras memajukan wajahnya
Reyna mengambil napas panjang, kembali ia mengulang jawaban untuk semua lelaki yang pernah mengutarakan isi hati baik secara eksplisit maupun implisit. Jawaban yang sudah pasti membuat mundur para lelaki yang masih berstatus mahasiswa
"Pertama aku memilih pria bukan lelaki apalagi pemuda, kedua aku memilih yang sudah mampu bertanggung jawab secara finansial setidaknya untuk dirinya sendiri"
Pras mendengus dan mengepalkan tangan tanpa disadari
"Bosnya cewek atau cowok?"
"Apanya?"
"Nggak tahulah. Kan baru minggu depan magangnya. Kok nanya gitu?"
"Takut kesamber cowok berdasi" Pras berdecak sinis dan berlalu pergi
#Pupus
Malam ini Geng Somplak mengadakan janji temu di salah satu warung tenda pinggir jalan, merayakan kesuksesan sidang TA Reyna, Pras dan Bianca
Pras bergegas turun dari motor setelah Reyna lebih dahulu turun, keduanya baru saja pulang dari kediaman dosen untuk menyelesaikan kewajiban tahap akhir sebagai asdos
"Buruan Pras, sudah telat nih kita" Reyna melepas helm dan menapakan kaki ke sisi jalan raya satu arah "Kamu juga pakai kelewatan segala"
"Maaf, habis dah lama nggak kesini. Daripada putar balik mending parkir sini saja" Pras menjajari Reyna, mengambil alih posisi di kanan gadis itu
"Ayo sekarang" Pras menggenggam erat tangan Reyna dan sedikit berlari kecil menyebrang jalan
Debar aneh berdentum kecil di sudut jantung Reyna. Gadis itu membiarkan saja tangan lelaki itu menggenggam erat, bahkan tak juga melepaskan begitu mereka sampai disisi jalan. Tetap bergandengan sambil berlari kecil menuju tempat tujuan.
"Akhirny la dateng juga .... " seloroh Radit saat melihat bayangan keduanya
"Sorry, Pak Dosen nyerocos terus nggak brenti-brenti" Pras menepuk pundak Radit sambil tersengal mengatur napas
"Kasih wejangan ke calon penganten" Radit terbahak
"Berisik kamu ah!" Pras mendorong bibir Radit
"Rey, Pras! Besok kumpulin berkas. Jangan lupa!" ingat Bianca pada keduanya
"Ehm iya Bi. Malam ini aku lengkapi. Duh senengnya kita bertiga bisa wisuda bareng yak" Reyna memeluk Bianca
"Bob.. bob.. nasib Bob. Besok kita bakalan peluk-pelukan berdua doang waktu wisuda" Radit meraup wajahnya kasar
"Idih najis. Aku mau bawa PW" Bobi melempar ekspreksi orang muntah
__ADS_1
"Halah, urusin tu TA baru mikir PW" Radit menoyor kepala karibnya
Gurauan dan gelak tawa membahana dari gerombolan itu. Makan malam di warung tenda dengan menu bebek bakar merupakan makanan mewah untuk ukuran anak kost seperti mereka. Kecuali Bianca tentunya yang dianugrahi kecukupan ekonomi diantara mereka
Bianca melambai saat menaiki mobilnya, Reyna menolak untuk menumpang karena helmnya masih ada di motor Pras
Radit pergi kemudian bersama Bobi, meninggalkan mereka berdua yang tengah berjalan beriringan. Serta merta tangan Pras menggandeng tangan Reyna
"Nyebrangnya masih jauh kali Pras"
"Ehm.. siap-siap aja. Takut kalau ada yang nyamber" Pras tersenyum menatap gadis disampingnya yang tengah menatapnya heran
Setahun terakhir ini Pras benar-benar menjaga kedekatan mereka. Tak pernah lagi memberi sinyal akan perasaannya. Toh Reyna juga berkomitmen dengan kata-katanya. Gadis itu benar-benar tak bergeming meskipun lelaki-lelaki yang menaksirnya tak berhenti berjuang mendapatkannya
Bagi Pras saat ini pun keduanya sudah bukan lagi mahasiswa, hanya tinggal pengukuhan saja di wisuda. Waktu yang dinantinya untuk mengungkapkan perasaannya secara eksplisit.
Jemari itu saling menaut erat, kedua bibir anak manusia itu menyunggingkan senyum bahagia. Keduanya hanya terdiam dan saling melempar pandang, seakan menyelami perasaan masing-masing
"Besok mau aku jemput?" tawar Pras sambil membantu melepas helm Reyna setelah mengantarkan gadis itu pulang kerumah
"Nggak usah, aku masih harus ke perpus urus pengembalian buku. Ke Lab Bahasa juga ambil sertifikar TOEFL"
Keduanya terdiam kemudian
"Rey.. "
"Ya?"
"Apa rencanamu setelah wisuda?"
"Ya cari kerja lah"
"Dimana?"
"Entah, mungkin disini. Nggak mungkin aku diijinkan ke kota lain. Kamu sendiri?"
"Aku ikut kamu kemanapun!"
"Hah?"
"Aku nggak akan lepasin kamu setelah ini".
Bicara saja Pras. Ungkapkan saja isi hatimu sekarang. Aku akan jawab iya sekarang ini juga. Aku capek bersandiwara, menutupi perasaan yang mungkin sama denganmu dan sudah lama aku pendam. Pekik Reyna dalam hati
" Ehm.. ya sudah. Sudah malam. Aku pulang ya" Pras memutar kontak motornya, menghilang di gelap malam bersama deru bising
...
Keesokan paginya di ruang TU
"Hai Rey. Barusan sampai?" sapa Pras saat melihat Reyna keluar dari antrian mahasiswa
"Aku mau pulang Pras"
"Loh itu berkas wisuda belum dikumpulkan?" tunjuk Pras melihat berkas ditangan Reyna
"Ehm. Mbak May tiba-tiba telepon minta aku pulang sekarang" gadis itu terlihat cemas
"Kenapa?"
"Entahlah, sudah ya aku nyusul Bianca dulu di parkiran. Ada berkas punyaku yang terbawa olehnya. Biar Bianca nanti yang urus berkasku"
Gadis itu melambai dan segera berlalu pergi, meninggalkan Pras yang memandangi tubuhnya hingga menghilang dikejauhan
Tak disangka hari itu adalah hari terakhir Pras melihat gadis pujaannya. Wisuda yang dia gadang-gadang sebagai moment untuk mengungkapkan isi hati hanya impian.
Ibunya sakit keras dan mengharuskan dirinya sebagai anak semata wayang pulang kampung dan merawatnya
Berpuluh pesan ia kirimkan ke nomor Reyna dalam setahun kedepan tak pernah mendapatkan balasan.
Bianca sang karibpun hanya memberitahukan bahwa Reyna telah menjalani kehidupan yang baru tanpa pernah mengatakan detailnya.
Tepat setahun Pras kembali menginjakkan kaki di kota tempat ia menimba ilmunya. Kediaman Mbak May adalah tempat pertama yang ia tuju setelah benar-benar tak bisa menghubungi Reyna di nomor lamanya.
Alih-alih berangan-angan mendapatkan kabar baik dan bisa bertemu gadis pujaannya. Penjelasan dari Mbak May cukup mengejutkan, meminta dirinya untuk melupakan Reyna karena adiknya telah menjalani kehidupan barunya bersama suaminya
Seperti inilah sakit hati yang seringkali didendangkannya untuk lagu roman picisan. Sakit hati cinta yang tak berbalas.
Pras bersikeras suatu hari nanti bertemu sekedar hanya untuk mengungkapkan saja isi hati yang terpendam sekian lama dan berharap Reyna akan membalas dengan perasaan yang sama.
__ADS_1
Apapun resikonya, apapun kenyataan pahit yang akan dihasapi. Ia hanya ingin bertemu kembali dengan Reyna. Hanya itu...
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!