
Sabtu pagi Satria bermalas-malasan di sofa menanti masakan Reyna matang.
Ting Tooong
Reyna berhenti dari kegiatan memasaknya
duhhh ampun jangan-jangan si nenek gombel, bukankah Satria bilang baru akan ke rumahnya nanti sore sesuai jadwal landingnya
Sama seperti dirinya Satria pun juga tak segera beranjak dari duduknya. Siapa yang bertamu????
Ting tooong
Reyna memainkan bola matanya mengisyaratkan agar Satria yang membuka pintu, dengan malas Satria menyeret kakinya menuju depan
"Bimoooo..ngapain kesini?"
Reyna melongokkan lehernya karena mendengar teriakan Satria memanggil nama seseorang yang tak lama muncul dihadapannya.
Bimo melenggang masuk dengan santainya menuju ruang tengah yang bersebrangan dengan dapur.
"Lohhh Reyna nggak bilang kamu , lupa kamu Rey??" lirikan Bimo membuat Reyna mengernyitkan keningnya
Lupa .. lupa apa...otaknya berputar.
Alis Bimo naik turun matanya berkedip-kedip lucu
"Apa??" Reyna berbisik
"Payah kamu ah, tugas negara aja sampe lupa"
"Kalian ngomongin apaan sih?!, jangan bawa-bawa kerjaan, ini week end" Satria menghampiri Bimo sambil berkacak pinggang
"Reynaaaaa....ini waktunya kamu les setir mobil privat sama aku" dengus Bimo sebal
Reyna menepok jidat
tapi ehhh sebentar , emang Bimo sudah bicara dengan Satria
"Apa Rey?" Satria menatap Reyna, Reyna menatap bingung kearah Bimo yang masih mengedip-ngedipkan mata usil
Sialan bukankah kemarin Bimo yang seharusnya bicara ke Satria soal ini kenapa sekarang bola panas bergulir kepadanya
"Ehh ahhhh iyaa Mas aku lupa bilang. Kantor ingin aku supaya lebih mandiri jadi harus bisa pake mobil" jawab Reyna tergagap
"Kenapa musti pas week end, kenapa juga musti dengan Bimo " cecar Satria
"Eh Sat, emang kamu ada waktu buat Reyna? Kamu antar jemput dia saja bikin huru hara sama Niken"
Satria meghembuskan napas berat dan duduk terdiam dimeja makan. Dia mulai bisa mengendus akal-akalan Bimo untuk lebih makin dekat dengan Reyna.
"Laper ahhh. Nebeng makan yak" Bimo dengan cueknya melangkah menuju dapur berasa dia yang jadi tuan rumah.
"Masak apa Rey?" Bimo melongok-longok kearah penggorengan
__ADS_1
"Sayur bayam" Reyna menunjuk ke panci "Sama udang balado, bentar lagi matang, Kak Bimo duduk saja sana" usir Reyna dari dapur
Reyna menyiapkan untuk 3 piring, menatap geli ke Satria yang memelototi Bimo disampingnya. Dengan cekatan mengambilkan nasi untuk kedua pria yang segera berebut lauk bagai anak kecil.
"Beruntung kamu Sat ada Reyna, bisa makan enak gini tiap hari" cicit Bimo lahab sambil mengunyah makanan dimulutnya.
Beruntung lagi jika aku bisa jadi suaminya Bimo berangan-angan
.
.
.
Selepas "membimbing" Reyna Ahh yang tepat curi-curi kesempatan pegang-pegang tangan mereka berdua memutuskan menuju kedai es krim.
"Kamu jangan buru-buru mahir ya Rey biar kita bisa ketemu tiap week end" ucap Bimo tanpa basa-basi.
"Bilang saja mau nebeng sarapan tiap week end" gurau Reyna mengusir debar di jantungnya
.
.
.
Week end keempat
Matahari masih malas bergulir ke peraduan ketika Reyna hendak memulai aktivitasnya di dapur.
Ting Tong
Keduanya berpandangan, sepagi inikah Bimo datang. Diikuti dengan suara pagar digeser, jelas bukan Bimo, tidak mungkin Bimo berniat memarkirkan mobilnya ke garasi.
Satria beranjak berjalan kedepan melongok ke jendela hendak melihat siapa yang datang lebih dahulu.
Reyna terperanjat saat melihat Satria pontang panting berlari masuk kedalam rumah.
"Rey..." bisiknya pelan, menggandeng eh tepatnya menyeret pergelangan tangannya.
"Bapak Ibu datang"
Bagaikan satu pemikiran mereka berdua menghambur ke arah kamar Reyna, moment yang mereka pernah perbincangkan berdua akhirnya tiba.
Dari awal perjanjian mereka yang mengharuskan Reyna dan Satria berpisah kamar. Satria pernah meminta Reyna untuk cukup menata barang-barang pribadinya di koper besar sehingga memudahkan saat memindahnya disaat ada keluarga yang berkunjung.
Dengan sigap Satria mengangkat koper berukuran besar tersebut menuju kamarnya sedangkan Reyna berjibaku menarik paksa sprei , melepaskan dengan paksa kain sarung yang membungkus bantal dan gulingnya.
Meraup kasar kain-kain pembungkus tersebut beserta selimut yang masih terserak dilantai berlari dengan kecepatan penuh ke arah belakang lalu memasukkan terburu kedalam mesin cuci.
Kedua berjalan tergopoh kedepan, Reyna menarik lengan Satria saat tersadar akan sesuatu.
"Cincin mas". Satri berbalik menuju almari membuka paksa laci didalamnya dan segera memasangkan benda bundar itu di jari manis kanannya. Sedangkan Reyna terpaksa harus membuka koper lebih dahulu, dia mengumpat dalam hati kenapa cincin itu harus tak juga ditemukan.
__ADS_1
Ting Tong Ting Tong
Nampak wajah Satria setelah pintu rumah terbuka dan pura-pura menampakkan wajah terkejut.
"Lama amat Sat , jangan bilang kalian masih tidur jam segini. Sudah siang" sungut Bu Wiji saat Satria mencium punggung tangannya
"Dibelakang Bu, nggak dengar"
"Nak Reyna mana?" tanya Pak Wiji
"Ehhh ada Bapak ada Ibu" seloroh Reyna yang tergopoh menyambut kedua mertuanya itu, keringat bercucuran dipelipisnya.
"Maaf kami datang pagi-pagi. Nanti siang kita mau datang ke resepsi pernikahan teman Bapakmu" terang Bu Wiji
"Satria, bapakmu antar ke kamar dulu biar istirahat, nekat mau bawa mobil sendiri kesini" pinta Bu Wiji
Baru saja Satria melangkah kaki selangkah menuju belakang
"Ehhhh... sekalian ambil koper dulu di bagasi" lanjut Bu Wiji
"Bapak Ibu menginaaapp???!!" teriak Satria dan Reyna hampir bersamaan lalu keduanya berpandangan
"Cuma semalam kok Nak Rey, nanti malam kalian kan masih bisa melanjutkan olahraganya. Maaf kalau kita ganggu" gurau Bu Wiji yang salah mengartikan keringat bercucuran dari kedua orang itu
deggggg...
.
.
.
Satu jam berlalu, Bu Wiji sibuk menata hasil masakan dengan menantunya tadi di dapur. Reyna sedang mandi membersihkan dirinya, Pak Wiji masih beristirahat dikamar,sedangkan Satria bermalas-malasan diruang tengah memasang head set di telinganya.
Ting Tong Ting Tong
Bu Wiji bergegas menuju depan dan membukakan pintu
"Ya nak cari siapa?"
Pria tersebut nampak terkejut , tapi segera dengan sopan menyalami wanita paruh baya didepannya
"Reyna ada Bu?"
"Ohh..ada ada.. masuk nak duduk dulu"
Bu Wiji duduk berhadapan dengan pria tampan itu
"Tunggu sebentar orangnya lagi mandi. Saya panggilkan dulu biar tidak kelamaan nunggu"
"Oh ya Bu..terimakasih" sahut pria didepannya
Bu Wiji berdiri dan melangkah masuk baru beberapa langkah dia berbalik dan berjalan kembali ke ruang tamu
__ADS_1
"Oh ya dengan siapa...nanti kalau menantu saya tanya"
"Bimo, saya..." ehhh whattt apa dia ta salah dengar menantu saya???!!