
Tamu undangan sebagian besar meninggalkan ballroom menyisakan kerabat dan teman dekat. Bimo dan Reyna memilih menuju meja Satria setelah lelah berkeliling menyapa tamu.
"Ahh kacauuu... " Reyna memukul bahu Satria
"Loh kok kacau, sukses berat Rey.. " Satria terbahak
Telunjuk Reyna memutar-mutar didepan wajah Satria "Mas Satria lupa pura-pura kaget tadi"
Pria itu menepuk jidatnya dan tertawa lepas "Sorry.. habisnya aku kepikiran Niken"
"Makasih ya Rey" Niken menarik Reyna untuk duduk disebelahnya "Imbalannya Dewa tidur dirumah kita deh biar kalian bebas jumpalitan" Niken tertawa
"Yesss, thanks Ken!" Bimo menyikut lengan Reyna
"Reyna.. " panggilan Gandhi membuat suasana meja itu kaku. Wajah sangar pria itu membuat ciut tiap orang yang memandangnya "Ikut Mas sebentar"
Keduanya berjalan menuju pintu luar hotel
"Mas Gandhi ajak Reyna kemana?" pria disampingnya hanya tersenyum dan mengamit erat lengan Reyna yang nampak kesusahan berjalan dengan balutan baju pengantin dan high heels
"Kejutannnn.... " teriaknya saat satu unit mobil baru berjalan dan berhenti tepat dihadapan mereka.
"Mas.. tapi ini... " Reyna melongo melihat mobil yang lengkap dengan hiasan pita pink
"Mas harap pernikahanmu langgeng. Ini dari Bapak Mas dan May, kita patungan" Gandhi menepuk lengan Reyna yang sedetik kemudian merangkulnya erat.
"Makasih ya Mas.. ini berlebihan. Menjadi bagian dari kalian saja Reyna sudah bahagia" mata Reyna mengembun dan menitikkan air kemudian.
.
.
.
Tak sabar Bimo melepas baju pengantinnya, melemparnya kepojok ruang kamar pengantin mereka. Reyna hanya melirik geli dari depan cermin sambil sibuk melepas satu persatu hiasan digelungnya.
"Buruan Rey.. " Bimo sudah naik ke atas ranjang dan menepuk-nepuk ruang kosong disebelahnya
"Mandi dulu Kak.. gerah" Reyna menunjuk ke pintu kamar mandi
"Satu ronde dulu, nanti lagi pas sekalian mandi"
Reyna melengos "Kak Bimo nggak capek apa?"
__ADS_1
"Capek enak ini"
Melepas jepit rambut terakhir dan menggoyang-goyangkan kepalanya mencoba mengurai rambutnya
"Ya ampun Kak, aku kaya singa... " Reyna geli sendiri melihat mukanya dicermin "Aku mandi dulu ah"
"Rey... Come On" Bimo beringsut turun dari ranjang dan mengekor Reyna
"Kak Bimo mau mandi juga? sana duluan" Reyna berbalik tapi Bimo menahannya
"Dibalik deh satu ronde dulu sekarang, nanti lagi" seringai nakal mulai nampak di wajahnya
Reyna terdiam pasrah saat jemari Bimo melepaskan satu persatu kancing kebaya, melepas resleting belakang kain jarik dan meninggalkan tubuhnya berbalut BRA dan CD yang berwarna senada dengan kulitnya.
Air shower ia guyurkan dan mengambil shampo mulai membasuh rambutnya, membiarkan Bimo menggerayangi setiap inchi tubuhnya. Menciumi bahu dengan gigitan kecil disana.
Tubuh mereka yang masih berbalut pakaian seadanya basah kuyup terguyur air. Bimo membalikkan badan Reyna dan mulai mengunci bibirnya dengan *******.
"Kak,, ahh tunggu biar aku keramas dulu" Reyna masih sibuk dengan busa shampo dikepalanya.
"Aduh perih" Bimo memegang matanya yang terpecik busa
"Ish, bandel sih" Reyna buru-buru membersihkan sisa busa dari kepala dan membantu membasuh mata Bimo dengan air.
"Dingin.. " Reyna menggeliatkan punggungnya
Dua tangan Bimo terulur menarik badan Reyna menjauh dari tembok sekaligus melepas kait BRA dibelakangnya melemparkan entah kemana.
Menundukkan kepala dan melanjutkan ******* bibir merah menyala itu, meraih bokong sintal dan meremasnya kuat. Lengan Reyna melingkar dilehernya, wanita itu membalas ciuman sesekali menarik bibir lalu tersenyum kecil.
"Pindah yuk.. " Bimo menatap penuh arti
"Gendong.. " Reyna merajuk manja
"Ahh.. mana kuat" Bimo terkekeh.
Pukulan kecil dilengannya, dua kaki Reyna menginjak punggung kaki Bimo "Kalau gini kuat nggak Kak.. "
Bimo berjalan mundur sambil memeluk pinggang Reyna erat, Reyna mengangkat kakinya seirama dengan langkah pria itu. Bimo berbalik saat keduanya di tepi ranjang, menghempaskan tubuh Reyna melintang diranjang. Menatap tubuh polos itu tanpa berkedip.
"Kak...malu.. " satu tangan Reyna menyilang didepan dada sedangkan tangan satunya berusaha meraih benda apapun untuk dijadikan penutup tubuhnya
Tangan Bimo menghalaunya "Biar.. biar aku nikmati dulu" tercekat Bimo kesulitan menelan ludahnya, tubuh Reyna lebih berisi daripada pertama kali mereka berhubungan, lekuknya masih menggoda meskipun telah melahirkan Dewa.
__ADS_1
Tak lama berselang keduanya sudah berpagutan bibir, saling menyentuh membangkitkan gairah. Gerakan Reyna yang masih kaku dan sedikit canggung justru membuat Bimo makin bergairah untuk terus menggodanya.
"Lepaskan saja Rey " bisik Bimo saat Reyna menggigit bibir bawahnya menahan sepelan mungkin desahan yang keluar dari bibirnya
Usapan, kecupan, jilatan, ******* dan gigitan di Bimo ditiap jengkal tubuhnya begitu memabukkan. Dia mengangkat sedikit bokongnya saat Bimo hendak melepaskan lapisan kain terakhir ditubuhnya, yang basah dan dirasakan semakin basah akibat ulah Bimo.
Sedetik dua detik tiga detik Bimo justru tercengang dan mematung dibawah sana.
"Kak.." Reyna mengangkat kepalanya
Bimo menindih dan memeluknya erat "Waktu itu sakit Rey?"
"Eh... lupa Kak" Reyna berusaha mengingat pertama mereka melakukannya "Enak sih" gumamnya
"Kamu mesum ah" tiba-tiba Bimo mengangkat kepalanya "Maksud aku operasinya, maaf Rey aku tak tahu perjuanganmu melahirkan Dewa" Bimo mengeratkan pelukannya
"Oh.. " siall gerutu Reyna dalam hati, jadi malu level akut "Ehm.. enggak kok"
"Masa sih.. " Bimo menyentuh bekas luka operasi itu kembali
"Kan dibius Kak.. " Reyna menyingkirkan tangan Bimo yang sedikit lagi menyentuh areanya yang kepalang basah
"Aku merasa bersalah Rey, aku tak mendampingimu waktu itu" Bimo menenggelamkan kepalanya dipundak Reyna mencium pipi Reyna pelan
"Sstt... sudah ah" Reyna mengubah posisi menyamping merasa risih bagian tubuh polosnya terekspose jelas
Keduanya terdiam tenggelam dalam pikirannya masing-masing...
"Kak.. " panggil Reyna
"Ya... "
"Dari tadi adem panas adem panas.. Jadi nggak sih?" celetuk Reyna tanpa basa basi
Dalam seperdelapan detik Bimo menindih Reyna, memanaskan permainan mereka kembali. Desahan, lenguhan, jeritan kecil menghiasi kamar pengantin. Mata keduanya memejam saat merasakan puncak kenikmatan bersama. Napas keduanya tersengal beberapa saat sebelum menjadi nada yang teratur.
"Kak.. nggak jadi mandi?" Reyna mengelus pipi pria yang tertidur tanpa sehelai kain disebelahnya
"Ehmm.. tidur dulu. Mandinya nanti sekalian ronde kedua.. " jawabnya tanpa membuka mata
"Tapi basah semua Kak.. " Reyna merapikan rambutnya yang membasahi bantal dan sprei
"Kalau nggak basah nggak enak" celetuk Bimo lagi
__ADS_1
Ahh sudahlah Kak terserah kau saja, Reyna menarik bed cover dan bergelung di dekapan pria itu.