
Tiga bulan berlalu begitu cepat, Dewa telah menyelesaikan pendidikannya ditingkat PAUD dan memasuki masa liburan anak sekolah.
Bocah kecil yang beranjak besar bercicit siap melanjutkan ke jenjang Taman Kanak Kanak, tentu saja dia semangat lantara Rara juga bersekolah ditempat yang sama.
Hari ini, hari terakhir Reyna bekerja di perusahaan Bianca bernaung. Farewell party diadakan kecil-kecilan di salah satu resto petang nanti, Bimo yang berjanji turut hadir karena bertepatan dengan akhir pekan menyusul selang satu jam sejak dimulainya acara.
Mengambil duduk disebelah Reyna setelah mencium istrinya hangat dan memberikan buket bunga cantik. Hari ini perlu ia rayakan karena esok hari Reyna beserta Dewa resmi ia boyong menuju rumah Alex. Say no to LDR!
"Aihh.... romantisnya.. " Bianca menggoda Reyna yang tersipu saat pipinya dikecup hangat "Sosor terus Kak..!"
Isak tangis menghiasi akhir acara, pelukan hangat dan ucapan sukses mengiringi kepergian Reyna malam itu.
"Thanks Bi, pamitkan aku sama Tante Linda ya. Sayang beliau tidak bisa hadir" Reyna memeluk erat karibnya itu
"Iya, santai saja. Main kesini sering-sering ya" Bianca melepas pelukan Reyna "Oh ya, ini ada bonus" Bianca menyodorkan sekeping CD
"Apa ini?"
" Ada deh.. ntar lihat yak" Bianca mengedipkan matanya
Reyna memasukkan CD ke tas jinjing kado farewell party dari rekan kerjanya, menerka apa isi CD tersebut. Ehmm mungkin kenangan selama mereka menjadi partner kerja.
.
.
.
Pagi menjelang, Reyna memandang seisi rumahnya yang penuh kenangan masa kecil Dewa dan sekeping kenangan bersama Bramantyo. Ah hatinya sesak setiap mengingat nama pria yang pernah menorehkan cerita dihidupnya.
"Langsung pulang kerumah Om Alex kan?" tanya Bimo
Reyna memandang Bimo ragu "Ehmm.. aku keluar sebentar ya Kak, nggak lama kok"
"Mau kemana? Aku antar"
"Ke makam Mas Bram. Aku mau pamit"
"Oh.. Kita kesana dulu baru bertolak pulang"
"Kak Bimo tak apa?"
"Reyna...aku paham kalau dia pernah menjadi bagian dari hidupmu dan Dewa" Bimo merapikan anak rambut Reyna kebelakang telinganya dan menepuk pipinya.
.
.
.
"Hai Mas Bram, apa kabar?" sapaan wajib saat Reyna hadir di makam
Jemarinya menata bunga sedap malam "Kak Bimo ikut kemari, kita mau pamit"
Gemericik air membasahi batu nisan "Reyna akan jarang kesini Mas, aku kirim doa dari jauh ya"
Reyna berdiri setelah memanjatkan beberapa doa "Bye Mas.. Reyna tunggu dalam mimpi" jemarinya mengelus batu nisan
"Ayuk Dewa.. pamit dulu sama Papa Iyo" Reyna melambai ke arah Dewa yang berlarian mengitari beberapa nisan diarea pemakaman
__ADS_1
"Bye Papa Iyo, Dewa besok sudah sekolah di tempat anak besar" Dewa melambai kearah makam
"Ayuk Kak" Reyna menyentuh lengan Bimo
"See you Pak Bram" Bimo menepuk nisan dan merangkul Reyna
"Apa Dewa juga masih suka bertanya Rey?"
"Ehmmm... ya kadang. Biasanya pas dia lihat-lihat foto kecilnya, banyak foto Mas Bram disana"
"Eh ya aku pernah melihat foto mereka. Nampak dia menyayangi Dewa sangat. Bukti cinta lebih nyata dibanding hubungan darah" Bimo tersenyum dan menoleh kembali ke arah makam dibelakangnya
.
.
.
Berempat tiba kekediaman Alex setelah menempuh perjalanan 2 jam lamanya, pengasuh Dewa sejak bayi turut diboyong Bimo dengan alasan bersiap jika lahirnya si adik cantik.
"Selamat datang Reyna" Alex menyambutnya hangat
"Hai Om, apa kabar?"
"Sehat, wah sekarang rumah ini jadi ramai"
"Maaf ya Om, Kak Bimo memaksa embak pengasuh Dewa tinggal disini. Padahal kan cukup Reyna mengasuh Dewa, Reyna kan dirumah" bisik Reyna pelan
"Ahh.. tak jadi soal. Biar bantu Mbok Nah, sudah tua kasihan kalau harus belanja berat-berat ke pasar"
"Ibu, ini tasnya Ibu" pengasuh Dewa menenteng tas hadiah Reyna dari rekannya "Saya permisi mau kekamar Dewa, sepertinya mengantuk waktunya tidur siang"
"Ada di ruang kerja. Laptop kamu sendiri?" Bimo berjalan menuju dapur membasahi kerongkongannya yang kering disisa perjalanan
"Aku kan nggak punya, laptop kemarin dari kantor" Reyna mengambil laptop "Om Reyna permisi naik ya, mau istirahat" setelah diangguki Alex ia berjalan naik kekamar. Jemarinya memencet tombol ON OFF dikeyborad laptop lalu mengganti bajunya dengan kaos dan celana santai.
Melompat ke ranjang memasukkan kepingan tipis dari dalam tas pemberian ke CD room, bertopang dagu menunggu sesaat.
Oh God!!!! Reyna memekik saat suara desahan terdengar nyaring, buru-buru menyentuh touchpad menekan mute pada volume video dilayar laptop yang terpampang gambar tak seronok.
Shitt! Dasar Bianca kelakuan minus! Omes..Otak mesum! Parah. Rutukan keluar dari bibir Reyna seketika.
"Oh.. jadi pinjam laptop buat itu" suara Bimo terdengar nyaring dibelakangnya
"Ah.. " Reyna berjingkat kaget "Eh Kak nggak gitu, ini aduh itu Bianca yang kasih"
Bimo berbalik mengunci pintu kamar dan menindih tubuh Reyna, menahan gerakan tangan Reyna yang hendak mematikan laptop
"Aduh Kak, sebentar aku mau telepon Bianca" Reyna menggoyangkan badan berusaha menyingkirkan tubuh Bimo
---
"Heh Bianca, dasar temen nggak ada akhlak! Otak mesum. Kebangetan kamu" serentetan cemoohan keluar dari mulut Reyna
Gelak tawa Bianca terdengar nyaring di speaker ponselnya "Bagus kan.. bisa buat bahan. Biar cepet melendung itu perut!"
Dada Reyna masih naik turun menahan kekesalan "Untung aku lihat pas Dewa lagi tidur, ya ampun Bi. Pengen jitak kepala kamu, kalau perlu aku cukur sampe botak!"
"Hai... calm down girl! Okay enjoy it. See yaa.. "
__ADS_1
"Hishhh!" Reyna membanting ponsel ke ranjang "Tuh Kak, denger kan ya" bibirnya melipat
"Ehmm... memang kamu tidak pernah lihat blue film?"
"Ya pernah, sebatas yang lagi booming. Kaya si artis A sama artis B gitu"
"Ah.. apa asiknya. Remang-remang nggak jelas gitu. Mau lihat yang dari Bianca?"
"Ihh... enggak!" Reyna menjatuhkan badannya ke ranjang dan menutup mukanya dengan bantal
Bimo mengambil bantal dari muka Reyna "Tak apa, buat bahan nanti malam"
Eh malam, are you sure? not right now? gumam Reyna
"Tapi malu.. " ucapnya pelan meskipun jujur dalam hati dia penasaran
"Sekedar lihat.. " Bimo membalikkan badan Reyna agar telungkup sejajar dengan dirinya. Memutar ulang video dari awal, menaikkan volume suara hingga sayup-sayup terdengar.
Reyna berlindung dengan bantal didepan wajah, mengintipmelihat adegan demi adegan panas didepan layar. Dia lirik Bimo yang menampakkan muka datar.
"Kak Bimo suka lihat ginian ya?"
"Ehm"
"Sering"
"Lumayan"
"Sejak menikah?"
"Nggak lagi"
"Kenapa?"
"Buat apa"
Reyna kembali menatap layar kembali, aduh sampai jungkir balik gitu mbak mas. Menggigit bibirnya ngilu, menggeliatkan badan saat terasa lembab dibawah sana.
"Rey,, " Bimo mendesah penuh nafsu ditelinganya
Oh No! gawat!
Tangan Bimo menutup laptop
"Kak Bimo mau apa?"
"Si Ontong pengen ketemu Mey Mey" dilepaskannya celana jeans dan kaosnya meninggalkan boxer hitam yang menunjukkan ketegangan dibawah sana.
"What Mey-Mey!" pekiknya sejak kapan sih bagian tubuhnya ikut-ikutan diberi label nama
"Ya ampun, belum juga selesai lihat!" omel Reyna, ah harusnya dia tak percaya janji mesum Bimo yang selalu ingkar
"Udah nggak tahan!" Bimo melepas celana pendek Reyna paksa dan menindih tubuh itu
"Ahh siang-siang gini Kak, panas.. " Reyna merengek malas
"Kalau panas buka saja bajumu" kali ini giliran kaos yang berhasil lolos terlepas melalui kepala
Pasrah saja Rey pasrah, toh sudah kepalang basah juga!
__ADS_1
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!