Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
39. Dua Garis


__ADS_3

Suatu siang Reyna menemani mbok Sri memetik daun salam dikebun belakang, langkahnya terhenti saat melihat buah mangga  bergelantung diatas kepalanya.


"Rujakan yuk mbok"


Mbok Sri mengiyakan segera memanggil Pak Min untuk memanjat pohon mangga


---


"Asem mbakkkk..." seru Pak Min sambil memejamkan matanya saat menggigit mangga muda bercocolkan sambal rujak buatan mbok Sri


"Ya ampunnn... Pak Min mbok milihin yang matengan dikit, ini ga cuma asemmm, asemm bangetttt" disusul Mbok Sri yang sampai menggeliat geliat kaya ulat


Reyna hanya bengong melihat tingkah 2 orang didepannya. Baginya rujak ini enak-enak saja dan bersahabat di mulutnya..apes saja mereka dapat mangga yang asem batinnya.


Malam harinya Reyna terbangun ,perutnya melintir tapi bukan karena efek kepesan sambel rujak melainkan kelaparan. Padahal dia sudah cukup makan sore tadi, Reyna beringsut menuju dapur tapi tak ada makanan, dia kembali menuju kamar membuka laci mejanya siapa tahu ada cemilan.


Termangu saat melihat 3 pack pembalut dilaci meja, 2 bungkus masih utuh dan satunya hanya berkurang 2 buah. Reyna duduk didepan meja, ia ingat sebulan lalu hanya 2 hari saja dia mendapat tamu bulanan itupun hanya bercak bercak merah muda. Sudut matanya melirik kalender meja... dan bulan ini harusnya sudah waktunya dia kedatangan tamu bulanan.


Reyna kembali ke ranjangnya, ia sudah lupa urusan perutnya yang lapar. Otaknya kini berpikir dengan pikiran sehat, menjalin rangkaian keanehan pada tubuhnya.

__ADS_1


Mulai dari mual pagi hari,bau-bauan masakan menyengat, lontong opor yang ia benci tapi digemari Bimo, mangga muda yang terasa nikmat dan terakhir tamu bulanan yang bergeser jauh dari waktunya. Logikanya tak kuasa lagi untuk menolak tanda-tanda itu dan menyimpulkan pada suatu kata "JANIN"


.


.


.


Baju kering itu hanya Reyna bolak balik saat menemani mbok Sri membereskan jemuran, mereka berdua berada di ruangan sempit tempat menyetrika baju sekaligus tempat mbok Sri beristirahat.


Mbok Sri sedang bercerita tentang Mbak May yang pernah jauh-jauh datang hanya karena Adam yang waktu itu masih dalam perut menginginkan mangga muda yang kemarin dibuat rujak dan harus Mas Aris yang memetik sendiri.


"Mbak Rey kok ngalamun,mikirin apa hayo?" mbok Sri mengambil alih baju dari tangan Reyna


Pandangan sayu ia arahkan kepada wanita paruh baya didepannya, seakan mengerti Mbok Sri berdiri menuju pintu dan menutupnya rapat. Setelah mematikan setrika, Mbok Sri ikut duduk bersimpuh disebelah Reyna. Tangannya yang mulai berkeriput membelai pelan punggung Reyna


"Mbak Reyna boleh cerita apa saja kalau percaya sama simbok"


Reyna mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, hanya Mbok Sri yang bisa percaya untuk saat ini.

__ADS_1


"Reyna belum bisa ngomong mbok, boleh Reyna minta tolong sesuatu?"


"Apa Mbak Rey?"


"Tolong beliin test pack mbok tapi jangan sampai ada yang tahu" jawab Reyna lirih


''Makanan apa itu mbak?'' raut kebingungan nampak di wajah tua itu


''Alat untuk ngetes wanita hamil apa tidak!'' terang Reyna


Wanita itu hanya tersenyum "Ohhh,,ya simbok tahu. Sekarang?"


"Iya, tapi Reyna nggak punya uang, Reyna mintain dulu ke Mas Gandhi, nanti simbok bilang saja mau ke apotik sama Pak Min beli obat sakit perut buat saya"


Tak lama pesanannya datang, Reyna beranjak hendak memakainya tapi di cegah oleh mbok Sri


"Kata mbak mbak di apotik, bagusnya pakainya pagi pas bangun tidur"


Malam terasa begitu panjang, Reyna tak sabar menanti pagi dengan berjuta rasa berkecambuk di dada. Reyna terbangun sebelum ayam jantan berkokok, dia bergegas ke kamar mandi ,hatinya berdebar menunggu detik demi detik hingga 2 garis terbaca jelas disana. Cemas, bahagia, sedih dirasakan Reyna saat itu.

__ADS_1


__ADS_2