
Reyna tersenyum-senyum melihat Bram yang keluar dari kamar mandi dan menatap Dewa dengan pasrah, handuk basah masih tersampir dipundaknya. Air masih menetes dari rambut basahnya yang entah berapa kali ia guyur dengan air dingin untuk menghilangkan kesakitan tak tersalurkan diinti tubuhnya.
"Mau makan sekarang?" tawar Reyna
Bram menggeleng.. ia tak nafsu makan ia nafsu yang lain.
"Jalan-jalan?"
"Hemm ya boleh.. "
Tak berapa lama mereka bertiga telah sampai di taman kompleks, Reyna dan Bram duduk berdampingan melihat Dewa berlarian menjajal satu persatu semua arena permainan disana.
Memejamkan mata dan menikmati cahaya matahari yang temaram hangat menerpa pipinya. Ingatan Reyna kembali pada saat Bramantyo melingkarkan cincin di jari manis kirinya.
Cintanya tanpa syarat, tanpa tuntutan, teduh menenangkan.
Reyna melingkarkan tangannya di pinggang Bram dan menyandarkan kepalanya dibahu pria itu.
"Apa kau bahagia bersamaku Reyna? " bisik Bram
Reyna makin merekatkan pelukannya "Perlu dij
aku jawab?"
Bagi Reyna saat ini Bram dan Dewa adalah dunianya, tak ada yang lain.
.
.
.
Disela makan malam ponsel Reyna mendengus saat membaca pesan dilayar.
"Kenapa?" tanya Bram
Reyna menyodorkan ponselnya karena malas menjawab.
__ADS_1
Kak Bimo : Minggu depan aku datang lagi
Bram mendorong ponsel itu kembali, dia putuskan untuk tidak membahasnya.
.
.
.
Bram kembali menyambangi kediaman Reyna satu pekan kemudian, kesibukan di dua tempat menyita waktu kebersamaannya dengan Dewa dan Reyna. Mobilnya urung masuk karena digarasi terparkir mobil silver yang baru pertama kali ia lihat. Rumah Reyna sunyi saat ia menjejakkan kakinya.
"Oh Mas sudah datang" wajah dari pemilik suara khas itu melongok dari dapur
"Mobil siapa? " tanya Bram keheranan
"Ayahnya Dewa" jawab Reyna, heh segitukah bencinya ia kini sampe enggan menyebut nama
"Oohh.. Dewa mana? " Bram celingukan
"Dirumah ayahnya" ehh rumah Reyna bukankah sertifikat atas namanya
"Ihhh.. lepas ah Mas. Geli"
"Kesempatan Rey. Kapan lagi" Bram makin mendesak maju menempelkan tubuhnya
"Lepas nggak. Bumbu aku gosong nanti Mas.. " Reyna mencubit tangan Bram yang berada di perutnya.
Bram menyerah saat Reyna meronta dan mengomel tak ingin ia sentuh. Pria itu beringsut duduk di sofa tengah menyalakan televisi disusul Reyna sepuluh menit kemudian.
"Kalau sekarang sudah boleh? " goda Bram
"Lagi nggak mood" Reyna masih ketus
"Kalau minta kerik boleh?" Bram melepas kaosnya "Pijat sekalian ya " pintanya
Ditengah aktivitas pijat kerik bel pintu Reyna berbunyi, Reyna melangkah menuju pintu depan tapi baru 3 langkah ia berbalik setelah melihat bayangan orang didepan sana.
__ADS_1
"Mas Bram saja.. " ia hempaskan tubuhnya di sofa
Bram terheran-heran dan melangkah malas membuka pintu
"Eh... sorry" Bimo melengos saat melihat Bram yang muncul dengan telanjang dada dengan tubuh penuh peluh "Dewa minta susu"
"Oh.." Bram berbalik kembali masuk rumah.
Tertangkap gurat merah disekujur punggung Bram oleh mata Bimo, dia mendesah gusar sekian detik lalu dia menyangka telah mengganggu aktivitas "dewasa" antara Reyna dan pria itu.
Bram melangkah masuk dan mengambil 2 susu kotak dingin dari kulkas lalu menyerahkannya pada Bimo.
Reyna masih memperlihatkan muka masam saat Bram duduk disampingnya.
"Jadi dia yang bikin kamu nggak mood" cetusnya
Wanita itu hanya mengangguk
"Mau aku culik kamu jauh-jauh dari dia, biar mood mu kembali trus kita... ehmmm" Bram mengamit pinggang Reyna.
Ponsel Bram berbunyi nyaring, dahinya mengernyit lalu permisi keluar untuk menjawab panggilan itu, Reyna hanya terheran.. sejak kapan Bram harus pergi saat menjawab panggilan
Sayup-sayup masih terdengar sepenggal balasan Bram
"Just explain me in simple word ..than what I have to do next??"
Selebihnya Reyna hanya melihat pria itu manggut manggut dan sesekali meremas rambutnya gusar.
Reyna bisa merasakan perubahan air muka pada Bram, pria itu nampak gelisah.
"Mas Bram kenapa?" tanya Reyna hati-hati
Bram menggeleng dan tersenyum meskipun Reyna paham tarikan senyum itu sangat dipaksakan
"Nggak apa-apa, oh ya kemarin Gandhi telepon aku. Sudah ada tanggal baik untuk kita.. kurang lebih 3 bulan lagi. Maaf kalau nanti aku tak dapat terlibat banyak, semua ku serahkan padamu saja Rey"
Selebihnya perbincangan keduanya hanya seputar konsep pernikahan saja. Keduanya sepakat untuk menggelar akad dan acara keluarga saja tanpa resepsi.
__ADS_1
Pria itu nampak tidak tenang, sesekali ia membuka beberapa artikel di ponselnya dan mendesah panjang.
Entah kenapa Reyna juga dibuatnya gusar, batinya tidak tenang terlebih saat Bram berpamitan pulang dan menyarankan agar dia lekas berdamai dengan Bimo dengan Dewa sebagai alasanya.