Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
159. Bertemu


__ADS_3

Merebahkan badan di sofa menatap langit-langit apartemen. Cemas menggenggam ponsel yang tak juga berbunyi. Mungkinkah ponsel suaminya kehabisan kuota, bahunya mengedik.


Sudahlah, ia putuskan untuk meneleponnya saja. Reyna khawatir jika Bimo sampai dirumah lebih dulu dan terkena bogem mentah dari Gandhi.


Tidak aktif?? Dahinya berkerut, desir tak nyaman menyusup sesaat.


Reyna berjalan mengitari sudut apartemen, melangkah ke kamar tidur yang beberapa kali menjadi saksi bisu beradu desahan dengan suaminya. Ah! Kenapa tiba-tiba otaknya menjadi mesum


Jemarinya menarik laci nakas, tersenyum melihat kamera digital yang merekam masa bulan madu mereka. Senyum Reyna tertarik manis di sudut biburnya saat melihat foto-foto kebersamaan mereka. Tawapun terlepas waktu melihat video flying fox.


Dering ponsel membuatnya bergegas menuju meja diruang tengah, pasti Kak Bimo! gumamnya. Dahinya berkerut saat deretan angka yang nampak dilayarnya


"Halo" sapanya ragu


"Suamimu di rumah sakit, aku share lock" suara wanita terdengar di ujung sana


TUT


panggilan itu terputus


Reyna terdiam sesaat, dia tak salah dengar kan? Bimo dirumah sakit? Kenapa? Ada apa? Perempuan itu, apakah?


TING


Satu pesan masuk, selintas dan tak perlu menunggu dikomando Reyna bergerak cepat,meraup kunci mobil dan mengambil tasnya.


✉ Radiologi


Satu lagi pesan masuk dari pengirim dengan nomor yang sama bersamaan saat tangannya terulur menarik tiket dari mesin parkir elektronik.


Berusaha setenang mungkin memasuki gedung rumah sakit yang tidak asing untuknya, beberapa kali ia sambangi. Melewati ruang tindakan saat ia kehilangan janinnya, membelok yakin ke selasar bagian Radiologi, tempat yang sama saat Dewa menjalani rontgen.


Matanya mulai berkabut, dadanya sesak menahan buliran hangat. Radiologi? apa yang terjadi pada suaminya.


Dari jauh dilihatnya sesosok wanita berdiri melipat tangan menatap arah pintu masuk. Rambut hitam legam terburai indah, skinny jeans light blue dipadankan kemeja kotak flanel maroon tanpa satupun kancing tertaut, tank top putih yang mempertegas lekuk tubuh sempurna.


Wanita itu lalu duduk di deretan kursi panjang bagian depan, menatap pintu masuk di bilik CT scan.


"Kenapa suamiku?" menekankan kata suami, menegaskan kepemilikan pada wanita cantik didepannya


"He's fine, cuma keserempet" sahutnya santai


"Tapi CT scan.. " Reyna menatap bilik didepannya


"Prosedur" jawab wanita itu pendek


"Parahkah?" dengan bodohnya Reyna masih menatap lurus bilik rapat didepannya seakan matanya bisa tembus pandang


"Duduklah dan tunggu saja"


"Kalian?" Reyna mulai gusar "Darimana?" lanjutnya sambil menahan nyeri didada

__ADS_1


"Berhentilah berpikir tidak-tidak" Lidya menoleh


Mengeluarkan sesuatu dari tas disebelahnya


"Shit!" melemparkannya lagi kasar bungkusan berisi deretan batang nikotin


"Tak ada yang terjadi antara aku dan Bimo" melirik ke arah Reyna yang mengambil duduk dua bangku darinya


"Hei!" bentaknya kesal karena tak mendapat respon apapun


Reyna mendesah pelan, haruskah membahas masalah ini sekarang disaat ia mencemaskan kondisi suaminya didalam sana


"Aku sudah disini, pergilah. Aku bisa urus suamiku sendiri" suaranya ia buat serendah mungkin


"Tidak sampai kau dengarkan penjelasanku!"


"Jangan sekarang"


"Harus sekarang" Lidya menghentakkan kakinya kesal


"Aku minta maaf menemui suamimu"


Cih maaf! Reyna memalingkan muka


"I just got divorced" kata itu hampir lirih tak terdengar tapi bisa membuat Reyna menoleh menatapnya tanpa bisa mengungkapkan kata-kata


"It doesn't mean you are allowed to tease my husband!!" Reyna berdecak


Lidya menarik napas pelan, menggeser duduknya satu bangku lebih dekat


"Aku memutuskan kembali ke Indo, aku tak punya keluarga di tempat asal jadi aku ke kota ini. Tersadar tak seorangpun yang menerimaku disini, hanya segelintir teman yang masih memilih dijalan yang salah. Aku ingin merubah hidup yang lebih baik dan jelas mereka bukan tujuanku"


"Perceraianku tak ada hubungannya dengan Bimo, aku merasa ini karma untuk masa laluku. Jadi aku hanya ingin menemuinya dan meminta maaf. Hanya itu"


Reyna melirik sinis


"Dari sekian banyak laki-laki yang tidur denganku hanya Bimo yang memainkan perasaannya. Aku merayunya tiap aku butuh perhatian lalu meninggalkannya begitu saja bahkan disaat aku sudah menikah dengan pria pilihanku. Bodohnya aku waktu itu, hanya silau akan harta. Ternyata tidak menjamin bahagia"


Lagi Reyna melirik jijik


"Aku hanya minta maaf atas perbuatanku dengannya yang pasti membuat Bimo terluka"


"Harusnya cukup sekali saja kan?" sindir Reyna, "Apa yang kalian lakukan di kelab malam waktu itu?"


"I'm so sorry. Aku hanya butuh teman bicara, hanya itu. Aku bayar pelayan kelab untuk mengirimkan fotoku ke nomornya, ah aku setengah mabuk waktu itu!!"


"Hei.. " Lidya mencoba membaca mimik wajahku yang cemas memandang kepintu bilik


"Dengar, kalau Bimo mau bisa ikut aku mabuk lalu pergi ke hotel dan meniduriku disana!"


Shit!! geram Reyna bisakah kau jaga kata-katamu itu!

__ADS_1


"Tapi tidak, suamimu menolak meminum bahkan hanya satu gelaspun. Dia bilang sudah lama tak minum, toleransi tubuhnya akan alkohol menurun. Satu gelas saja pasti sudah buat dia mabuk"


Ahh wanita ini terus meracau, tak tahukan kau jika aku ingin kau tutup mulut kotormu itu!


"Lagipula kalau dia mabukpun aku yakin dia meniduriku dengan menyebut namamu"


Reyna menoleh melihat wanita yang sedang mengerucutkan bibirnya, ada nada kesal di suaranya seperti cemburu. Hai Reyna sadarlah! Mana mungkin ia cemburu padamu


"Aku iri padamu" gumamnya lagi


Iri??


"Bimo benar-benar mencintaimu"


Dua pasang mata itu bertubrukkan, mata sayu Lidya menatap mata Reyna yang mengerjab heran


"Kemana Mas Satria membawamu malam itu?"


"Eh.. ke hotel. Damn! Dia meninggalkanku teler sendiri. Hei, kau kenal Satria?"


"Tentu saja, dia mantan suamiku"


Mulut Lidya menganga lebar


"Masih mau menemui suamiku lagi setelah ini?" tanyanya sarkas


"Suamimu yang menemuiku hari ini!" tukas Lidya cepat


Reyna membelalak


"Hasilnya bisa diambil besok Pak" terdengar suara dari bilik CT scan membuat Reyna mengalihkan pandangan dan berdiri


Loh kok bukan Bimo yang berjalan keluar dari sana??


Lidya ikut berdiri "Bimo.... keluarlah" serunya


Sesosok pria muncul dari bilik ASI dibelakang ruang tunggu, dengan muka takut-takut berjalan mendekati Reyna


Tangan kanannya menggantung di arm sling, terdapat plester di pelipisnya


"Sudah ya, tugasku selesai" Lidya mengambil kopor dari balik pilar besar dan menyeretnya kearah pintu keluar


"Thanks Dy" Bimo melambai kecil


"Hei, kalau aku gagal mengejar pesawatku pastikan aku dapat ganti rugi" wanita itu mengetuk-ngetuk jam tangannya


"Yeah well, whatever" sahut Bimo


Reyna hanya terbingung-bingung melihat adegan barusan. Hei suamiku berhentilah menatap lekuk tubuh yang indah itu. Tataplah aku dan jelaskan semua ini!!!


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!

__ADS_1


__ADS_2