
Motor sport Bimo melaju pelan membelah keheningan kota, keduanya terdiam membisu sepanjang perjalanan.
Decit rem menghentikan dua roda itu, hingar bingar musik terdengar ditelinga Reyna.
"Kak Bimo mau apa kesini?"
Bimo menepuk lutut Reyna menyuruhnya turun, menggandeng tangan Reyna menuju depan bangunan didepannya yang menampakkan lampu berkedip kedip menjuntai kata STAR NIGHT CLUB.
Reyna menarik sweater Bimo dan menggoncangnya "Jangan bilang Kak Bimo mau ajak aku masuk"
Pria itu menoleh dan tersenyum "Apa aku sudah segila itu? Aku bahkan sudah hampir lupa rasanya seperti apa didalam sana"
"Yuk.. " Bimo menggoyangkan genggaman tangan dan menarik Reyna kebangku besi, berdiri mematung disampingnya "Disini.. "
"Apanya?"
"Kau lupa Rey? Disini aku pertama bertemu denganmu, kau hanya bocah kecil yang polos buatku waktu itu. Mataku tidak sejeli mata Andre yang bisa menelanjangimu dalam sekejab"
Reyna memukul pundak Bimo "Tampangmu datar tidak seperti laki-laki nakal yang doyan menyambangi tempat seperti itu"
Bimo terbahak "Masih marah?"
Reyna mengangkat bahunya "Entah"
Bimo melirik jam tangan dipergelangan tangannya "Kalau perlu kita habiskan hari, asal kau tak marah lagi" tangan kekar itu merangkul pundak wanita yang sedang cemberut dan memaksanya berjalan kembali ke motor
.
.
.
Mata Reyna berbinar saat roda bundar itu berhenti didepan tempat favoritnya dikota ini
"Oh God Reyna...it's freezing really! " Bimo menyipitkan matanya dan meletakkan kembali sendok kecil bekas suapan Reyna ke gelas jumbo berisi 3 atau lebih scoop es krim.
"It's amazing!!" Reyna terbahak "Kak Bimo sudah tua, nggak tahan makan dingin"
Jemari Bimo bertaut pada jemari Reyna, menatap lekat wajah manis disampingnya yang pelit meyunggingkan senyumnya malam ini
__ADS_1
"Sudah ya marahnya..." rayuan Bimo tak serta merta meluluhkan kegusaran Reyna, kepalanya bergerak menggeleng
"Aku iri, aku kalah cantik!" rengek Reyna bagai anak kecil
"Reyna... "
"Aku sebal, aku tak suka naik gunung seperti dia! "
"Rey..! "
"Aku ... aku jadi berpikir Kak Bimo pernah menginap bersama dengannya dipondokan kemarin"
Bimo membungkam mulut Reyna
"Pertama dia memang lebih cantik darimu tapi apa artinya kecantikan jika dinikmati banyak orang. Kedua, salah jika dia suka naik gunung, foto itu diambil candid di Bromo saat acara kampus. Ketiga, aku hanya menidurinya di apartement"
Napasnya Reyna tersengal saat Bimo melepaskan tangan dari mulutnya
"Kau lain dari lainnya Reyna, kau membuatku mengerti arti kata memiliki, mencintai. Semua makin nyata dengan hadirnya Dewa diantara kita"
"Kak.. boleh aku bertanya satu hal lagi" Reyna menggeser kursinya mendekat "Adakah wanita lain selama kita tak berjumpa hampir 4 tahun lamanya?"
Detak jantung yang berdenyut dapat dirasakan ditelapak Reyna saat Bimo meletakkan tangannya didada pria itu.
"Aku benar-benar putus asa menerima kenyataan kau telah bertunangan waktu itu. Menantimu kembali suatu hal yang mustahil. Sungguh itu membuatku hampir gila"
"Maaf... " lirih kata itu meluncur dari bibir Reyna "Aku terlalu pengecut untuk meyakinkan perasaanku sendiri. Aku takut akan ada yang terluka. Aku merasa mengkhianatimu ditiap kebersamaanku dengan Mas Bram. Tapi... aku juga merasa bersalah kepada Mas Bram jika aku bersamamu Kak. Meskipun saat ini dia sudah tak bersama kita lagi"
Pundak wanita itu bergetar seiring air mata yang tiba-tiba jatuh, mengingat Bram adalah hal yang menyedihkan. Rengkuhan tangan dipundaknya makin meruntuhkan kekuatannya, kepala Reyna bersandar di bahu Bimo, pemilik bahu itu hanya terdiam hingga tangis mereda.
.
.
.
Dua roda bunda kembali melaju pelan, senyum Bimo merekah, tangan kirinya menggenggam kedua tangan Reyna yang erat melingkar diperutnya. Punggungnya terasa hangat berkat pelukan erat wanita bertubuh sintal dibelakangnya.
aaaiihhhhhhhh
__ADS_1
"Reyna.. dulu kau tak seperti ini. Kau wanita yang pandai menipuku dengan wajah datarmu, kau tak pernah selugas ini mengutarakan perasaanmu"
"Aku belajar banyak, mengungkapkan perasaan ternyata lebih melegakan dan menyenangkan"
Pelukan itu makin erat, kepala Reyna bersandar manja dipunggung Bimo. Dinginnya malam bagaikan tak ada artinya, dua hati itu menghangat setelah melepas beban yang mengganjal selama ini. Berharap waktu masih bersabar menanti mereka untuk bersatu utuh.
.
.
.
Dengan hati-hati Reyna berusaha menutup pintu garasi tanpa suara. Dibelakangnya Bimo tengah memarkirkan motor yang kemudian kokoh berdiri ditopang standar tengahnya.
Lelaki itu melambaikan tangan kearah Reyna
"Naik" bisiknya
"Hah?"
Dibimbingnya tubuh wanita itu untuk naik ke jok belakang motor, lalu disusulnya naik melawan arah. Berdua mereka duduk berhadapan diatas motor.
Decapan hasil ******* sepasang bibir menggema di kegelapan garasi, tangan Bimo bergerilya nakal menggerayangi tubuh Reyna yang terduduk lebih tinggi dari jok kemudi. Perempuan itu hanya pasrah, takut terjatuh jika ia salah bergerak.
Sweaternya telah terlepas dan dihempaskan entah kemana oleh pemilik tangan yang kini meremas dua bukitnya meninggalkan lenguhan kecil.
Tangan itu makin terampil melepas satu persatu kancing piyama tidurnya dan menghentakkan kait pelapis dada sementara bibirnya sibuk menelusuri tiap jengkal lehernya.
Benda basah berlendir mendarat di puncak dadanya, bermain, memutar, menjilat, sesekali menggigit kecil. Sensasi itu menjalar tepat dipusat tubuhnya.
"Kakk.. stop..! Acchh... " telapak itu membungkam mulutnya
"Kita pindah kekamar... "Reyna tersentak oleh bisikan penuh nafsu dengan napas yang memburu
Pria itu berdiri tegak disamping motor menunggu sang wanita turun. Reyna menggeleng pelan, menautkan satu persatu kancing piyamanya. Hampir tak dapat ia lihat wajah tampan di kegelapan ini. Ia mengubah duduk menyamping, meraih tengkuk lawan didepannya dan mencium bibirnya.
"Aku janji tak akan lama lagi, beri aku waktu sedikit lagi...sampai aku bisa berdamai dengan rasa bersalahku Kak"
---
__ADS_1
Reyna tertidur lelap di dekapan Bimo di sofa ruang tengah. Berharap mentari malas merambat naik diesok hari agar bisa melewatkan waktu lebih lama. Kebersamaan mereka kini terasa berharga tiap detiknya.