
Derap langkah terdengar mendekat ke arah Reyna. Entah Reyna harus merasa lega atau kecewa saat melihat wajah lelaki didepannya melihatnya heran
"Cari siapa mbak?"
"Bimo..saya cari Bimo"
"Saya penghuni baru rumah ini, baru satu bulan disini"
Reyna menoleh kekanan dan kekiri memastikan dia tidak salah memasuki rumah
"Maaf, mas tahu dimana penghuni rumah ini sebelumnya?"
"Ehmmm.. maaf mbak saya kurang tahu"
Pamitnya dengan lesu, Reyna kembali duduk ke bangku penumpang. Diliriknya jam tangan, kantor Bimo pasti juga sudah tutup.
"Pulang?" tanya Bianca
Reyna menggeleng. Hanya Satria harapannya terakhir sekalipun dia harus bertemu nenek gombel.
"Dia sudah pindah, antar aku kerumah temannya yuk" pinta Reyna
Tak lama keduanya telah sampai di depan rumah Satria, untuk kedua kalinya Reyna harus mengalami kekecewaan. MMT besar terpampang disana "DIJUAL", sudah ia coba hubungi nomor terpampang disana tapi makelar yang menjawab panggilannya.
"Barang sepenting apa sih Rey?" tanya Bianca
"Penting banget" jawab Rey singkat
"Trus gimana, nomor tak punya , rumah sudah pindah juga"
"Besok aku coba hubungi kantornya"
"Kita kesana aja mumpung disini" sahut Bianca bersemangat
"Sudah tutup Biii.." Reyna memperlihatkan benda bundar melingkar dipergelangannya
.
__ADS_1
.
.
Sepanjang perjalanan pulang tak banyak yang mereka perbincangkan, Bianca hanya berceloteh kini ia membantu di butik milik mamanya.
Reyna disambut hangat oleh Linda, mama Bianca, perempuan yang masih cantik memikat meski usianya hampir menyentuh angka 5.
"Kata Bianca..Reyna kemari untuk cari kerja?"
"Iya tante, maaf kalau Reyna akan merepotkan beberapa waktu kedepan"
"Ahhh enggak kok, tante malah senang ada tambah penghuni biar rame. Apalagi Bianca, biar ada teman main, maklum pacar nggak punya" ledek Linda
Bianca hanya monyong monyong lucu
"Ehmmm kalau Reyna mau ,ikut bantuin aja di konveksi tante. Tante agak kerepotan karena sekarang harus sering bolak balik ke butik konveksi"
"Ehmm makasih tante , kalau perlu saya bantu saja nggak perlu digaji" jawab Reyna sungkan
.
.
.
Esok menjelang, Reyna kembali masuk kekamar, Mama Linda dan Bianca sudah berangkat ke butik setelah ketiganya selesai sarapan. Rumah mama Linda cukup besar dengan dua lantai, lantai atas dengan dua kamar ditempati mama Linda dan Bianca, dua kamar dibawah yang salah satu kini ia tempati. Assisten rumah tangga Mbak Ayu dan sopir Pak Imron, keduanya pulang setelah jam kerja berakhir.
Kepala Reyna berat karena semalam dia susah tidur, ponselnya dia genggam tak sabar menanti pukul 9 untuk mencoba peruntungannya.
"Halo selamat pagi, dengan Della ada yang bisa dibantu?" jawab resepsionis diseberang sana
Cckk resepsionispun sudah berganti, makin sulit untuk Reyna mengkorek informasi
"Halo bisa disambungkan dengan Pak Bimo supervisor marketing mbak?" jawab Reyna
''Mohon tunggu sebentar,,maaf dengan siapa saya bicara?''
__ADS_1
''Reyna..'' ia gigit kuku jarinya cemas
"Maaf Ibu, tidak ada Pak Bimo dibagian marketing. Ada lagi yang bisa saya bantu?"
Beberapa nama rekan marketing disebut Reyna
Resepsionis itu mendengus ''Coba saya bantu untuk tanyakan kembali, maaf sebelumnya ada keperluan apa Ibu Reyna?''
"Saya hendak mengajukan kerjasama kembali, saya perlu beberapa file penunjang dari team yang menangani proyek sebelumnya" bohong Reyna
Cukup lama Reyna menunggu hingga dia mendengar suara diseberang sana
"Halo..maaf lama menunggu. Sesuai informasi Pak Bimo dan nama-nama tersebut sudah tidak lagi bekerja disini. Me....."
Cicit suara resepsionis masih terdengar diponsel yang tergenggam erat ditangan Reyna. Ia terduduk lemas dan kepalanya pening, lemah melangkah kedapur untuk minum menyegarkan tenggorokannya yang seketika tercekat. Bagian bawah perutnya terasa menegang kaku dan langkahnya makin limbung sebelum ia sempat mencapai dapur.
.
.
.
Bau khas cairan pembersih lantai menyengat menyeruak ke hidung Reyna membuatnya memaksakan dia membuka mata. Dinding putih tirai putih dan selang infus tertangkap oleh retina matanya, senyuman mama Linda nampak kemudian, wanita itu menghela napas lega.
"Bianca..tolong panggilkan suster" pintanya sambil menepuk pundak Bianca pelan dan membisikkan sesuatu.
"Reyna kenapa Tante?"
Mama Linda hanya diam, tak berselang lama suster datang memeriksa kondisi Reyna dan mencatat beberapa hal di buku "kondisi pasien bagus, saya permisi"
"Mama tinggal dulu ya, Bianca disini kok" pamit mama Linda.
Bianca menunggu hingga punggung mamanya hilang lalu melipat tangan didepan dadanya menatap tajam ke arah Reyna.
"Boleh pulang nggak Bii.. aku dah sehat kan?" Reyna mencoba memaksakan duduk
"Kita tunggu jadwal kontrol dokter Spog dan memastikan janinmu baik-baik saja" jawab Bianca dingin
__ADS_1