
Kehamilan Reyna telah melewati trimester pertama, nafsu makannya sudah kembali normal sehingga badannya mulai bertambah padat eh berat. Hanya beberapa kali ia merasakan mengidam beberapa makanan
tertentu dan beruntungnya tidak terlalu merepotkan.
Ehmm… berbeda kali ini ia menginginkan jajanan tradisional bernama getuk lindri. Sejak dari pagi Mbok Nah bersama Pak Min dikerahkan untuk mencari jajanan yang bisa dibilang susah dicari untuk ukuran kota besar tempat tinggal mereka.
“Dapat Mbok?” tanya Bimo saat melihat Mbok Nah memasuki rumah
”Nggak ada Mas Bimo, dipasar nggak ada, masnya yang biasa jualan dorongan di komplek sebelah juga nggak datang-datang” Mbok Nah mengelap peluh yang membanjir di keningnya
“Ahh,, trus gimana dong” Reyna merajuk
“Gantilah ngidamnya, jangan itu” Bimo membujuk
“Coba deh Kak Bimo yang hamil, biar ngrasain pengennya itu kaya apa. Pokoknya beliin, kalau nggak anak kamu ntar ileran!” Reyna menghentakkan kaki dan naik kekamar
“Ampun Di Jeeee” pekik Bimo frustasi
Masalahnya sejak dini hari istrinya yang terbangun karena buang air kecil mengganggu tidurnya karena menginginkan jajanan pasar itu
“Sabar Bim…resiko mau kasih Dewa adik” Alex melepas kaca mata bacanya
“Ribet begini Om, Bimo nggak sangka”
“Mas Bimo jangan gitu, lebih kasihan Mbak Reyna yang pegal bawa jabang bayi kemana-mana. Badan bengkak, kaki bengkak, tidur susah. Hayo…” Mbok Nah menengahi
Bimo terdiam, selama ini masa mengidam Reyna tidak menyusahkan, semua masih bisa ia atasi. Tidak harus dirinya sendiri juga yang mencarikan.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam tapi Bimo belum juga pulang, satu jam berlalu saat terakhir suaminya mengabarkan makan diluar karena ada urusan mendadak. Reyna mulai cemas dan terpikir hal yang tidak-tidak, melihat pantulan dirinya dicermin. Badannya mulai terlihat menggendut, mungkinkah suaminya saat ini sedang makan malam bersama wanita cantik, menyesal dia tadi pagi telah marah hanya gara-gara keinginan ngidamnya.
“Kak Bimo dimana?” tanya Reyna cemas saat Bimo menjawab setelah beberapa nada panggilan tersambung
“Sudah mau sampai, kamu sudah makan?”
“Sudah, cepat pulang Kak”
“Iya sebentar lagi. Dewa mana?” terdengar klakson mobil bersahutan
“Sudah tidur, capek pulang dari rumah Rara”
“Ehm, ya sudah aku tutup dulu ya”
---
__ADS_1
Setengah berlari Reyna menyambut suaminya diteras
“Dari mana sih Kak?”
“Ada perlu” Bimo melangkah ke ruang kerja meletakkan tas kerja lalu keluar menenteng bungkusan plastik
“Perlu apa? Meeting?” Reyna mengamit lengan Bimo dan mengendus-endus kemeja suaminya
Hanya bau rokok menyengat, tak tercium bau alkohol apalagi parfum wanita. Amit-amit!
“Cari ini sampai ke negeri tirai bambu” canda Bimo sambil membuka bungkusan ditangannya
Mata Reyna berkaca-kaca “Serius Kak Bimo cariin ini, padahal aku sudah nggak ingat lagi”
“Yahhhh, sia-sia dong” muka Bimo spontan menjadi murung
“Eh enggak dong, aku makan sekarang ya” mengambil sepotong dan menggigitnya
“Enak?” tanya Bimo “Kata orang-orang kalau ngidam rasanya jadi seribu kali lebih enak, iya beneran?” penasaran sampai mau mengambil sepotong
“Eh nggak boleh, buat Rey semua” Reyna buru-buru menutup bungkusan itu dan membawanya ke dapur
“Bagi dong Rey, ampun pelit amat sih” Bimo menjajari langkah Reyna
“Kak Bimo mandi dulu, nanti Reyna bagi dikittt” Reyna mendorong punggung suaminya untuk naik ke kamar
“Janji, bagi ya?”
.
.
.
“Seger Kak?” Reyna menoleh saat suaminya keluar dari kamar mandi
“Hu um” Bimo mendekat dan mendudukan diri di sisi ranjang memberikan handuk kecil ketangan istrinya lalu mencondongkan kepalanya
Reyna mengacak lembut rambut Bimo
“Kamu wangi banget Rey” endus Bimo saat bagian dalam pergelangan tangan Reyna tak sengaja menyentuh hidungnya
“Enggak biasa aja”
“Aku suka baunya”
“Kak..”
“Ya..”
__ADS_1
“Makasih ya”
“Iya”
“Maafin aku ya”
“Untuk?” Bimo menahan tangan Reyna dan mendongak
“Tadi aku sempat berpikir tidak-tidak” Reyna mengambil duduk disebelah Bimo “Jahatnya aku mikir Kak Bimo sedang pergi dengan wanita lain, padahal beliin makanan buat jabang bayi” Reyna menunduk dan mengelus perutnya yang terlihat mulai membuncit
“Kok istri aku kepikiran begitu ya?” Bimo menggenggam erat tangan Reyna
“Kak, aku ini lagi hamil. Tubuh aku pasti akan melar trus jelek” Reyna melepas napas kasar
Bimo tersenyum, berbeda dengan Reyna yang seringkali mengeluhkan perubahan bentuk badan, menurut Bimo justru istrinya menjadi lebih menarik karena beberapa bagian tertentu menjadi lebih montok berisi.
“Kata siapa, kamu jauh lebih seksi kalau hamil”
“Bohong”
Tiba-tiba tangan Bimo sudah menangkup di tempat favoritnya “Ini nih tambah montok” serunya
“Ih” Reyna mencubit punggung tangan suaminya dan membuat Bimo menarik tangannya cepat-cepat
“Kak Bimo capek kan, aku pijit ya?”
“Ya boleh” Bimo menghempaskan badannya ke ranjang, perburuan getuk lindri membuat tenaganya terkuras, beberapa kali Bimo harus berjalan karena mobilnya tak memungkinkan memasuki beberapa gang kecil
Pijatan Reyna hampir membuatnya terlelap ketika tangan Reyna menggoncangkan badannya
“Kak..balik badan”
“Ehmmm” Bimo hanya menggeliat “Gini aja Rey, sudah enak”
“Nanti gosong kalau tidak dibalik” canda istrinya ditelinganya membuatnya geli dan membalikkan badan
Alih-alih melanjutkan pijatan Reyna justru merangsan* Si Ontong. Mengelusnya, membelainya, menggenggamnya dan terakhir mengeluarkan saat benda itu mulai tak muat lagi di sarangnya.
“Kamu mau?” Bimo menatap istrinya yang tersenyum menggoda
Anggukan kepala Reyna tak disia-siakan oleh Bimo. Pria itu buru-buru melepas dan melemparkan boxernya. Tanpa dikomando Reyna melepas gaun malamnya dan merangkak naik ke atas tubuh suaminya.
Persatuan tubuh keduanya yang penuh gairah membuat peluh membanjiri dua tubuh polos diatas ranjang itu. Berkali-kali Bimo menggumamkan betapa nikmatnya permainan mereka, mengunci bibir istrinya dengan pagutannya untuk menahan teriakan kecil yang pastinya cukup keras terdengar dari balik pintu kamar tidur mereka.
Gairah Bimo makin membuncah saat Reyna memekik pelan untuk kesekian kalinya dibawah kukungan tubuhnya, mempercepat gerakannya dan…
“Kak, berhenti. Aduh sakit!” Reyna menolak dada Bimo kuat-kuat lantas memegang erat perutnya yang mulai membuncit sembari meringkukkan badan
__ADS_1
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!