Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
77. Telor Ceplok


__ADS_3

Reyna terbangun dini hari, punggungnya pegal karena semalaman tidur membungkuk di bangku dan beberapa kali sempat terbangun untuk memasangkan selang oksigen.


Bram masih tertidur dengan napas teratur diranjangnya, Reyna memandang wajah pria itu. Seribu rasa merasuk ke pikirannya dimana rasa takut akan kehilangan lebih mendominasi. Berjingkat pelan menuju sofa dan membuka ponselnya, membuka aplikasi WhatsApp dan berselancar melihat status deretan kontaknya.


Matanya terpekur pada salah satu unggahan disana dengan captain Beloved Boy.


Bimo berswafoto dengan Dewa yang menggunakan piama tidur dan botol susu, wajah serupa berbeda generasi itu tersenyum lebar.


.


.


.


Reyna menunggu hingga tiba waktunya visit dokter, ia berniat pamit untuk melihat Dewa dirumah, Reyna agak cemas karena pesan yang ia kirim pada Bimo sejak pagi belum juga mendapat respon.


Beruntung suami Bianca datang pada saat ia hendak mengutarakan niatnya.


"Aku pulang dulu Mas, jenguk Dewa. Nanti sore aku kesini lagi , Mas Bram ingin makan sesuatu?" tawarnya


Bram hanya menggeleng lemah "Hati-hati.. " ucapnya pelan


.


.


.


Rumah Bimo nampak lengang saat Reyna memarkirkan motor didepannya, tak mungkin mereka masih tertidur di saat matahari sudah meninggi.

__ADS_1


Reyna melirik kerumahnya, terlihat gerbang depan tak tertutup sempurna. Bunyi gaduh terdengar dari arah dapur saat pintu depan ia buka.


Nampak Bimo yang masih memakai kaos harian dan celana pendek memegang sotil ditangan kanan dan tutup panci di tangan kiri ia jadikan tameng berada didepan kompor dengan wajan diatasnya.


"Lagi ngapain?" tanya Reyna keheranan


Bimo menoleh ke arah Reyna lalu melengos ke arah Dewa yang duduk cemberut dimeja makan, didepannya ada piring berisi 4 telur ceplok gosong kehitaman.


"Dewa minta telur ceplok" Bimo mematikan kompor mengangkat telur ke lima nya yang tak jauh beda dari teman-temannya.


"Iyul ayah Imo hosooong.. " seru Dewa


Reyna hanya tersenyum geli melihat usaha Bimo sedang berjibaku hanya demi sebuah telur ceplok. Dengan cekatan Reyna mengambil teflon dan margarin, tak sampai 2 menit telur ceplok Dewa terhidang dengan nasi hangat sisa semalam.


Reyna mengambil duduk di samping Dewa, melirik Bimo yang duduk melorot di kursi.


"Aku emang payah, nggak jago jadi ayah. Bikin telor ceplok aja nggak becus. Nggak bayangin selama ini kamu jadi ibu sekalian ayah buat Dewa" gerutunya


Tak terasa bulir-bulir bening yang sejak semalam ia tahan tertumpah begitu saja.


"Ehh.. kamu kenapa Rey?" Bimo berjingkat dari duduknya dan buru-buru mengambil tissue disodorkan kepada Reyna.


"Eh.. maaf aku salah bicara ya??" Bimo bertanya takut-takut


"Enggak, nggak apa-apa kok" Reyna mengusap air matanya tapi entah kenapa bukannya berhenti tapi semakin bercucuran


"Aduh.. sudah dong Rey.. cup cup arghhh" Bimo panik tahu harus berbuat apa "Mending kamu marah-marah aja deh daripada nangis gini"


"Eh.. apa, kenapa kau lebih suka aku marah? " Reyna mendongak

__ADS_1


"Semua laki-laki tak tahan lihat wanita menangis" cetus Bimo sambil menyodorkan tissue lagi


"Memang kenapa?"


"Ya bingung, ya takut, yang jelas sakit!" seloroh Bimo "Apalagi kalau itu wanita yang special!" lanjutnya pelan


Reyna terdiam, itukah juga yang Bram rasakan saat melihatnya menangis, Reyna menggelengkan kepala mengusir Bram dari benaknya, dia tak ingin makin larut dan air matanya tumpah lagi.


.


.


.


"Rey.. boleh tidak kalau malam ini aku ajak Dewa menginap di rumah Om Alex? " tanya Bimo tiba-tiba


"Eh.. kenapa?"


"Nanti malam kamu ke rumah sakit lagi kan? Besok aku mau ajak Dewa jalan-jalan sama Om Alex, malam minggu aku sudah sampe sini lagi kok"


"Nggak usah nanti capek bolak balik" tolak Reyna halus


"Besok biar aku ajak sopirlah"


Mulut Reyna baru membuka untuk menyanggah lagi tapi Bimo sudah menyerobot lagi


"Dewa mau ke rumah opa, ya kan nak? " matanya kedip kedip ke arah Dewa meminta dukungan


"Iyaaaa Maaa.. boleh Maaaa??? Kata Opaa mau eli ainan buat Ewa" cicit anak kecil itu

__ADS_1


Bahu Reyna melorot seketika, kalah telak kalau anak kecil sudah diiming-imingi mainan.


__ADS_2