
Pagi hari Reyna terbangun kesiangan saat Dewa terbangun dan mencari ke kamarnya, niatnya untuk membangunkan Bram karena flight pagi justru sekarang sudah waktunya Bram tiba di Singapura.
Buru-buru ia mencari ponsel dan baru tersadar semalaman ponselnya belum ia nyalakan lagi semenjak didalam bioskop.
ting ting ting ting
banyak pesan masuk dari Bimo
Reyna mengabaikannya dan memilih mengirimkan pesan kepada Bram
"Mas Bram sudah landing?"
Lama tak ada balasan , Reyna mengetuk-ngetukkan ponselnya sebal. Ia mulai membaca isi percakapan dengan Bimo semalam
Reyna
17.30 : Kak.. sampai mana?
17.45: Kak?
18.00 : Kak, aku duluan ke sana. See you there
18.25 : Aku dan Dewa sudah sampai Kak
18.45 : What's wrong with you??
18.55 : Sorry Kak.. aku tinggal masuk
Bimo
19.30 : Sorry Rey.. pesawatku delay
19.35: I'm on my way
19.37: Daya ponselku habis. Aku sempatkan isi sebentar tadi dibandara.
19.40 : It's okay aku susul kalian kesana. Sorry dear
20.00 : Aku tunggu di tangga bawah
21.00 : So sorry Rey
22.45 : Hukum aku apa saja Rey
22.47 : Just let me know to do for???
03.44 : Besok kita jalan bertiga ya Rey, aku kangen Dewa , kangen mama Dewa ❤
04.13 : Reyna....
Whatt... Bimo tak tidur semalaman
Reyna membanting ponselnya ke sofa, baru beberapa langkahnya menuju kamar mandi.. ponselnya berbunyi. Reyna menghambur senang, alih-alih Bram melakukan panggilan malah nama Bimo yang nampak.
Terdengar suara berisik di gerbang depan, dengan malas Reyna melangkah dan mengintip dari balik jendela. Nampak Bimo menempelkan ponsel ke telinga dan memukul-mukulkan gembok gerbang. Tangan satunya lagi mengamit mainan pistol-pistolan ukuran jumbo.
Reyna mereject panggilan itu dan mengirimkan pesan
"Pulang!"
tak berselang lama
ting...
"Aku berhak bertemu anakku!"
"Sapa Maaa? " terdengar cicit kecil dari belakang Reyna. Dewa kecil melongokkan kepalanya ke arah jendela.
"Maa maa maa maa.. " dia berteriak kegirangan melihat Bimo. Eh Big No No!! anak kecil itu pasti kegirangan melihat mainan jumbo itu.
Tak tega Reyna melihatnya, ia terpaksa membuka pintu dan gerbang lalu membiarkan pria itu masuk. Dewa langsung menarik-narik tangan Bimo menyuruhnya masuk.
Cckk dasar anak kecil, dibujuk mainan saja sudah buat dia bahagia bukan main. Reyna hanya melirik Bimo yang masih berpakaian formal lengkap, kemejanya lecek, kancingnya terbuka 3 dari atas. Lingkaran hitam terlihat jelas dimata, mukanya kusut dan rambut acak-acakan.
"Mau kemana? " tanyanya saat Reyna melangkah ke dapur
"Masak" jawab Reyna ketus
"Makasih Reyna.. aku memang belum makan dari semalam"
Ihhh kepedean, siapa juga masak buat situ!
__ADS_1
.
.
.
"Dewa... ayok mandi dulu...!" teriak Reyna setelah selesai menyiapkan sarapan
Dewa beringsut malas sambil membawa pistol-pistolannya
"Mau main Ma.. "
Reyna mendelik
"Mandi sama ayah Bimo saja yuk sambil main pistol" bujuk Bimo
Dewa melompat kegirangan dan segera menghambur ke kamar mandi. Bimo melangkah melalui Reyna sambil tersenyum.
Reyna menunggu cukup lama dengan tangan terlipat dan handuk dipundaknya, entah apa yang diperbuat 2 makhluk didalam kamar mandi itu. Terdengar Dewa menjerit dan tertawa terbahak. Jengah menunggu Reyna mengambil ponsel dan memainkannya, belum juga ada balasan dari Bram.
"Reynaaaa.... " Bimo berteriak dari dalam kamar mandi
Pintu terbuka dan muncul Dewa basah kuyup disana, Reyna enggan mendekat ketika nampak Bimo hanya tinggal mengenakan boxer.
"Reyna... bajuku basah, aku mau sekalian mandi"
diam
"Rey.. ?! "
tetap diam
Bimo melangkah keluar membuat basah dilantai
"Ihhhhh!!! " Reyna menyabetkan handuk ke kaki Bimo
"Ambilin bajuku ganti di rumah"
"Entar! " sahutnya galak
Selesai memakaikan Dewa baju Reyna menuju ke rumah sebelah, membongkar koper Bimo dan mencari baju gantinya. Terlihat laptop dan dokumen berserakan di atas ranjang,. Huh weekend pun Bimo masih berkutat dengan pekerjaan.
Reyna menyodorkan setumpuk baju ganti dan handuk bersih tanpa suara
Reyna mendorong tubuh Bimo sekuatnya dan menutup pintu kamar mandi kasar.
.
.
.
Bimo menatap Reyna pasrah, tak satupun ucapannya digubris Reyna seharian ini. Reyna hanya meladeni pertanyaan dari Dewa.
Reyna berpura-pura tertidur ketika menidurkan Dewa siang harinya, dia berharap Bimo akan segera keluar dari rumahnya. Tapi harapannya sia-sia, laki-laki itu tetap bertahan di sofa tengah sengaja menghidupan televisi dengan volume keras. Reyna terpaksa keluar kamar menuju kamar mandi karena panggilan alam.
"Rey.. " Bimo sudah berdiri didepan kamar mandi saat ia membuka pintu
"Aku minta maaf"
"Hukum aku apa saja, jangan hanya diam. Kamu menyiksaku"
Reyna berlalu begitu saja dan Bimo mengekornya dibelakang.
Bimo menahan pintu kamar Reyna saat wanita itu masuk dan hendak menutupnya
"Nanti malam atau besok kita pergi ya?"
Tiba-tiba ponsel Reyna yang tertinggal dikamar Dewa berbunyi, ia segera mengambil dan menerima panggilan itu karena takut Dewa terbangun. Dia lalu masuk ke kamarnya dan membiarkan pintunya terbuka, biar saja Bimo mendengar percakapan ini.
"Sorry Rey aku baru sempat hubungi, tadi aku langsung pergi ke rumah sakit" cicit Bram diseberang
"Loh Mas Bram sakit?? " Reyna bertanya cemas
"Enggak, cuma check up sekalian bertemu temenku dokter disini. Dewa mana? "
"Tidur"
"Kamu lagi apa Rey? "
"Mau tidur juga"
__ADS_1
"Mau aku temenin"
"Ahh.. maumu.. "
"Looh.. semalam bukannya ngajakin" Bram terkekeh
Jantung Reyna berdegub teringat semalam, ahh dia juga tak habis pikir kenapa bisa sebinal itu.
"Kok diem?"
"Emmm.. .Malu" Reyna tertawa kecil
"Rey... "
"Ya"
"Kamu sudah ketemu lagi sama... "
"Udah"
"Pergi? "
"Ahh males ahh.. udah ah Mas ga usah dibahas. Bete! "
"Hemm.. ya sudah. Bye Reyna I miss you"
"I miss you too"
"Ehem... "
Reyna menghela napas panjang melihat Bimo masih berdiri disana melipat tangan bersandar dipintu kamar
"Jadi kita pergi nanti malam? "
Reyna beranjak tanpa melihat Bimo sama sekali
"Terserah! "
lalu menutup pintu kamar rapat
.
.
.
Malam harinya mereka bertiga makan malam di restoran cepat saji berlanjut ke arena play ground. Bimo sengaja memilih 2 tempat itu agar ia bisa leluasa berbicara dengan Reyna, sekaligus menyogoknya dengan es krim ukuran jumbo. Wanita itu masih asik bermain dengan ponselnya sesekali melirik ke arah Dewa.
"Jadi kapan kalian menikah? "
Reyna hanya mengedikkan bahunya
"Aku diundang nggak? Biar bisa foto sama mantan" Bimo masih berusaha memancing Reyna meskipun dengan pertanyaan yang membuatnya meradang sekalipun
Reyna meletakkan ponselnya gemas, kesabarannya sudah habis, emosinya memuncak di ubun-ubun
"Kalau perlu Kak Bimo aku undang pas malam pertama! "
Perih tapi sekaligus hatinya bersorak YES, ia hapal sekali dengan Reyna. Dipenghujung diamnya pasti akan ia tuntaskan dengan omelan. Wanita ini belum puas kalau belum mengungkapkan uneg-unegnya.
"Sudah nggak marah kan?"Bimo menggenggam paksa tangan Reyna
" Ihh nggak usah pegang-pegang wanita ******! "
bentak Reyna
"Demi Tuhan Reyna,aku tak bermaksud ahhh... Maaf.. "
"Kamu jahat Kak!! " mata Reyna berkaca-kaca berusaha menahan butiran itu agar tidak jatuh
"Aku nggak tahu apa aku bisa maafin kamu. Semurahan itukah aku???" dada Reyna sesak menahan tangis sebisanya
"Mulai detik ini jangan pernah bahas apapun selain Dewa. No More! "
Bimo hanya terdiam, lagi dan lagi dia menyakiti membebani Reyna hanya karena dia gegabah tak berpikir panjang. Dulu hanya karena nafsu sesaat hingga berujung pada lahirnya Dewa dan sekarang hanya karena emosi sesaat ia bahkan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan lagi cinta Reyna.
Benar kata Reyna ia memang tak pantas untuk dimaafkan.
.
.
__ADS_1
.
Esoknya Bimo membawa Dewa kerumahnya, seharian ia habiskan waktunya bersama anak kecil yang tak malu-malu lagi bersamanya. Dia berjanji memberikan kesempatan Reyna untuk sendiri, berharap akan ada setangkup rindu yang tersisa dihati Reyna untuk dirinya disaat mereka jauh nantinya.