Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
154. Pergi (1)


__ADS_3

Kepalanya masih pening berputar saat mencoba membuka mata, mengerjab ngerjabkan mata mengumpulkan nyawa yang belum sempurna terkumpul.


Suhu badan masih hangat dan ngilu terasa di semua bagian tulang, berusaha menarik badan dan duduk bersandar di head board. Eh... kenapa ia tak memakai celana dan ia kenakan kaos kebesaran milik suaminya.


Mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, setelah mandi ia merasa tak enak badan. Lalu ia merasa dingin, lalu ada yang berbicara tak henti bagai beo dibelakang tubuhnya yang sedang menggigil. Lalu ada yang memeluknya semalaman dan menempelkan benda basah dikeningnya berulang-ulang.


Ahhh... itu artinya Bimo tak tidur semalaman karena menjaga dirinya yang demam. Kemana pria itu..


"Eh... Mbak Rey sudah bangun" Mbok Nah masuk sambil membawa makanan dinampan


"Makan bubur dulu ya, trus minum teh anget. Jangan lupa obatnya sudah dibelikan Mas Bimo" Mbok Nah duduk di tepi ranjang


"Kak Bimo mana?"


"Sudah berangkat, tadi pesannya Mbak Rey nggak boleh kemana-mana hari ini. Nanti siang Mas Bimo pulang sebentar katanya"


Mbok Nah menyendokkan bubur dan hendak menyuapkan


"Saya saja sendiri saja Mbok"


Mbok Nah tersenyum "Ya sudah ta siapin air panas dulu ya, jangan mandi dulu. Sibin saja Mbak Rey"


"Mbok.. " panggil Reyna di depan pintu kamar mandi "Tolong gosokin punggung Reyna, mau kena air dulu, gerah"


"Nanti tambah sakit Mbak"


"Enggak enggak Mbok" Reyna melepas kaos Bimo dan menyisakan penutup segitiga saja.


Dua tangganya mengikat asal rambutnya ke atas lalu duduk di kursi kecil membelakangi Mbok Nah


Perempuan paruh baya itu mulai menggosok tubuhnya dengan handuk yang dibasahi air hangat


"Mbak Rey kaya anak kecil main hujan-hujanan"


"Nggak bawa jas hujan Mbok" jawabnya asal


Siapa juga main hujan-hujanan, aku buru-buru kabur semalam dari ruko. Mana sempat pakai jas hujan


"Mbok.. "


"Ya Mbak"


"Lidya pernah kemari?"


Usapan di punggungnya terhenti

__ADS_1


"Mbok.. " Reyna memutar kepala


"Mbak Rey kok tanya itu"


"Kenapa? Nggak boleh?"


"Ya nggak perlu diomongin Mbak"


"Seperti apa sih dia" Reyna masih menggumam


"Perempuan sundal" Mbok Nah bersungut


"Tapi laki-laki suka dengan perempuan model begitu"


"Iya benar Mbak, tapi ya nggak mungkin diperistri!"


Reyna terdiam


"Mbok Nah jewer Mas Bimo kalau sampe main-main lagi sama perempuan macam itu. Gemes simbok itu"


"Aduh aduh, gemes sama suami saya kok saya yang di unyel unyel Mbok" Reyna menekuk badan kedalam saat dirasakan gosokan di punggungnya menyakitkan


"Eh maaf Mbak maaf, habis simbok jengkel. Nggak kapok-kapok dipukuli Pak Alex tiap kumat nakalnya"


"Simbok lihat semalam"


Mulai mengurut dua tangan Reyna sambil mengerucutkan bibir


"Tapi kasihan juga lihat Mas Bimo semalam, bingung bolak balik nyariin Mbak Rey"


"Eh" Reyna mendongak sambil membenarkan handuk didadanya yang melorot


"Mbak Rey pergi kemana? Nggak baik pergi kalau lagi ada masalah"


Telak!


"Reyna cuma ingin sendiri kok Mbok"


"Ya boleh, tapi ya diselesaikan di rumah. Habis itu di tempat tidur" Mbok Nah tersenyum menggoda


"Ihh.. Mbok Nah. Sudah ah!" Reyna berdiri dan mengambil handuk besar menutup tubuhnya


"Mbok Nah tinggal kebawah dulu. Mbak Rey makan buburnya dulu"


Reyna memakan buburnya perlahan, isi kepalanya bagai untaian benang ruwet tak berujung pangkal. Belum selesai masalah pertemuan suaminya dengan perempuan ular sekarang justru dia makin dipusingkan dengan Pras.

__ADS_1


Siapa salah dan siapa yang harus minta maaf? Bimo salah menemui perempuan ular yang pernah ia puja dimasa lalu tapi dia juga salah menemui pria yang jelas-jelas menyimpan rasa padanya.


Memegang gelas berisi air teh panas dan meniup-niupnya. Tangannya terulur membuka laci nakas dan mengambil vitamin E yang disarankan Niken untuk dikonsumsi tiap hari untuk mendongkrak kesuburan.


"Mbak... " kepala Mbok Nah terlihat di pintu kamar


"Dipanggil Pak Alex"


Reyna malas turun dari ranjang, ah kira-kira apa lagi yang ingin dibicarakan lelaki itu. Langkahnya terhenti di tengah anak tangga saat melihat sorot mata tajam seorang pria dibawah sana. Membalikkan badan enggan hendak kembali ke kamarnya


"Reyna!" teriakan pria itu menggema


Terpaksa ia kembali menuruni tangga dan berjalan mendekat


"Mas Gandhi kenapa kesini"


"Tidak boleh?"


"Sengaja kan?"


Gandhi melirik Alex "Panggilan tugas"


"Om.. " Reyna merajuk


"Sesekali suamimu perlu diberi pelajaran. Pergilah, bersama kakakmu"


"Tidak mau! Dewa bagaimana?"


"Ada Om! Ayolah Rey, kamu mau suamimu masih menemui perempuan itu??" Alex berdiri


Reyna menggeleng cepat


"Kemasi barang-barangmu untuk 3 hari kedepan, ikutlah dengan Gandhi" perintahnya "Kalian berdua perlu berpikir, jangan seperti anak kecil main kabur-kaburan" sindirnya


Reyna mengambil napas pelan, hemm ada benarnya juga kata-kata Om Alex. Toh kali ini dia tidak kabur sembarangan, ada Gandhi bersamanya.


Mbok Nah sudah berada dikamarnya membantunya membereskan tas travelnya


"Mbak Rey jangan lama-lama perginya ya. Kasian Mas Bimo nanti nyariin"


"Iya Mbok, Reyna juga nggak mau, kasihan Dewa. Tapi mau bilang apa, perintah jendral" bersungut-sungut


Menyeret malas tasnya, hah niatnya bergelung seharian di bawah selimut gagal sudah.


"Jangan lupa blokir sementara nomor Bimo" tambah Alex saat Reyna hendak masuk ke mobil Gandhi yang hanya diangguki saja olehnya

__ADS_1


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!


__ADS_2