
Hampir 2 minggu Reyna bagaikan burung emas dalam sangkar, Gandhi tak mengijinkan dia keluar rumah sama sekali. Apapun yang ia minta Gandhi selalu kabulkan kecuali satu hal, ponsel. Sejak kembalinya ia ke rumah lagi Reyna jarang berbincang dengan kedua pria penghuni rumah itu, hanya si kecil Adam yang menghiburnya ditiap akhir pekan.
Sehari-harinya Reyna hanya membantu mbok Sri melakukan pekerjaan rumah tangga, wanita paruh baya yang telah mengabdi belasan tahun dirumah ini. Malam hari rumah terasa kosong saat semua pekerja dirumah itu pulang kerumah mereka masing-masing. Seperti biasa Reyna mengurung dirinya dikamar menonton televisi.
Rumah sunyi senyap saat Reyna melangkah ke kamar mandi hendak buang air, wajahnya resah saat ia keluar dari kamar mandi. Diam-diam ia merutuki bercak merah muda di celana dalamnya penanda awal tamu bulanannya harus datang dimalam hari. Mau tak mau ia harus meminta tolong Mas Gandhi untuk membelikannya pembalut.
Tok Tok Tok
Wajah Mas Gandhi melongok keluar kamarnya
"Kenapa Rey?"
"Minta tolong belikan pembalut"
Air muka pria itu berubah kikuk, seumur hidup belum pernah dia sentuh apalagi membelikan benda kewanitaan itu,sekalipun itu mantan istrinya sendiri.
"Emang tidak ada stock dirumah ini?"tanyanya bodoh
"Mas Gandhi pake? Atau Pakdhe? Ehmmm mungkin mbok Sri yang pake?" sahut Reyna asal
Gandhi menyambar kontak mobil di meja kamarnya dan melenggang keluar, baru beberapa langkah dia menengok belakang
"Ayo Rey!"
Reyna terperangah ehhh aku maksudnya
"Aku ikut?" tanyanya sambil menunjuk dirinya
Gandhi mengangguk "Aku malu" akunya
__ADS_1
Mata Reyna terbelalak lebar, dia bergegas berjalan menjajari langkah Gandhi
Bagaikan orang desa yang pertama kali menginjak kota Reyna tersenyum senyum bahagia sepanjang perjalanan. Tiba di minimarket dia Reyna langsung menuju rak mencari pembalut
"Beli untuk dua bulan kedepan" perintah Gandhi
huhh padahal Reyna berharap bulan depan ia bisa keluar lagi dengan alasan yang sama
Reyna asik menikmati es krim ditangannya ketika perjalanan pulang, Gandhi hanya melirik sembari mengemudi. Terselip perasaan bersalah dihatinya, jika waktu itu dia bisa membujuk Bapak untuk tidak menerima permintaan Pak Wiji pasti nasib Reyna tidak akan seperti sekarang ini.
Mobil terhenti dan masuk pekarangan. Gandhi menahan pergelangan tangan Reyna yang hendak keluar dari kursi disebelahnya.
"Rey, aku mau minta maaf"
Reyna kembali duduk
"Rey, aku yakin ada lelaki baik-baik untukmu"
sudah ada mas tak perlu repot-repot pikirkan itu batin Reyna
"Aku harap waktu tiga bulan cukup untuk kau melupakan laki-laki itu. Aku ingin kau bahagia dengan pilihanmu sendiri kelak. Sabar ya!"
Reyna hanya mengangguk, dia tak punya pilihan selain menuruti kemauan Gandhi.
.
.
.
__ADS_1
Suatu pagi Reyna terbangun dengan kepala pening, badannya lemas terasa tak bertulang. Perutnya mual seakan sedang terombang ambing diatas kapal, mengingat-ingat apa ia salah makan kemarin .Badannya lesu ketika menginjak dapur mengambil minum untuk menyegarkan badannya.
Dilihatnya punggung mbok Sri dari kejauhan didepan kompor, hidung Reyna tiba-tiba terganggu dengan bau tumisan bumbu halus. Ia berbelok dan mengambil langkah seribu ke kamar mandi ketika merasa isi perutnya telah naik hingga kerongkongan. Dimuntahkan seluruh isi perutnya, mual terus menyerang hingga cairan bening yang terasa pahit dimulutnya keluar. Keringat dingin Rey keluar, lututnya bahkan terasa lemas.
Mbok Sri yang mendengar gaduh menyelesaikan tumis bumbu halusnya lebih dulu lalu menyusul ke kamar mandi.
"Mbak Reyna kenapa jongkok di kamar mandi?" tergopoh wanita itu membantu Reyna berdiri
"Masuk angin mbok" jawab Reyna
"Ganti baju dulu mbak, habis ini makan biar perut nggak kosong. Nanti mbok kerik"
Reyna mengangguk
Kejadian sama terulang lagi dua hari kemudian saat Reyna menginjak dapur dan membaui tumisan bumbu halus. Reyna mulai berfikir ada yang tidak beres dengan tubuhnya, memang ada ya alergi dengan bau tumisan, kemarin tidak masalah saat ia temani mbok Sri masak sayur sop.
Akhir pekan saatnya si kecil Adam berkunjung, malam hari sebelumnya seperti biasa Mbak May meneleponnya melalui ponsel Mas Gandhi menanyakan apa yang perlu dibawakan. Reyna hanya menginginkan dibawakan lontong opor dan es krim.
Esok harinya Reyna sengaja menahan lapar demi menikmati lontong opor pesanannya yang kini sedang ia tuang ke mangkok.
"Nggak kekenyangan kamu Rey jam segini sarapan kedua?" tanya Mbak May melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 10
"Reyna belum sarapan mbak, sengaja nungguin ini"
May mengerutkan keningnya "Sejak kapan kamu jadi tak masalah sarapan makanan bersantan?Lontong Opor lagi, makanan yang cuma kamu makan pas lebaran, itupun terpaksa karena nggak ada menu lain"
Reyna terhenti menyuapkan makanannya, dia mengingat kapan ia terakhir makan lontong opor, lebaran tahun lalu. Ahh bukan,ya satu bulan lalu bersama Bimo lelakinya itu sangat menggemari makanan ini. Makanan yang tidak ia suka dan sekarang tiba-tiba ia inginkan selayaknya sedang mengidam.
Reyna meletakkan sendok dan berhenti makan, tangannya refleks meraba perutnya.Cukup Rey jangan berpikir yang tidak-tidak, mungkin hanya perasaan rindumu pada Bimo sehingga kau terbawa menginginkan lontong opor.
__ADS_1