
"Wooooekkkk" kesekian kalinya Reyna memuntahkan cairan bening yang terasa pahit dilidahnya, terduduk lemas dilantai kamar mandi
Lagi pagi ini ia rasakan badannya lemas bagai tak bertulang padahal semalam ia rasakan baik-baik saja, termangu didepan closet hingga tak menyadari kedatangan Gandhi di belakangnya
"Kenapa?" tanya pria itu cemas
"Masuk angin" jawab Reyna sambil mengusap air mata yang ikut keluar saat menahan mual dengan punggung tangannya
Gandhi berdecak "Semalam kan tidak kemana-mana"
"Ehmm.."
"Kita pulang saja, sepertinya kamu perlu ke dokter"
"Katanya kabur 3 hari"
"Jadi masih mau disini?" Gandhi memapah Reyna berdiri
"Enggak" Reyna menggeleng
"Jadi sudah siap bertemu?"
"Belum"
Ih gemas dia melihat sikap Reyna
"Ya sudah, kemasi barangmu kita pulang" Gandhi berdiri
"Sekarang?"
"Besok" pria itu berbalik menjitak kepala adiknya "Ya sekaranglah!"
Gandhi berjalan keluar meninggalkan Reyna yang masih termangu di depan wastafel, merasakan ada yang salah dengan tubuhnya akhir-akhir ini. Sigap menuju kamarnya dan mengambil ponsel membuka aplikasi kalender, menggigit-gigit bibir bawahnya ketika tersadar sudah satu minggu bergulir dari waktu maksimal jadwal bulanannya.
Mengelus perutnya tanpa sadar, mungkinkah ada kehidupan didalam sana? Andai ada pintu doraemon pasti dia sudah pergi ke apotik dan membeli test pack untuk meyakinkan nalurinya sebagai perempuan.
---
"Ayo makan" Gandhi menyodorkan semangkuk sop ayam dengan aroma yang membuat air liur menetes
Reyna menggeleng "Reyna makan nasi saja sama ini" mengambil tempe goreng hangat di nampan
"Makan yang banyak setelah itu kita mampir ke apotik beli obat" Gandhi mengulurkan tangan menempelkan punggung tangannya ke dahi Reyna
"Nggak panas" gumamnya "Aku takut kamu sakit"
Reyna menghalau tangan Gandhi "Nggak apa-apa"
__ADS_1
"Mukamu pucat begitu. Ayo makan, siapa tahu kamu cuma kelaparan" bujuk Gandhi lagi
Hah!
apotik
"Yang mana Ibu?"
"Ini,itu sama yang itu juga" tunjuk Reyna pada 3 jenis test pack di etalase "Semua nggak perlu urine pagi kan ya Mbak?"
"Iya Ibu, bisa langsung dipakai"
"Ada lagi?"
"Ehm vitamin saja" tambahnya
"Mas Gandhi pulang hari ini?" tanya Reyna setelah duduk di kursi penumpang
"Ngusir?"
"Enggak, cuma nanya"
"Lihat nanti!" jawabnya pendek
Reyna menghela napas pendek, tak sabar rasanya sampai dirumah bertemu Dewa. Jemarinya menggeser pelan foto-foto di galeri ponselnya menatap foto Bimo lekat-lekat, dua hari dia rasa cukup untuk menenangkan diri. Mengakhiri semua masalah dan kembali memperbaiki hubungan mereka.
"Halo sayang, Mama kangen" dipeluknya erat putranya
"Hai uncle" sapa anak kecil itu pada Gandhi
"Hai bocah, panggil aku Pakdhe. Kamu harus belajar bahasa ibumu dulu baru bahasa orang asing" Gandhi meraup lengan bocah kecil itu dan menaikkan ke atas tubuhnya seperti memanggul beras
"Mana Opa?" tanya Reyna pada putranya
"Di taman belakang" Dewa menunjuk bagian belakang rumah
"Mas, aku temui Om Alex dulu" Reyna meletakkan tas travel dianak tangga pertama dan melenggang menuju belakang
"Halo Om" tepukan di pundak Alex mengagetkan pria paruh baya itu yang sontak menoleh kebelakang
"Loh, kok sudah pulang??"
"Ehm, iya Reyna kangen Dewa"
"Dewa atau ayahnya?" goda Alex
"Dua-duanya" Reyna duduk dibangku taman "Kak Bimo.." tidak melanjutkan kata-katanya melihat reaksi Alex
__ADS_1
"Syukurlah kamu pulang, bisa-bisa suamimu masuk rumah sakit jiwa" Alex terbahak
---
Waktu beranjak sore, sedari tadi tubuhnya dikuasai anaknya. Tak boleh beranjak kemanapun hingga akhirnya putra tertuanya tertidur pulas dipelukannya dan dia baru bisa berjingkat pelan menuju kamar mandi untuk menampung urine,meneteskan dan mencelupkan ke tiga test pack dengan model berbeda.
Hampir saja Reyna melompat karena merasa kegirangan, ketiga buah test pack dihadapannya menunjukkan dua garis tebal. Menangis ya menangis haru, bersyukur karena Tuhan kembali menitipkan nyawa di rahimnya. Mengguyur badannya dengan air dingin, tubuhnya lengket berpeluh karena bergelut bermain dengan Dewa sepanjang siang.
Mematut matut wajahnya dicermin mengoleskan pelembab dan memakai parfum favoritnya, berkali-kali menoleh ke arah jam dinding berharap suaminya segera pulang tepat waktu. Tarikan senyum dibibirnya seketika hilang saat alarm ponselnya berbunyi
"1st HWA"
Oh God! sepertinya ia salah mengatur waktu alarm, seharusnya berbunyi di 4 am kenapa ia setel menjadi 4 pm. Bertanya dalam hati apakah suaminya menyadari hari ini adalah hari peringatan pernikahan mereka.
*HWA : Happy Wedding Anniversary
Bergegas berganti pakaian, mengambil dress hitam selutut dan flat shoes warna senada. Menggerai rambut bergelombangnya, menghiasnya dengan jepit rambut bergaya simple.
Memoleskan make up tipis dan lipstik warna natural lalu mengambil tas tangannya memasukkan ketiga test pack tersebut dan berjalan pelan menuruni tangga. Pelan Rey pelan jangan gegabah atau kamu akan menyakiti benih kecil yang masih rawan.
"Mau kemana?" tanya Gandhi yang masih duduk berbincang dengan Alex diruang tengah. Ekor matanya mengikuti langkah Reyna penuh selidik
"Ehm..ke apartemen" sahut Reyna
"Dirumah saja, kamu kan sedang tidak enak badan"
"Kamu masih sakit?" tanya Alex cemas
"Enggak kok Om" Reyna menggeleng cepat
"Hah, jadi tadi pagi cuma pura-pura sakit agar cepat pulang" sindir Gandhi
"Sudah ah Reyna mau pergi sekarang" melirik jam tangannya, jam kerja Bimo akan berakhir sebentar lagi. Dia harus segera menghubungi pria itu untuk segera menggiringnya ke apartemen
✉Aku tunggu di apartemen
Segera melajukan mobilnya setelah mengirim satu pesan ke nomor suaminya, mampir ke salah satu toko roti dan membeli kue berukuran mini hanya untuk pemanis saja. Kembali mengemudikan benda beroda bundar itu menuju ke apartemen.
Diliriknya ponsel berkali-kali, berharap centang satu berwarna hitam di pesannya berubah menjadi dua centang biru berikut balasan dari suaminya
Reyna berdendang riang saat menaiki lift menuju blok apartemen. Menekan pass key dan melangkah masuk ke apartemen, menyiapkan kue berukuran mini di meja tengah.
Sementara di bagian sudut kota lainnya nampak Bimo sedang berlari mengejar wanita bertubuh langsing, berparas cantik dan berambut hitam legam panjang sepinggang.
Menggenggam pergelangan tangan perempuan itu. Memohon agar sang perempuan untuk tidak pergi. Menahan koper yang siap dinaikkan perempuan itu ke taksi. Keduanya nampak berselisih paham dan berebut koper dipinggir jalan raya yang ramai di jam pulang kerja.
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!
__ADS_1