Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
161. Hangat


__ADS_3

"Kak.." panggil Reyna lirih diantara hangatnya pelukan itu


"Hemm..ya?"


"Lupa sesuatu?" Reyna menarik badannya


"Eh..Ah..Apa ya..Apa sih?!" Bimo menjawab tergagap dibawah tatapan maut istrinya. Barusan baikan masa iya mau berantem lagi


"Hari ini hari apa?"


"Kamis" jawabnya polos


"Ih tuh kan Kak Bimo lupa!" menjejak kakinya


"Enggak, bener ini Kamis, ada meeting mingguan tadi di kantor"


"Tanggal berapa?" pancing Reyna lagi


"Ehm..Sebelas"


"Trus...?"


"Trus besok tanggal Dua Belas" jawab Bimo olos


"Aaooowwww, sakit Rey" pekik Bimo sambil meringis saat capitan jari mendarat di pinggangnya


"Ini anniversary kita Kak" Reyna menangkup wajah Bimo, netra itu membulat lebar menatapnya


"Maaf" pria itu menunduk, menggenggam tangan istrinya lalu mengaitkan jemarinya erat


"Yuk pergi, aku temani kemana saja yang kau mau, atau belilah apa saja yang kamu ingin. Pakai mobilmu ya, biar mobilku nanti diambil Pak Man. Kamu yang setir" cerocos Bimo


"Ceritanya mau beliin aku kado?" Reyna menahan langkah suaminya


"Ehm iya, aku janji. Apapun itu aku belikan"


"Aku juga belum siapin kado buat Kak Bimo" cetus Reyna


"Nggak perlu, kamu pulang itu sudah kado terindah Rey"


"Tapi aku punya kado buat kita berdua" senyumnya mengembang lalu merogoh tasnya


"Ini" taruhnya tiga benda pipih ditelapak Bimo


"Rey..ini..Kamu..Ya Tuhan.." netra yang semula bening tiba-tiba mengabut


Bimo berlutut didepan Reyna, memeluk pinggang istrinya dan mencium pelan perut datar didepannya


"Hai anak Ayah.." bisiknya lalu kembali berdiri


"Terimakasih Rey" ucapnya sambil mencium kening istrinya


Reyna mengangguk "Sekalian disini, kita ke dokter yuk"


"Buat apa? Perut kamu sakit?"


"Memastikan saja Kak, sekalian minta vitamin buat ibu hamil"


Berdua berjalan bergandengan menuju ruang praktek dokter kandungan lalu mengambil duduk bersama pasangan muda lainnya setelah mendapat nomor antrian


Pandangan Bimo menatap satu persatu pasangan disana


"Rey, dengan siapa dulu kau memeriksakan Dewa?"


"Seringnya sendiri"


Ahhh hati Bimo nyeri seakan diremas tangan thanos


"Kamu pasti sedih waktu itu"

__ADS_1


"Tidak, kata siapa. Kan ada Dewa diperut aku" jawabnya enteng


"Kamu kabur kemana?"


"Ehm, sama Mas Gandhi. Tadi pagi juga sudah pulang"


"Apa!" bulu kuduk Bimo spontan meremang "Mas Gandhi sudah pulang?"


"Entah" Reyna mengangkat bahu


"Kamu tega Rey kasih tahu Mas Gandhi"


"Ih, siapa juga yang bocor. Om Alex kok yang bilang"


"Hah" Bimo melongo, belum puas pukulin aku masih mendatangkan hulk ke rumah segala.


.


.


.


Dokter menggerakkan alat USG kenanan kekiri keataa kebawah, melihat dengan seksama


"Ehm..masih terlalu muda sepertinya ibu, jadi belum terdeteksi USG abdominal" Dokter meletakkan alat USG


"Tapi istri saya beneran hamil kan Dok?' Bimo bertanya cemas


"Kalau mau lebih akurat bisa saya lanjutkan USG Transva*inal" lanjut Dokter


"Apa itu Dok?" Reyna bertanya cepat


"Ehm nanti via alat dimasukkan lewat maaf organ in*im ibu untuk mengetahui kondisi rahim"


"Tidak mau"


Jawab Bimo dan Reyna hampir berbarengan


"Masak aset istri saya mau diobok-obok Dok" Bimo mendengus tidak suka


Pak Dokter hanya tertawa "Kalau begitu kembali 2 minggu lagi ya. Ingat jangan aktivitas berat-berat dulu ya Ibu, dan kalau bisa hindari berhubungan dulu ya karena ada riwayat keguguran"


Kedua orang didepan dokter itu hanya melongo


.


.


.


"Kasihan Si Ontong Rey" Bimo melihat ke bawah


Sedangkan Reyna hanya senyum senyum kecut


"Ya habisnya mau gimana lagi Kak"


"Tiga bulan, yang benar saja" membuang napasnya kasar


Reyna melirik ke arah suaminya sambil memegang setirnya erat. Mobilnya mulai memasuki gerbang perumahan. Napasnya tertahan saat melihat mobil Gandhi masih terparkir disana


"Mati kamu Bim" gumam Bimo


Memasuki rumah dengan menggandeng Reyna, dua pasang mata tajam menatapnya


"Hai Mas" sapanya pada Gandhi


"Dari mana kamu?" Alex berdiri dan berjalan mendekat "Kelab malam lagi? Berantem?" melirik ke arm sling


Reyna melangkah maju ke depan badan Bimo menghadang Gandhi yang mulai berjalan pelan kearahnya

__ADS_1


"Mas.. jangan" Reyna menggelengkan kepalanya "Kak Bimo keserempet motor Om, tangannya terkilir"


"Kita dari rumah sakit" lanjutnya saat kedua pria itu tak berhenti mendekat


"Demi anak yang diperutku, Reyna tidak bohong" teriaknya


Dua pasang mata pria didepannya membelalak lebar, menatap ke arah perutnya


"Kamu hamil?" Gandhi memekik


"Dewa mau punya adik?" Alex bersuara


"Iya Om, iya Mas" Bimo menarik tangan Reyna menuju sofa lalu mendudukan wanita itu dipangkuannya mengusap-usap punggungnya pelan "Jangan dibawa kabur lagi ya istri saya"


"Sudah kamu bereskan masalahmu dengan .. " omongan Alex menggantung diudara


"Sudah" potong Bimo cepat lalu berdiri berjalan menuju dapur memanggil Mbok Nah


"Keseleo Mbok, panggilin tukang urut Mbok"


.


.


.


Bimo masih meringis-ringis menahan ngilu di tangannya saat istrinya membantunya mengenakan kaos setelah susah payah mengenakan boxernya


"Masih sakit?" tanya Reyna sambil mengelus pelan tangan suaminya


"Enggak elus aja terus nanti juga sembuh"


"Ih.. maunya. Naik" tunjuknya ke ranjang


"Mau main. Yakin?" senyum itu mengembang


"Dasar mesum! Aku mau ganti plesternya"


Membuka plester yang basah dari pelipis Bimo, mendekatkan wajahnya melihat guratan di kulit yang masih basah


CUP


Bibir Bimo mengecup pelan bibir Reyna yang hanya dibalas senyuman, mengambil alkohol dan obat merah. Merawat luka itu pelan penuh kelembutan, memandang luka di sudut bibir yang mulai mengering.


"Rey, Si Ontong bangun" desah Bimo sambil menggeliatkan punggungnya yang bersandar di head board


Posisi Reyna menggugah gairahnya sedari tadi, wanita itu duduk di pangkuannya membuka kaki lebar-lebar, gaun malamnya tersingkap memperlihatkan paha mulusnya


"Ya ampun. Tangan kamu keseleo ini Kak. Masih mikirin itu"


"Kan yang sakit tangannya, gini juga bisa" menggoyangkan pinggulnya seduktif


"Yakin mau?? " Reyna mencubit pelan dada suaminya


"Tapi nggak boleh ya" merosot bahunya mengingat anjuran Pak Dokter


"Kan tadi Pak Dokter bilangnya kalau bisa, kalau nggak bisa nahan ya nggak masalah kan ya" Reyna terkikik geli


"Jadi???" Bimo menegakkan tubuhnya


"Tapi pelan-pelan ya, janji" Reyna menangkup wajah suaminya menggigit bibir bawah yang agak kehitaman karena efek menghisap nikotin.


Ciuman yang panas menggairahkan, kecapan dua bibir itu jelas terdengar. Reyna mengangkat satu kakinya, meloloskan pelapis segitiganya sesaat kemudian.


Bimo mendesah saat tangan istrinya terulur ke balik boxernya, mengeluarkan dengan sedikit paksa sesuatu yang telah menegang.


Erangan yang nyata-nyata lolos bebas dari bibir keduanya menggaung dikamar berukuran luas. Permainan yang lembut dalam persatuan tubuh itu menyenangkan, pagutan bibir mendominasi seakan menumpahkan kerinduan keduanya.


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!

__ADS_1


__ADS_2