
Reyna kembali mematut dirinya didepan cermin besar, kebaya putih bersih kontras dengan warna kulitnya yang sawo matang. Rambut bergelombangnya rapi di gelung keatas dengan hiasan. Polesan make up yang membuatnya makin memukau.
Diambilnya 2 helai tissue mengelap tangannya yang mengeluarkan keringat dingin, jantung berdebar dan gugup menyelimuti perasaannya.
"Sudah siap Rey?" sapaan wanita membuatnya menoleh
"Ehm, iya Mbak"
"Bapak dan Mas Gandhi sudah siap juga, yuk berangkat" May menggenggam jemari Reyna membantunya berjalan.
"Reyna... " sapa Hermawan dan Gandhi bersamaan saat melihat ia muncul dari kamar apartement yang menjadi tempat singgahnya sejak kemarin bersama May dan dua bocah lelaki, Adam dan Dewa.
Pria itu mendekap tubuh Reyna "Bikin pangling.. "
"Mas dan Pakdhe datang jam berapa? Aku sampe nggak sempat lihat karena dirias" Reyna merapikan beskap hitam pria itu
"Dari pagi buta..dari semalam susah tidur" Gandhi mengambil alih tangan Reyna dari May lalu menuntun sang adik menuruni lift dan masuk ke mobil.
.
.
.
"Kak Bimo sudah kasih kabar, on the way katanya" kata Reyna sesaat memasuki mobil menuju hotel
"Hemm ya, dari WO juga barusan ngabarin" tukas May
Ah, apa kabar prianya itu, 2 minggu lamanya tak bertemu. Hari ini mereka akan dipersatukan dalam janji suci sehidup semati.
Ingatannya kembali tadi malam saat keduanya terjaga hingga tengah malam
"Malam calon nyonya Bimo" sapa Bimo merdu ditelinganya begitu panggilan diterima
"Loh, Kak Bimo nggak tidur?"
"Nggak bisa tidur, nunggu besok sekalian tidur sama kamu biar puas" tawa kecil lepas kemudian
"Gimana mau puas kalau Kak Bimo ngantuk" Reyna ganti terkekeh
"Rey.. aku deg-deg.an, kamu?"
"Aku belum apa-apa kok Kak Bimo sudah deg-deg.an"
"Ish kamu ah, buat aku pengen putar jarum jam dinding"
terdiam
"Do you love me?"
"Kak.... "
"Just answer please"
__ADS_1
"Yes, do you?"
"Much!" tukas Bimo cepat
"Ya sudah yuk tidur.."
"Iya.. puas-puasin besok 3 hari kamu siap-siap begadang"
Reyna tergelak "Suka-suka Kak Bimo lah"
"Aaahhhh sayang cuma 3 hari liburnya.. "
"Ehmm.. Udah ah Kak" Reyna mengecup ponselnya hingga terdengar Bimo tertawa geli diujung sana.
.
.
.
Reyna menata napasnya saat hendak menuruni mobil pengantin, dilihatnya dekorasi indah menghias ballroom hotel
"Ayo.. " Gandhi mengulurkan tangan
Dengan langkah anggun Reyna melangkah pasti di hamparan karpet merah berhiaskan bunga menuju meja ditengah ruangan besar. Dari jauh terlihat punggung Bimo berhadapan dengan bapak penghulu.
Terdengar MC menyuarakan kedatangan calon mempelai wanita yang membuat semua mata tertuju padanya. Degub jantung Reyna semakin menjadi, pandangan ia edarkan ke segala arah. Nampak seluruh keluarga dan teman dekat, Niken melambai mengkodenya untuk tersenyum saat Reyna tepat berjalan di depannya, dengan cepat mengambil gambar dikamera ponselnya
Bimo menoleh kearahnya dan menatap tak berkedip, mata mereka bertemu, senyum tersungging dari bibir masing-masing.
Reyna melirik Bimo yang meremas pinggir celananya, pria itu berkali-kali menarik napas dan menghembuskannya. Dia colek punggung tangan Bimo dan menjulurkan lidahnya untuk mengurai ketegangan, pria itu hanya tersenyum simpul.
.
.
.
"Syahh..... " pekik membahana terdengar di ball room hotel.
Tak disangka Bimo berdiri dan berteriak "YES" sekencang-kencangnya. Membungkuk dan menyerobot mencium pipi kanan dan kiri Reyna mengundang gelak tawa.
"Ish.. Kak Bimo malu-maluin" Reyna mengerucutkan bibirnya.
.
.
.
Selang 3 jam kemudian pesta berlangsung, sebagian besar tamu adalah rekan kerja mereka. Lelah capek bersesi foto dengan keluarga dan rekan, Reyna dan Bimo duduk di pelaminan.
"Kak.. " Reyna berbisik gelisah
__ADS_1
"Ehm.. capek?" Bimo menoleh dan mengelus punggung tangan Reyna
Reyna menggeleng "Nunggu tamu special.. "
"Oh.. mungkin sebentar lagi" Bimo menoleh kekanan dan kekiri
"Takut Rara keburu ngantuk nanti rewel minta pulang gimana?" bisik Reyna khawatir sambil melirik deretan meja disamping pelaminan tempat tamu VIP, nampak Satria juga gelisah memandangnya.
Tak berselang lama Gandhi menyeruak ke depan panggung dan memberikan kode kepada Reyna untuk bersiap.
Hermawan terpaku saat melihat Pak Wiji menapaki tangga naik ke panggung. Gandhi bersiap berdiri dibelakang kedua pasangan tersebut sekaligus memperintahkan panitia untuk menghentikan laju tamu dibelakang mereka untuk sesaat.
Kedua karib berpelukan lama saling menepuk punggung dan saling berbisik, Reyna terharu saat melihat Hermawan menyeka air mata dengan punggung tangannya.
"Bapak.. sudah nanti reunian lagi" tepukan May dibahu Hermawan menghentikan tangisnya
"Bapak Ibu, terimakasih sudah berkenan hadir. Reyna mohon restunya" Reyna mencium sopan tangan keduanya dan memeluk Ibu Wiji
"Nak Rey bikin Ibu pangling" Bu Wiji menjawil dagu Reyna gemas "Loh ini Nak Bimo teman Satria bukan?" tanya Bu Wiji mengingat pria yang berdiri disamping Reyna
"Iya Ibu.." Reyna melirik Bimo penuh arti "Habis ini ikut Mas Gandhi ya ketemu Mas Satria"
"Makasih Nak Rey, semoga pernikahanmu langgeng" Pak Wiji menepuk bahu Reyna pelan
"Makasih Bapak" Reyna dan Bimo mengangguk hormat
Kedua mempelai itu masih mengikuti arah langkah kedua paruh baya itu hingga sedikit keributan terjadi di pojok ruang. Tangis bahagia Ibu Wiji terdengar sesaat setelah keduanya sampai di meja tempat Satria dan keluarganya.
Niken yang nampak terkejut reflek berdiri dan mundur kebelakang
"Tak apa.. " Satria melupakan skenario pura-pura terkejutnya itu meraih pergelangan tangan Niken dan mengamit pinggang wanita itu ke pelukannya.
Berdiri mematung melihat dua paruh baya itu menciumi pipi Rara yang nampak kebingungan
"Siapa Bunda?"
"Ini kakek nenek Rara" jawab Satria "Ayo salim"
"Jadi Rara punya kakek punya nenek?" bocah mungil itu membulatkan matanya bahagia
Niken mengangguk dan mendorong tubuh mungil itu kedepan
Situasi mulai kondusif setelah orangtua Satria puas berjumpa dengan Rara. Satria nampak berbincang hangat demikian juga Niken. Reyna menghembuskan napas lega dan mempersilahkan antrian tamu untuk naik ke panggung.
"Puas aku Kak" Reyna menyunggingkan senyumnya
Bimo jahil menepuk bokong Reyna dan berbisik "Belum juga apa-apa kok sudah puas"
"Ya ampun Kak, tangan ih tangan dikondisikan" Reyna menyikut perut Bimo
"Siap komandan, nanti malam siap dikondisikan" sahuy Bimo sambil meringis
"Yakin kuat tunggu sampai malam? 2 jam lagi paling kita sudah dikurung dikamar" Reyna tersenyum simpul
__ADS_1
"Jadi boleh nih langsung hajar Rey?"
"Siapa takut.... " Reyna mengedipkan matanya menggoda