Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
110. Ulah Bianca


__ADS_3

Rombongan dangdut itu menyerbu ke arah Reyna dan Bimo, Bianca yang paling norak diantara mereka semua. Dipeluk dan diciumnya pipi Reyna bertubi-tubi


''Selamat ya calon Nyonya Bimo, happy birthday girl!''


''Selamat Rey, happy birthday , wish you all the best'' Linda berganti memeluk Reyna


Suami Bianca menyalami Bimo, sedangkan Dewa yang belum mengerti hanya ikut tertawa senang digendongan Bimo.


---


Mereka kini berada di resto keluarga dekat dengan lokasi pantai, mengitari meja bundar yang penuh dengan makanan.


''All you can eat, terimakasih untuk semua bantuannya'' Bimo membungkuk dengan senyum tak lepas dari bibirnya


Bantuan? Eh apa  maksud semua ini? Seringai di sudut mulut Bianca membuat Reyna tiba-tiba tak enak hati, ditambah dengan Linda yang menutup mulut menahan tawa.


''Bianca...!'' telunjuk Reyna mengarah pada wanita yang akhirnya tertawa  terbahak


''Sorry Rey,,sorry. Habis aku gemas melihatmu!"


''Ahhh, say it. What you did?"


''Aku nyolong nomor Kak Bimo dari ponselmu''


''Eh,,,kapan???''


''Makanya Bu jangan sembarangan taruh ponsel, nggak pake lock screen lagi"'


''Trus!''


''Ah tanya aja tuh sama calon suami kamu'' Bianca mengibaskan tangannya malas


Bimo hanya menyentuh punggung tangan Reyna seakan menyuruhnya diam, senyum kecut ia arahkan ke pria yang makan dengan santainya.


---


''Tante, besok Senin saja ya aku kirim review hasil meetingnya'' ucap Reyna setengah berbisik, sebenarnya dia enggan membicarakan pekerjaan di waktu makan


Tangan perempuan itu mengibas-ibas cepat ''Ehmm,, tak perlu. He's fake customer Rey''


''Mamaaa......'' Bianca berteriak


Linda nampak terkejut dan meringis kemudian ''Ooppss sorry''


''Fake? Oh God Bianca,ini ulahmu juga ya''


''Reyna!'' tegur Bimo ''She just want to make you busy today''


''Parah kamu ah! Dapet dari mana kamu Oppa Korea macam itu huh?"


''Dapet dari temen akulah yang kebetulan dititipin anak magang mahasiswa Korea" mulut Bianca mengunyah ''Seru lagi kalau dapet Om Om Korea ya Kak'' Bianca melirik Bimo


''Ohhhh...'' Reyna mendelik ke arah Bimo

__ADS_1


CUP


Tiba-tiba ciuman Bimo mendarat dipipinya


"Makan dulu atau.... " Bimo tak melanjutnya kata-katanya setelah melihat Reyna menyuapkan makanan ke mulutnya


Iya-iya aku makan, daripada bibirku jadi sasaran kalau tak segera diam.


.


.


.


Dewa tertidur di rumahnya (rumah yang Bimo belikan untuknya) saat Reyna meninggalkannya untuk mandi.


"Sepertinya dia kecapekan bermain di pantai saat menunggu kita, biarkan dia tidur disini malam ini ya"


Bimo mengangkat tubuh mungil Dewa ke kamar utama setelah mendapat anggukan dari Reyna. Kini tinggal mereka berdua diruang tengah berniat menghabiskan sisa malam dengan menonton televisi dengan cemilan dan minuman ringan.


"Jadi ini semua persekongkolan Kak Bimo dengan Bianca" tanya Reyna yang masih penasaran dengan kejadian petang tadi.


"Ya.. bisa dibilang seperti itu. Dia meneleponku setelah kita menjenguk bayinya waktu itu. Memintaku menjaga jarak dan memberimu waktu untuk... "


Reyna memukul dada pria itu "Ya... dan kalian berhasil" Reyna menyandarkan kepalanya ke dada Bimo


"Dan ide soal Oppa Korea itu huh" Reyna mendongak


Bimo tergelak "Ah itu... tadinya aku hanya bercanda dengan Bianca, aku tak sangka dia benar-benar ingin totalitas"


"Did he tease you?"


"Hah, hanya ajakan makan siang"


"Hanya itu?" Bimo mencondongkan badannya jemarinya merambat menyusuri lengan Reyna seduktif


Reyna meremas kaosnya, ah dia juga menginginkannya...


Ponsel Bimo tiba-tiba berdering, Reyna menarik tubuhnya dari dada Bimo


"Ehmm... ya Om" ekor mata Bimo melirik kearah Reyna


"Ya sesuai rencana .. ya ya oke Om.. secepatnya. .. Baik... "


Bimo kembali merangkul Reyna ke pelukannya "Reyna.. minggu depan aku bawa kamu pulang. Om Alex akan melamarmu untukku didepan keluargamu"


"Kak Bimo yakin"


"Apa maksud pertanyaanmu?"


"Ehmm maksudku, Om Alex kan tidak tahu dulu aku pernah menikah.. "


"Ssstt.. " Bimo menempelkan telunjuknya ke bibir Reyna "Aku sudah menjelaskan ke Om Alex semua"

__ADS_1


Reyna mendekap dadanya, terasa jantungnya mau melompat dari tempatnya bersarang


"Yaaa.. meski aku babak belur dibuatnya. Dikira aku ini pebinor" Bimo meringis


Reyna mengelus pipi Bimo lembut "Emang benar kan Kak Bimo pebinor. Perebut hati bini orang" Reyna terkikik geli


"Kak.. nanti kalau dibikin babak belur lagi sama Mas Gandhi gimana?" tanyanya cemas


"Tak apa...apapun itu asal kamu segera jadi Nyonya Bimo"


"Ehmm.. Kak Bimo nggak masalah kita berjauhan dulu, atau kita harus tunggu sampai Dewa selesai sekolah? 4 bulan lagi kan"


Bimo menggeleng cepat "Tak masalah dengan jarak, aku tak mau menunggu lagi, esokpun aku siap kalau harus menikahimu!"


Reyna melorot manja tidur di pangkuan Bimo, pria itu menatap lurus layar televisi sambil memainkan rambut Reyna.


"Reyna.. " katanya sambil tak melepas tatapannya dari layar kaca "Apa kau keberatan jika aku minta kau tak bekerja lagi"


Reyna terdiam, hatinya berperang harus menjawab iya atau tidak


"Aku yakin mampu menafkahimu lebih dari kata cukup dan kamu bisa melakukan apa saja diwaktu senggang setelah mengurus anak dan rumah" tangan Bimo membelai lembut rambutnya "Bagaimana?" tengoknya kebawah menatap wanita itu


"Ehm.. Kak.. aku kan masih harus melunasi kredit rumah aku"


"Tak masalah, kita jual saja dua rumah ini. Toh kita tak akan kembali ke kota ini. Kamu juga sudah punya apartement"


"Bukan itu, setidaknya biarkan aku memiliki sesuatu dari hasil keringatku sendiri. Aku sudah pakai uang peninggalan orang tuaku untuk uang mukanya waktu itu. Lagipula rumah itu banyak kenangannya Kak"


Bimo menghela napas panjang "Ehm ya sudah, kita bicarakan ini lain kali ya"


Tuingggg


Reyna mengambil ponselnya di atas meja siapa malam-malam begini mengirimkan pesan


Bianca : satu rekaman dikirimkan💏


Reyna sudah bisa menebak dengan hanya melihat emoticon pria wanita yang berciuman yang dikirim bersama rekaman itu, meskipun belum sempurna terunduh


"Siapa?" Bimo melongok karena melihat wajah Reyna yang serius menatap layar ponselnya hingga tak mengindahkan pertanyaannya


Rekaman ciuman mereka dipantai petang tadi membuat hati Reyna kebat kebit, aargghh tak ia sangka ciuman itu begitu menggelora penuh nafsu


Belum juga selesai ia lihat keseluruhan rekaman, Bimo merebut ponsel dan meletakkan kembali kemeja. Mengangkat kepala Reyna dari pahanya dan buru-buru berdiri lalu menindih tubuh wanita itu diatas sofa.


******* bibirnya tanpa ampun, tangannya bebas meremas gundukan sintal membuat pemiliknya mendesah kecil. Melepas kaosnya dilanjutkan dengan menarik paksa kaos Reyna melewati kepala lalu menghempaskan ke segala arah.


Ditatapnya dua gunung yang masih tertutup BRA, susah payah menelan ludah. Waktu itu ia hanya mengecapnya dalam gelap, kali ini pemandangan indah itu nampak begitu nyata. Diturunkan perlahan kain penutup itu hingga puncak coklat kehitaman terlihat, lenguhan pendek Reyna begitu memabukkan saat ia bermain-main dengan benda itu.


Sesuatu terasa menggeliat menegang dibawah sana menuntut sesuatu yang lebih. Jarinya menelusup ke celana pendek merasakan paha mulus membuat sang pemilik menyentak tubuhnya kuat.


"Kak.. I'm on my period!"


Pekikan itu seketika menguapkan libidonya. Buru-buru ia raup kaos milik Reyna dan memakaikan kembali ke tubuh sintal itu.

__ADS_1


Damn! Bimo menarik rambutnya frustasi


__ADS_2