Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
135. Bodoh! (part3)


__ADS_3

Sisil datang menemuinya tiga hari pasca kejadian


"Ngobrol dibelakang saja yuk.." ajak Reyna setelah gadis itu meletakkan kardus berisi barang-barangnya


"Sisil diminta Pak Pras kesini nengok Mbak Rey"


"Ehm ya, makasih ya Sil"


"Sisil minta maaf mbak" sahutnya takut-takut


"Maaf buat apa?" Reyna menaikkan alisnya


"Gara-gara Sisil mbak Rey keguguran. Harusnya Sisil nggak nawarin jamu waktu itu"


Reyna tertawa kecil "Sisil... nggak ada hubungannya jamu dengan peristiwa kemarin. Lagian aku kan hanya konsumsi satu botol kecil"


"Benarkah?" mata gadis polos itu membelalak


"Hu um" Reyna mengangguk sambil meminum tehnya


"Ahhh.... leganya... Sisil sampai tidak tenang memikirkannya"


"Sil, nanti minta tolong kembalikan selimut Pras yang waktu itu aku pakai"


"Kenapa nggak mbak sendiri yang kembalikan sekalian tengok kita-kita di kantor"


Reyna menghela napas "Iya kapan-kapan aku main kesana, tapi tidak dalam waktu dekat ya"

__ADS_1


Bimo menggandeng Reyna saat namanya dipanggil suster. Malam ini jadwal kontrol tujuh hari pasca tindakan kuretase.


"Rahim ibu sudah bersih, saya tidak meresepkan apapun dan ini hasil laboratorium jaringan. Tidak ditemukan mioma ataupun jaringan ganas lainnya" dokter menerangkan


"Jadi apa penyebab istri saya keguguran dok?" tanya Bimo


"Ehmm..pemicu keguguran beragam bapak. Bisa karena ada sesuatu yang salah dalam kehamilan misalnya janin gagal berkembang dengan baik"


"Apa faktor kelelahan bekerja juga bisa Dok?"


"Ya bisa jadi, stress dan kelelahan karena aktivitas yang terlalu berat di tempat kerja. Apapun penyebabnya saya harap bapak dan ibu tidak berkecil hati dan berlarut dalam kesedihan. Semangat dan selalu berusaha, lagipula prosesnya kan enak. Iya kan?" dokter yang masih terbilang muda itu tertawa kecil


"Wah benar itu dok" mata Bimo berbinar-binar "Ehm, sudah boleh dipakai tidak dok?" bertanya dengan nyengir-nyengir kuda


Reyna hanya melongo melihat suaminya yang benar-benar tak tahu malu itu


"Oh boleh boleh, silahkan saja. Banyak yang menganggap harus kosong rahim 3 bulan lebih dulu, tapi saya penganut lebih cepat lebih baik mumpung rahim ibu sedang bersih"


Bimo keluar dari bilik konsul dengan senyum lebar sedangkan Reyna menunduk menyembunyikan mukanya yang masih bersemu merah


Sungguh suaminya itu tak henti-hentinya menggodanya seduktif, merayunya, menggusel-guselkan badannya mesum semenjak kepulangan mereka dari rumah sakit


"Kak.. " Reyna mendorong dada Bimo pelan saat laki-laki itu mulai merayap ke atas tubuhnya


"Ada apa?"


"Aku sedang tak menginginkannya, maaf"

__ADS_1


Bimo merebahkan badannya di samping Reyna, melirik istrinya yang bersingsut menarik selimut dan memunggunginya.


Pria itu memeluk tubuh Reyna dari belakang, menyusupkan tangan dibalik selimut, mengelus lembut perut istrinya.


"Tak apa, aku tunggu hingga kau siap" bisiknya pelan


Sebulan berlalu sejak penolakan itu, Reyna juga belum siap untuk melakukan keintiman lagi. Meskipun Bimo tak gencar untuk menggodanya bahkan meminta terang-terangan tetap saja pria itu mengalah setiap Reyna menggelengkan kepala.


Akhir-akhir ini mereka jarang tidur seranjang, Bimo lebih sering tidur dikamar Dewa. Meninggalkan dirinya yang belum juga bisa berdamai dengan rasa bersalahnya.


---


"Kak, malam ini aku mau pergi dengan Mbak Niken" ijinnya saat merapikan dasi suaminya


"Malam??"


"Iya, Mbak Niken bisanya malam. Boleh ya? Aku lama tidak berjumpa"


Bimo mendesah "Aku juga sudah lama tidak berduaan denganmu Rey" lelaki itu memajukan badan memiringkan kepala


cup


Reyna hanya mengecup sesaat tanpa berniat melanjutkan ke tahap selanjutnya


"Maaf Kak, tapi aku butuh waktu"


"Aku mengerti tapi sampai kapan Rey. Kau menyiksaku"

__ADS_1


Reyna menggeleng "Entahlah"


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!


__ADS_2