
Tok Tok Tok
"Rey.. bangun.. sudah siang! " teriakan Gandhi didepan pintu kamarnya membuat tubuh sintal itu hanya menggeliat dibalik selimut
"Aku masuk ya.. "
ceklek
"Bangun.. " goncangan di bahu hanya membuat sepasang mata mengerjab pelan
"Nggak enak badan aku Mas" sahutnya lirih
"Kenapa? Kena angin malam?"
"Mungkin, kepalaku pusing" Reyna kembali bergelung dan menenggelamkan kepalanya ke bantal
"Ayolah jangan manja, segera mandi dan ikut aku"
"Kemana?"
"Berpetualang!" Gandhi menepuk punggungnya dan berlalu pergi
Meninggalkan Reyna yang masih enggan membuka mata menahan pening dikepalanya
"Rey.....!! Ayo cepat. Nanti kita ketinggalan!! " pekik Gandhi 10menit kemudian
"Iyaaaa sebentarr... " teriak Reyna yang sedang memoleskan suns screen
Ketinggalan apa pula yang kakaknya maksud!
Gandhi menengok kekanan kekiri setelah keduanya bersiap ditepi jalan desa
"Nah nah itu dia.... " pria itu berlari ke tengah jalan dan menghalau gerobak sapi pengangkut rumput gajah untuk pakan ternak
"Nderek nggih Pak" katanya (ikut numpang ya Pak)
Bapak itu mengangguk seperti sudah biasa jika ada orang yang menumpang
"Ayo!" tangan Gandhi terulur setelah dirinya sukses naik ke tumpukan rumput
"Serius?" Reyna memandang ragu
"Cepat!" Gandhi menarik tangannya lalu membantu Reyna duduk di sebelahnya
Gerobak itu kembali berjalan, oleng kanan oleng kiri. Aduhh... Reyna hanya terdiam merasakan pening kepalanya makin hebat, mual dirasa mulai menyerang
Gandhi tertawa terbahak-bahak "Baru ini aku lihat orang mabuk gerobak sapi"
__ADS_1
Angin sepoi-sepoi memainkan anak rambut Reyna, kedua kakinya bergantung santai tumpukan rumput, sambil sesekali menggaruk sana dan sini
"Mas Gandhi mau ajak aku kemana sih?" sungutnya
"Lihat kebun sengon" sedari tadi pria itu menengok kanan kiri "Dengar-dengar banyak yang punya lahan kosong yang ditanami sengon daripada dibiarkan begitu saja"
"Ini sih ceritanya Rey nemenin Mas Gandhi kerja"
"Ya sekali dayung 2 pulau terlampaui" pria itu menggerakkan alisnya naik turun
"Pak, mandap mriki Pak" serunya pada si empu gerobak (Turun disini)
"Matursuwun... " Gandhi membungkukkan badannya hormat (Terimakasih)
Keduanya berjalan menebas rimbunnya kebun eh tepatnya mungkin hutan sengon, langkah Reyna terseok. Badannya lemas, kepalanya pening dan mual.
"Sebentar lagi... " Gandhi menarik paksa pergelangan tangannya "Jangan pingsan, aku nggak mampu gendong"
Ah, Reyna sedang malas mendebat
Tibalah di sebuah gubuk, sepertinya kediaman penjaga lahan tersebut. Gandhi nampak serius berbicara, melempar harga, menawar. Apapun di lakukan agar mendapat bahan baku untuk usaha kayu lapisnya
Pandangan Reyna tertambat pada pohon kelapa, banyak segerombolan buah hijau yang membuatnya menelan ludah
"Mas.. " bisiknya pada Gandhi
"Aku mau itu"
"Iya sebentar" jawabnya santai tanpa tahu apa yang dimaksud
"Ambilkan"
"Iya iya" asal menggangguk angguk
Done! Jabat tangan mengakhiri negosiasi alot
"Ayo sekarang!!" Reyna mengamit lengan Gandhi
"Apa sih?"
"Itu... " tunjuknya lagi ke buah kelapa
"Ohhh... bilang mbak dari tadi" penjaga lahan itu masuk ke gubuk dan keluar sambil membawa dua butir kelapa utuh lengkap dengan golok
"Ini Mas Mbak, Silahkan"
Gandhi mengestafetkan satu butir buah yang telah terbuka ujungnya ke tangannya
__ADS_1
"Nggak mau" Reyna merengut "Mau yang dipohon"
"Ah, sama saja Mbak. Baru saya petik kok tadi pagi" kata bapak penjaga lahan itu
"Tadi Mas Gandhi sudah janji mau ambil" rengeknya seperti anak kecil
"Ah ya nggak apa-apa, silahkan"
Gandhi segera memanjat pohon yang tak seberapa tinggi itu, memanjat buatnya adalah keahlian dari kecil
"Ini?" tunjuknya setelah sampai di atas
"Bukan, satunya" teriak Rey keras
"Ini?" tunjuknya lagi
"Bukan, sebelahnya"
"Ini?! " kali ini mulai sebal nada bicaranya
"Lagi geser"
Gandhi menengok kebawah "Terakhir ya!" ancamnya "Ini kan?"
"Eh iya iya yang itu"
Buggghh satu butir terjatuh
Gandhi bersiap turun
"Eh Mas.. satu lagi eh dua lagi"
Busyet!
"Yang mana?? " ish gemas dia dijahili Reyna
"Itu sama itu" menunjuk buah yang tadi sempat ia tolak
Terheran melihat adiknya asik menenggak air kelapa langsung dari buahnya. Masih merepotkan bapak penjaga mencari sendok untuk sekedar menyerut dinding buah yang tak seberapa tebal.
Bagaikan tokoh Popaye yang kuat setelah memakan bayam, begitu juga dengan Reyna yang puas dengan 3 butir kelapa muka. Mukanya berseri-seri, langkahnya lebar sesekali berlari kecil.
"Dasar kamu Rey, kalau lapar lesu lemah giliran kenyang hahh... " Gandhi bersungut sungut sambil memutar bola mata
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!
__ADS_1