Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
165. Jujur (3)


__ADS_3

Reyna menuruni anak tangga dengan pelan dan hati-hati, sejak hamil Bimo tak lelah untuk mengingatkannya selalu berpegangan pada handle tangga saat naik maupun turun.


Langkahnya terhenti saat mendengar teriakan Alex dari arah ruang kerja


"Masuk Pras, berkasnya sudah ku tanda tangani. Ambil saja"


Pras? Dia datang? Reflek Reyna berbalik dan ....


"Aaooowwww" Bimo bersungut-sungut saat kakinya terinjak kaki Reyna "Kenapa sih kamu?"


"Eh.. mau eh ke kamar mandi"


"Temani aku sarapan dulu" Bimo menghadang langkah Reyna kekanan dan kekiri


"Kak Bimo sarapan dikantor saja pakai bekal makan siang yang sudah aku siapin"


"Ya sudah, tapi cium dulu"


CUP


Reyna mengecup pipi suaminya "Sudah"


"Eh... ini belum" Bimo mengetuk ngetukkan telunjuk ke bibirnya


"Malu ah ada Om Alex dibawah"


"Sebentar"


Bimo mengunci tubuh Reyna ke dinding dengan dua tangannya. ******* bibir Reyna, menggigit bibir bawahnya hingga istrinya mengaduh dan membuka mulutnya


"Bimmmm.... Reyyyy.. "


Mata Reyna membuka lebar dan melihat dua pasang mata pria sedang menatap adegan 18+. Seketika Reyna menenggelamkan mukanya yang memerah ke dada suaminya.


"Ayo Pras temani Om sarapan, jangan hiraukan mereka" ajak Alex


Pras berdiri mematung sesaat "Iya Pak"


" Ya sudah, aku pergi dulu" Bimo menangkup wajah istrinya menjauhkan dari dadanya


"Iya, hati-hati" Reyna beranjak melangkahkan kaki menaiki anak tangga


"Rey, mau kemana?" cegah Alex "Sarapan dulu, ada Pras juga. Kalian kan lama tak bertemu"


"Rey mau ke kamar mandi Om, sakit perut" Reyna menoleh, matanya tak sengaja bertubrukan dengan mata Pras.


Tatapan mata yang tenang tapi mampu menembus dadanya dalam-dalam


.


.


.


Dokter yang terbilang masih muda itu sibuk mengarahkan transducer ke atas perut Reyna yang mulai membuncit. Beberapa kali memencet tombol setelah mendapatkan pencitraan yang jelas di area rahim.

__ADS_1


"Ibu sehat, janinnya juga.." terangnya "Ada keluhan Bu?"


"Kemarin istri saya sempat kram perut Dok" ujar Bimo yang selalu bersemangat saat temu konsul kehamilan


"Oh ya? Apa Ibu beraktivitas berat?" tanya Dokter yang melipat tangan diatas meja praktek


Reyna dan Bimo berpandangan


"Eh, kramnya pada waktu berhubungan Dok. Agak lama dan agak ngilu dibanding kram saat kelelahan beraktivitas" terang Reyna


"Ada keluar cairan atau flek Ibu?"


Gelengan kepala itu dibalas senyum oleh Pak Dokter


"Bapaknya jago bikin Ibu orgasm* ya"


Dua wajah didepannya memasang muka bingung


"Bapak Ibu, merasakan kram di perut usai orgasm* merupakan hal yang normal terjadi. Kontraksi ini terjadi karena otot dari uterus yang mengencang sedikit. Tidak perlu panik selama tidak keluar cairan dalam hal ini air ketuban atau flek. Teruskan saja berhubungan, kasihan Bapaknya kalau tanggung mainnya"


Ihirrrr!!


.


.


.


"Pak Dokternya kocak ya Rey" ujar Bimo saat keduanya bersiap untuk tidur


"Iya, enak diajak konsultasi" Reyna mengusapkan hand body ke sekujur tubuhnya


Reyna mendengus benar-benar berat badannya telah bergeser signifikan ke arah kanan angka timbangan, cincin ini benar-benar susah ia lepas.


"Mau apa?" tanya Bimo saat melihat istrinya mengambi bangku kecil dan berjalan menuju almari


"Ambil kotak perhiasan"


"Aku saja, bahaya kamu lagi hamil. Jangan sembarangan naik"


Tak perlu bangku kecil, tubuh Bimo cukup menjangkau kotak kecil di sudut atas lemari. Reyna membawanya ke tepi ranjang.


"Bantuin Kak" ia mengulurkan tangan kanannya "Cincin kawinnya sudah sempit, boleh aku lepas?"


"Ehm...iya" Bimo membantu memutar mutar cincin di jari manis istrinya "Ini" taruhya cincin kawin itu ditelapak istrinya


"Gantinya aku pakai cincin dari Kak Bimo pas melamar aku" Reyna memindahkan cincin lain dari jari tengah ke jari manis


"Ini juga mau aku lepas" kali ini iya mengulurkan tangan kirinya


"Yakin kamu mau lepas cincin ini juga" tanya Bimo


Reyna mengangguk mantap "Iya, Mas Bram bilang boleh kulepas kalau sudah nggak muat"


Dua cincin itu Reyna masukkan ke kotak perhiasan. Matanya menangkap sebuah cincin yang asing olehnya

__ADS_1


"Kak.."


"Iya.." jawab Bimo tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel


"Ini cincin punya Lidya bukan?"


Bimo hanya melirik "Ehm, iya. Aku taruh situ. Habis kamu taruh sembarangan waktu itu"


"Boleh aku jual saja?"


"Terserah"


"Beneran?"


"Iya"


"Aku becanda kok Kak. Aku jadikan satu ya sama cincin dari Mas Bram"


"Hemm.."


"Kak, kerja apa sih disana?"


"Siapa?"


"Lidya, siapa lagi"


"Rey, bisa tidak kita bahas yang lain. Kamu lagi hamil loh. Sensitif. Salah jawab nanti kita berantem" Bimo mengacak rambut istrinya


"Iya iya.." Reyna buru-buru menutup kotak perhiasan itu dan naik ke ranjang


"Aku cuma pengen tahu aja kok. Ga ada maksud lain"


"Udah nggak cemburu nih?"


"Enggak"


"Yaaaahh.. nggak cinta lagi dong" Bimo pura-pura memasang wajah sedih


"Cinta tak selalu menuntut kecemburuan, kebanyakan adanya nanti kebakaran. Case is closed, nggak ada lagi yang perlu di bahas"


"Fine! Jawabannya dia jadi model disana untuk beberapa butik ternama"


"Pantes badannya bagus...Ngiri aku. Sebentar lagi badan aku nggak akan sama seperti sekarang lho Kak, melar gendut pasti setelah melahirkan"


"Kamu kan bisa olahraga"


"Jadi Kak Bimo nuntut aku jangan gendutan"


"Biar sehat Rey! Lagipula aku yakin kamu nggak akan nyaman punya badan berat. Iya kan?Memangnya kamu pikir pria itu suka wanita karena bentuk tubuh saja"


Deg, ucapan Bimo seperti meng-copy paste ucapan Pras waktu itu


"Kak.. "


"Apa lagi"

__ADS_1


"Ehm.. nggak. Nggak jadi" Reyna buru-buru menarik selimut dan memunggungi Bimo. Belum, dirinya belum siap untuk mengungkapkan kejujuran.


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!


__ADS_2