
Semburat cahaya tipis menembus jendela kamar ketika Reyna membuka mata. Dengkuran halus Satria terdengar dari sofa di pojok ruang. Matanya mengerjab-ngerjab merasakan kantuk yang masih tersisa. Dengan malas ia menyeret kakinya menuju kamar mandi.
Selesai mandi dia berniat untuk turun kebawah namun seketika jantungnya hampir copot melihat Satria sedang bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk di sisi ranjang.
bukannya tadi masih nyenyak tidur gumamnya
"Kok sudah bangun, emang aku terlalu berisik ya?"
"Enggak, perutku mulas, sekalian tadi mandi dibawah, kamu ditanyain Ibu tuh"
"Eh iyaa, ini juga mau kebawah kok" sahut Reyna kemudian berjalan tergesa..
"Ehhhh..." tiba-tiba Satria berteriak dan menghalangi langkah Rey
"Minggir ah"
"Rambutmu Reyna"
Reyna seketika memegang rambutnya, perasaan tadi dia sudah menyisir rapi rambutnya
"Kenapa??" tanyanya heran
"Keramasin dulu"
"Keramas?" argghh Rey makin tak mengerti
Satria mendekatkan wajahnya ke telinga Reyna berbisik pelan "Pengantin baru itu identik keramas dipagi hari, biar bapak ibu nggak curiga Reyna"
bluuuuuusshhhhhh rona muka Reyna berubah merah padam kemudian putar balik maju jalan menuju kamar mandi untuk membasahi rambutnya layaknya keramas.
Reyna mengacak rambut basahnya dengan handuk sekenanya, Satria sedang duduk dan menikmati rokoknya di tepi jendela.
''Reyna, hari ini aku mau minta ijin Bapak untuk pulang ke rumah'' Satria mengepulkan asap putih dari sela bibirnya ''Pekerjaan aku tak bisa lama-lama kutinggalkan''
''Ehmm..'' Reyna mengangguk mengiyakan,lebih baik mereka segera pergi daripada lama-lama untuk berpura-pura didepan keluarga dan mertuanya.
Keduanya segera bergegas menuruni tangga menuju dapur yang disambut dengan sumringah oleh dua orang payuh baya.
__ADS_1
"Duhhh perasaan dalam rumah nggak hujan ya Pak kok rambutnya pada basah" gurau Bu Wiji sambil tersenyum simpul membuat dua sejoli itu terdiam kaku sedangkan Pak Wiji hanya tertawa terbahak.
"Reyna bantu apa Bu?"
Bu Wiji mengarahkan apa saja yang perlu Reyna lakukan, satu jam kemudian semua makanan siap terhidang di meja makan.
Setelah mengambilkan nasi untuk kedua mertuanya Reyna juga mengambilkan nasi untuk Satria
"Kamu mau lauk apa?"
"Aku mau ayam goreng saja"
"Eh eh kok manggilnya masih aku kamu sih" tegur Bu Wiji
Reyna hanya tersenyum kecut "Ehm maaf Bu.. ini Mas ayamnya" Reyna menyodorkan piring ke arah Satria yang hanya tersenyum kecil.
"Pak Bu, Satria ijin pulang nanti sore ya, kerjaan sudah banyak yang terkendala" Satria membuka pembicaraan setelah sarapan selesai.
"Kok buru-buru kenapa Satria, jarang-jarang kamu pulang kerumah ini" sahut Pak Wiji
"Kasihan assisten Satria Pak, sudah kelabakan dia seminggu ini aku tinggal"
''Kamu nggak mau ajak istrimu berbulan madu Sat?'' tanya Bu Wiji, Reyna dan Satria hanya berpandangan
"Biar bisa segera kasih kami cucu" lanjut Bu Wiji
''Ehm,,iya nanti gampanglah Bu, biar Satria mengena Reyna dulu, ya kan Rey?'' Satria menatap Reyna dan menaik turunkan alis meminta persetujuan
''Mas Satria bernar Bu, biar kami saling kenal dulu'' Reyna menjawab seadanya.
---
Sepanjang siang Reyna hanya bermain dengan ponsel dan menonton televisi. Tak lupa ia mengabari Mas Gandhi untuk meminta ijin pulang ke rumah Satria. Selebihnya waktunya dihabiskan untuk merenung, banyak sekali yang dia pikirkan saat ini. Matanya melirik kearah Satria yang berkutat didepan laptopnya, pria itu terlihat jauh lebih menarik dengan kacamata dan tampang seriusnya.
Dering ponsel Satria membuyarkan lamunan Reyna. Kesibukan Satria terhenti, nama Niken terpampang di layar ponselnya..entah sudah berapa puluh panggilan terlewatkan dari wanita itu, sekian lama panggilan tersebut berakhir.
"Kok nggak diangkat?"
__ADS_1
"Ehmm, orang kantor" bohongnya
"Angkat saja siapa tahu penting"
mana bisa aku angkat panggilan ini didepanmu lebih-lebih menjawabnya didepan orang tuaku
"Besok juga ngantor. Besok sajalah lebih enak kalau ketemu"
Reyna hanya mengedikan bahunya
"Reyna" panggil Satria
"hemmm..."
"Aku suka kamu panggil mas"
Reyna hanya melirik Satria kemudian senyum jahil tersungging di sudut bibirnya
"Tadinya mau panggil Om,tapi takut dimarahi mertua"
"Hish enak saja,emang aku nampak setua? coba kau tebak berapa umurku" tantang Satria berkacak pinggang.
"30an jalan lahh..."
"Salaaaahhhh..."
"40an jongkok"
"Eh bocah..aku masih 29 tauuuu"
Reyna hanya membulatkan mulutnya tak peduli, matanya tak lepas dari siaran televisi didepannya.
Satria hanya mendengus kasar cuek banget sih makhluk tuhan yang satu ini
''Kamu mau aku panggil apa?''
''Rey saja cukup"'
__ADS_1
''Baik istriku Rey'' Satria menutup laptopnya dan berjalan ke sudut kamar membereskan koper miliknya.