
Sebulan sudah dua suami istri itu jarang berbincang hangat, seperti ada ruang kosong diantara mereka. Lelah sudah Reyna meminta maaf atas kesalahannya pada suaminya tapi lelaki itu masih tidak bergeming dengan pemikirannya. Pria itu seperti mengubur keinginannya memiliki adik bayi cantik untuk putranya Dewa.
"Aaaahhhhh" pekik Reyna
"Kenapa diluar lagi??Kotor semua kan" sungut Reyna meraih tissue dinakas, mengambilnya sebanyak mungkin membersihkan tubuhnya dari cairan lengket
"Biar kamu nggak hamil" sahut Bimo dan melenggang cuek menuju kamar mandi
Bimo melirik Reyna keluar dari kamar mandi dengan muka masam
"Kenapa akhirnya kau memutuskan berhenti meminum pil itu?" tanyanya "Kulihat belum ada keinginanmu untuk hamil" lanjutnya
"Aku tak tahan efek sampingnya, sering mual"
"Ya sudah, jangan protes tiap kali aku selesaikan diluar" Bimo mendengus
"Kak Bimo enak langsung pergi, aku masih bersih-bersih" Reyna mengernyitkan hidungnya
"Enak apanya! Rasanya seperti nonton bola mau gol tapi kejeda iklan!" pria itu bersungut-sungut membiarkan istrinya berpikir keras memaknai kata-katanya
.
.
.
Reyna membereskan ranjang, bekas pergulatan mereka semalam. Mengganti kain pelapis bantal dan guling yang ikut tercemar ðŸ¤
"Kak.. " panggilnya pada suaminya yang tengah mengenakan celana kerja
"Hemm.." Bimo hanya melirik
"Kak Bimo masih sayang denganku?"
Bimo menghentikan gerakannya memasang ikat pinggang
"Menurutmu?"
"Aku tersiksa seperti ini" Reyna melipat selimut dan duduk disisi ranjang "Melihatmu meragukanku, itu menyiksaku"
"Lebih tersiksa saat kau meragukan kemauan dan kemampuanku untuk menginginkan Dewa seorang adik" Bimo melirik dan meraih jas bersiap keluar kamar
"Kak" Reyna menahan lengan suaminya, memasangkannya dasi yang sedari tadi ada digenggamannya
"Kehilangan itu menyakitkan Kak, sungguh sampai sekarang rasanya aku belum mengikhlaskan janin itu"
Bimo menangkup wajahnya "Lalu kenapa tidak kita coba lagi Rey? Menghadirkannya kembali" telapak tangan Bimo mengelus perutnya yang rata
"Aku sudah berniat mengusahakannya, aku tidak lagi berniat untuk menunda. Tapi... " Reyna menelan ludah
"Tapi kenapa?" Bimo menjengit sejumput rambutnya "Sudahlah.... jangan pernah bahas ini lagi. Mungkin sampai kapanpun kau tak akan siap menghadirkan adik untuk Dewa
Sikapmu yang dingin itu yang membuat aku ragu kau belum tentu siap menjadi ayah gumam Reyna. Serasa apapun yang ia perbuat selalu salah dimatamu
.
.
.
Reyna menghembuskan napas kasar, melirik kelas Dewa yang masih terlihat sunyi belum ada tanda-tanda. Jemarinya membuka galeri di ponselnya, ia rindu suaminya...
Gerakan jemarinya terhenti di satu foto, Bimo nampak tersenyum bahagia tersenyum lebar saat mukanya dipenuhi leletan kue tart. Mata Reyna membelalak lebar
Bodoh! Hari ini adalah hari ulang tahun Bimo
Damn! Bagaimana dia bisa melupakan hari sepenting ini
Tetttttt.....
__ADS_1
Bel akhir masa belajar berbunyi
Reyna buru-buru berlari melongokkan kepalanya ke jendela kelas, melambai ke arah putranya. Mengajak pulang secepatnya dan membujuk untuk tidur siang seawal mungkin. Dia harus segera mencari kado untuk Bimo dan mempersiapkan kejutan kecil untuk suaminya.
Sebuah kemeja stripe abu hitam sudah ia tenteng ditangan, langkah Reyna kembali menelusuri jengkal mall yang lumayan ramai di jam makan siang seperti ini. Matanya menangkap segerombolan wanita muda berseragam berbincang dan tertawa lepas. Hatinya mencelos, setangkup rasa rindu akan kembali merasakan masa-masa itu.
Bola mata Reyna bergerak memilih deretan kue tart yang ada di etalase kaca. Pilihannya jatuh pada blackforest berukuran medium. Meminta pegawai untuk menyematkan ucapan selamat ulang tahun pada kepingan coklat putih. Menunggu pesanannya dibungkus sambil berusaha menghubungi suaminya.
"Rey... "
Kepalanya memutar menoleh ke arah suara
"Pras.. " celingak celinguk disekitar pria itu "Sendiri?"
"Ehm.. ya. Kamu?" tanyanya balik
"Iya" Reyna menerima platik berisi kotak tart dan berbalik menghadap Pras "Dari mana?"
"Ketemu klien di kafe sebelah" telunjuk Pras mengarah blok disebelah toko kue "Sudah mau pulang?" Pras menatap dua tangan Reyna yang penuh dengan barang
"Ehm.. kamu?" balik bertanya
"Mau makan siang sekalian, gabung?" ajak Pras
"Boleh"
"Situ saja" langkah Pras lebar mengarah ke depot diseberang kafe dan toko roti
---
Reyna mencoba menghubungi Bimo selagi menunggu pesanan tiba akan tetapi tak ada jawaban
✉ Ayah Dewa, what time you're going on home?
satu pesan terkirim ke nomor suaminya
"Kamu baik-baik saja Rey?" tanya Pras sambil menyodorkan minuman kearah Reyna
"Not bad" Pras tersenyum
tit
✉ at seven, sorry ..still in a meeting. call me later
Reyna kembali meletakkan ponselnya setelah membaca pesan dari Bimo lalu menyuapkan makanan kemulutnya
"Kemarin Bianca meneleponku...soal itu" Pras menahan napasnya
"Oh.. Ngomel?" Reyna menaikkan alisnya
"Hemm.. ya kau tahu dia"
"Aku saja habis dimaki" Reyna terkikik tapi kemudian terdiam.
Teringat beberapa saat lalu saat ia bercerita tentang kegugurannya pada Bianca, karibnya itu justru menghujatnya dan menyalahkan semua keteledorannya.
"Kamu masih sedih?"
Reyna mengalihkan pandangannya
"Rey.. Tuhan akan memberikan pada saatnya yang indah nanti" Pras mengetukkan telunjuknya dimeja
"Entahlah.. rasanya kacau" Reyna melipat bibirnya mengingat sikap acuh Bimo yang seakan memberikan jarak akhir-akhir ini
Ponselnya berdering menampakkan nama orang yang ada dalam benaknya saat ini
"Jangan pulang malam" sapanya pada suaminya
"Kamu diluar" sahut Bimo setelah mendengar riuh di sekitar Reyna
__ADS_1
"Iya, makan"
"Sendiri?"
ah hati Reyna merindu pertanyaan aktif dengan nada curiga
Reyna melirik Pras sesaat "Iya.. "
"Tumben jalan sendiri"
aihh mulai curiga dia, hidung Reyna kembang kempis kesenangan
"Beli keperluan buat Dewa, trus laper" menahan tawanya dengan menutup bibir "Sudah makan kan?"
"Ehm, belum. Nggak nafsu.. "
"Loh katanya meeting, nggak sekalian makan" Reyna melihat Pras yang menyudahi makannya dan memainkan ponsel sambil melihatnya
"Cuma ngopi kok. Ehm ya sudah Rey"
"Ehm ya okay"
Reyna memasukkan ponsel ke tasnya
"Pulang?" tanyanya pada pria didepannya
"Hu um, yuk" pria itu bangkit dari duduknya mengikuti Reyna dari belakang menuju pintu keluar
.
.
.
"Rey!" teriakan pria itu menghentikan langkah Reyna sesaat setelah dirinya berjalan dari pintu keluar
Matanya beradu pandang dengan tatapan tajam sosok kekar didepannya yang melangkah keluar dari kafe diseberang tempat ia makan siang
"Sendiri katamu!" Bimo berjalan mendekat lalu menggenggam lengan istrinya, memandang berapi-api ke arah Pras
"Kak, aku jelaskan" Reyna meringis
"Mas Bimo salah paham.." Pras berusaha menghalau tangan Bimo dari lengan Reyna
"Apa??!!!" Bimo melangkah maju merasa tertantang
Dasar pembohong! pekiknya dalam hati tatapan Bimo seakan menguliti Reyna yang berdiri didepannya. Pebinor! berganti menatap Pras
"Bimo.... " suara wanita terdengar dari arah belakang mereka bertiga
Brakk
Bungkusan blackforest reflek terlepas dari genggaman Reyna, tangannya memegang dadanya yang tiba-tiba saja terasa nyeri
Lidya! Ya dia yakin itu Lidya!
Perempuan yang jauh lebih cantik daripada secarik foto ditangannya waktu itu. Berjalan melenggang dengan elegan menuju mereka bertiga.
"Aku mau kembalikan ini" menyodorkan sebuah cincin ke arah Bimo saat jarak kedunya hanya satu meter
"Ini istrimu?" menatap Reyna dari ujung kepala hingga kaki
Tangannya terulur "Hai aku... "
"Klien!" pekik Reyna sambil melihat Bimo dengan tajam
Dasar pelakor! hatinya bergemuruh, matanya panas menahan gelombang air yang akan jatuh beberapa detik lagi
"Rey ... aku.. " Bimo menahan tangan Reyna yang berusaha melepaskan diri dari genggamannya
__ADS_1
Reyna berlari cepat meninggalkan tempat itu, ingin pergi jauh ke antah berantah dan menenggelamkan dirinya dalam kesedihan.
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!