
Masih menatap takut-takut ke arah istrinya yang sedang menatapnya tajam. Ibarat mata pisau yang merobek-robek jantungnya.
"Sayang... " rengkuhnya tubuh sintal itu dengan lengan kirinya
"Jelasin dulu!" dua tangan itu menolak dada Bimo
"Usaha giring macan keluar sangkar, berhasil ternyata" Bimo cengar cengir "Ya meskipun ada sedikit insiden" melirik ke arah tangan kanannya yang ditopang arm sling
Flash back
Bahu Bimo melorot di kursi kerjanya, ini hari ketiga istrinya pergi meninggalkan rumah. Segala usaha sudah ia kerahkan, kecuali menghubungi Gandhi tentunya.
Kepalanya berdenyut hebat, memutar mutar ponsel di meja kerja, entah siapa lagi yang harus ia hubungi. Bianca karib istrinya tak henti mengomelinya kemarin saat tahu Reyna kabur dari rumah.
Tiba-tiba senyuman tertarik di sudut bibirnya. Ah! Kenapa baru terpikirkan sekarang, suruh saja Lidya menghubungi istrinya pasti wanita itu keluar dari persembunyiannya. Dahinya berkerut dan otaknya berpikir keras, ia harus menyusun rencana matang lebih dahulu.
15 menit menjelang berakhirnya jam kerja ia putuskan untuk menghubungi Lidya
"Halo"
"Kamu dimana?"
"Mau apa?"
"Aku butuh bicara sebentar"
"Jangan Bim, sudahlah aku nggak mau cari ribut lagi dengan istrimu"
"Justru karena mau menyelesaikan masalah dengan istriku. Aku butuh bantuanmu"
"Nggak mau!"
"Please Dy, ini semua juga gara-gara kamu kan pakai mabuk di kelab segala! Kamu dimana, aku susulin!"
"Aku mau ke air port"
"Balik?"
"Bim, nggak ada seorangpun yang terima aku. Buat apa lagi disini, mending aku balik"
"Dy, tunggu jangan pergi dulu. Please aku minta bantuanmu"
"Okay, aku share lock"
Persetan dengan bel kantor yang tak jua berbunyi, Bimo sudah melesat membelah jalanan menuju hotel tempat Lidya tinggal selama di Indonesia. Wanita cantik itu sudah menunggunya di depan hotel bersiap dengan koper. Kacamata hitam bertengger manis di hidung mancungnya, syal berwarna navy melingkar di leher menjuntai kedepan menyamarkan dadanya yang montok.
"Bicara sekarang. Waktu kamu 5 menit!" Lidya menunjuk ke arah taksi yang bersiap membawanya ke bandara
"Dya, tolong hubungi istri aku sekarang"
"Kamu gila ya! Enggak ah!"
"Cuma kamu yang bisa pancing dia keluar dari persembunyiannya. Sudah 3 hari dia nggak pulang!" Bimo menarik rambutnya frustasi
"Oh ya?" mata indah Lidya mengerjab, menatap prihatin pria yang nampak lusuh didepannya "I'm so sorry"
"Makanya bantuin! Cepat buruan, ponselku sudah aku matiin jaga-jaga kalau Reyna hubungi aku"
__ADS_1
"Tapi aku harus bilang apa?"
"Bilang saja aku kecelakaan, aku yakin dia pasti langsung datang!"
"Amit-amit Bim, nggak mau ah!"
"Bodo! Penting istriku pulang!" Bimo mendengus kasar
"Nggak Bim, pikirkan ide lain" Lidya bersiap menyeret kopernya ke bagasi taksi
"Dy please.. " Bimo menahan handle koper
"Pamali, kalau kejadian bener gimana?" handle koper kembali beralih ke tangannya
"Aku nggak tahu harus berbuat apa lagi" Bimo berkacak pinggang berusaha menjajari langkah Lidya tanpa menyadari sepeda motor melaju kencang dan memepet taksi yang terparkir dipinggir jalan
Gubrak....
Siku Bimo terkena spion motor cukup keras hingga tubuhnya tersungkur kedepan
"Bimo... " pekik Lidya
Wanita itu spontan menolong Bimo untuk berdiri
"Aduh.... " Bimo meringis kesakitan saat hendak menggerakkan tangan kanannya
"Tahan, jangan banyak gerak, kita ke dokter!" Lidya menarik kasar syal, membalut tangan Bimo sebagai penyangga dan menyimpulkan tali di pundak
"Mana kontak?"
Bimo merogoh saku nya dan memberikan kunci mobil. Sial! rutuknya
"Jam berapa flightnya?" tanya Bimo sambil meringis saat duduk di bangku penumpang
"7 malam!" sahut Lidya tanpa menoleh, tangannya menggenggam setir erat-erat
"Masih ada 2 jam lebih, cukuplah untuk kamu telepon Reyna"
"Bim, pikirkan tangan kamu dulu"
"Nggak apa-apa, paling cuma keseleo. Urusan istri aku lebih penting Dy"
"Cckk, cinta banget kamu sama dia!"
"Dia segalanya buat aku"
"Hei, dulu kamu juga bilang itu ke aku!"
"Bedalah.. dulu aku masih labil! Bisa jadi aku bilang itu ke semua wanita. Sekarang beda, aku punya istri, punya anak sebentar lagi dua"
"Istri kamu lagi hamil??" Lidya menoleh sesaat
"Belum, doakan"
"Pasti! Usaha dong!"
"Jangan ditanya!" Bimo tersenyum kecut, rindu memang berat, bahkan lebih berat muatan truk kontainer didepan mobilnya yang sedang menuju ke pelabuhan
__ADS_1
---
"Masih sakit??" Lidya iseng menjentikkan jarinya di siku Bimo
"Aooww, sakit Dya!"
Mereka berdua sudah berada di lobi rumah sakit, untung saja Bimo hanya terkilir ringan, kurang lebihnya begitu yang diutarakan dokter di bagian umum
"Alah.. sakit mana sama ditinggal istri?"
"Gara-gara kamu tuh, pakai mabuk berat!"
"Iya sorry. Jadi nggak nih teleponnya?"
"Jadilah"
"Berapa lama aku harus tunggu sampai istrimu datang" Lidya melirik jam tangannya
"Ehm, entah. Tapi aku yakin Reyna pergi nggak jauh dari sini"
"Aku tunggu setengah jam ya, kalau dia nggak datang terpaksa aku pergi"
"Okay" Bimo mengangguk pasrah
Mulailah Lidya menelepon lalu mengirimkan share lock melalui ponselnya
"Aku bisa belikan tiket asal kamu mau cancel penerbanganmu hari ini" Bimo menyandarkan punggungnya di bangku tunggu depan bilik CT scan
Hanya ini satu-satunya ruangan rumah sakit yang paling sepi menurutnya, dia pernah menunggu hasil rontgen putranya waktu itu disini
"Enggak Bim, aku pengen segera pulang"
"Kenapa tak kau habiskan visa berkunjungmu dulu?"
"Disini aku tak punya siapa-siapa. Semua teman-teman kuliah sudah menjalani hidup. Bahagia dengan keluarga masing-masing, seperti kamu" Lidya menatap Bimo
"Maaf Bim untuk masa lalu" ucapnya lirih
"Sudah Dy, aku nggak mau bahas itu lagi. Aku yakin kamu juga bahagia suatu saat nanti"
"Makasih Bim, istrimu wanita beruntung"
Bimo menggeleng "Aku yang beruntung mendapat istri sempurna seperti Reyna. Dia sering mengalah menghadapi aku yang egois"
"Bim..buruan sembunyi" Lidya mengibas ngibaskan tangannya saat melihat sekelebat bayangan wanita berjalan cepat diselasar
Bimo segera berjinjit pelan dari balik pilar menuju bilik ASI yang sudah mendapat ijin sebelumnya oleh penjaga
Flashback Off
Buliran bening itu pelan membasahi pipi Reyna, hatinya mengharu biru setelah mendengarkan penjelasan dari kesalahpahaman diantara mereka berdua
Bimo menatap istrinya tak berkedip seakan takut wanita itu menghilang saat matanya mengerjab. Direngkuhnya badan Reyna, usapan di punggung dibalas wanita itu dengan pelukan di pinggangnya.
Reyna menjatuhkan kepalanya didada bidang suaminya. Hatinya sejuk bagaikan menemukan oase kehidupannya yang kering bagaikan padang pasir selama 3 hari ini
__ADS_1
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!