Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
176. Adik Bayi Cantik


__ADS_3

Bimo membelalak lebar saat anaknya dijungkirkan oleh Dokter begitu keluar dari rahim Reyna. Entah banyak hal yang tak logis menurut pria itu, perjuangan panjang seorang wanita untuk melahirkan keturunan.


"Selamat Bapak Ibu, bayinya perempuan" Dokter menyerahkan bayi mungil yang menangis kencang


"Oh God! She's a girl Rey" Bimo meraup wajah istrinya yang penuh peluh, menciuminya hingga tak terasa air mata menetes


"Really?" mata itu membulat lebar, senyum lebar tertarik


"Thank you" kecupan kecil mendarat di bibir Reyna


"Are you happy?" Reyna mengelap air mata dari sudut mata suaminya


Bimo hanya mengangguk angguk dan memegang tangan Reyna, mengecupi punggung tangan istrinya bertubi-tubi


Petang hari kamar rawat inap yang dihuni Reyna hiruk pikuk. Mbak May yang masih setia menunggunya, Satria datang bersama Niken dan Dewa yang tiba diantar Alex.


Semua perhatian orang-orang tertuju pada bayi mungil yang sedang tidur terlelap didekapan Reyna, setelah kenyang minum ASI


"Selamat ya Bim" Satria menepuk pundak dan menyodorkan tangan menyalami pria yang tak henti-hentinya tersenyum


"Aaooowww.. " tiba-tiba Bimo mengaduh


"Kenapa Bim?"


"Kena cakar emak macan" Bimo meringis dan mengelus-elus punggung tangannya yang terluka cukup parah terkena cakaran Reyna sewaktu mengejan


"Ya maaf Mas Bim, habisnya adanya gunting biasa. Jadi kukunya Mbak Reyna nggak kegunting rapi" Mbok Nah didekatnya tertawa kecil


"Iya nggak apa-apa kok Mbok. Masih belum seberapa kalau lihat jahit menjahit tadi" Bimo bergidik ngeri "Thanks Bro! Nyusul" pandangannya kembali tertuju pada Satria


"Enggak enggak, satu saja. Nggak tega lihat Niken waktu lahiran dulu" Satria menggelengkan kepala cepat-cepat


"Iya, aku juga baru tahu. Makin cinta aku sama istri" Bimo tersenyum penuh arti memandang Reyna yang asik berbincang dengan Niken


"Mama.. Dewa mau gendong adik" tangan anak kecil itu menjulur


"Eh, belum boleh. Adik masih kecil Dewa, kalau jatuh nanti bagaimana" Reyna menjauhkan tubuh bayi kecilnya dan mengelus dagu putranya


"Dewa kan sudah besar. Dewa kuat" putranya merajuk


"Iya Mama tahu. Nanti ya sayang.. "


"Mas Gandhi titip salam Rey" Mbak May mendekat dan melongokkan melihat keponakannya yang menggeliat pelan


"Iya Mbak. Makasih ya sudah temani Rey. Dua minggu depan kerumah ya syukuran si kecil"


.


.


.


Reyna sangat berbahagia dikelilingi orang-orang yang mencurahkan kasih sayangnya. Om Alex tak lelah mencurahkan perhatian untuk Dewa yang sedikit banyak merasa tersisih karena kelahiran adiknya.


Mbok Nah yang menjadi seksi sibuk sejak kepulangan Reyna setelah 3 hari di rumah sakit. Dari pagi hingga petang wanita paruh baya itu mengurus dirinya, dari menyiapkan semua ramuan jamu-jamuan agar ASInya mengalir lancar.


Memakaikan stagen setiap pagi dan baru melepas nya saat mandi sore, tersiksa! tapi semua dituruti agar perutnya tidak bergelambir parah terlebih sudah 2 kali turun mesin.


Bahkan memasang jarik saat hendak tidur malam untuk mencegah tubuh meringkuk yang memperparah sekitar tulang belakang selama kehamilan dan mencegah varises.


Masih banyak ***** bengek lainnya yang harus dipatuhi agar tubuhnya kembali pulih dan makin bugar. Merepotkan sekaligus menyenangkan mendapat perlakuan istimewa bak putri raja.

__ADS_1


Bahkan suaminya Bimo yang menemaninya begadang meskipun lelah pasti dirasa setelah seharian bekerja, layaknya malam ini


"Kak Bimo tidur saja.. " mengelus punggung suaminya yang memandangi bayi perempuan di boks bayi yang kembali tidur terlelap setelah kenyang menyusu


"Kasihan kamu kalau harus begadang sendirian"


"Nggak apa-apa, nanti juga lama-lama tidurnya teratur"


"Dulu kamu lakukan semua ini sendiri Rey, masih harus bekerja juga?" laki-laki itu memandangnya sayu


Reyna justru tergelak kecil " Enggak kok, cuma sebulan kalau nggak salah. Habis itu Dewa tidur nyenyak dari pagi sampai subuh paling cuma 2 atau 3 kali nyusu"


Ia mengelus manja rambut suaminya "Sepertinya Dewa tahu waktu itu aku sendiri jadi tidak merepotkan"


"Aku ganti pembalut dulu, nanti bantu pasangkan jarik dulu ya Kak trus kita lanjut tidur"


Pelan Bimo memegang ujung jarik sambil menahan kantuk, istrinya berputar-putar memastikan bebatan jarik tak terlalu menyiksanya saat tidur


Bimo memposisikan kepalanya di dada Reyna setelah istrinya telentang di atas ranjang, mengalungkan tangan diatas perut istrinya


"Rey... "


"Hemmm... "


"Berapa lama masa nifas itu?"


"Ya ampun Kak! Cuma itu yang ada di pikiranmu sekarang" Reyna menghempaskan tangan suaminya kesal


Bimo buru-buru memutar badannya "Bukan sayang... "


"Lalu?" Reyna merubah tidurnya agak menyamping


"Oh"


"Aku takut kamu hamil lagi"


"Eh?" mengusap dagu suaminya yang mulai ditumbuhi rambut halus


"Untung lahir adik bayi cantik. Coba kalau laki-laki lagi"


"Misal kemarin laki-laki aku juga tak menginginkan kamu hamil lagi"


"Oh ya? Kenapa?" mata Reyna membulat


"Melihatmu mual, tak doyan makan, pegal-pegal. Menangis karena perubahan mood. Ditambah proses persalinan yang menyakitkan" kepala itu menggeleng-geleng


Reyna mendesah "Jadi ingat ibu-ibu kita ya Kak. Misal mereka masih ada pasti bahagia lihat cucunya ganteng dan cantik"


"Hu um" Bimo mengeratkan pelukannya


"Oh ya Kak, siapa nama anak kita? Kak Bimo janji beritahu malam ini kan. Besok aku harus mengurus untuk syukuran si kecil. Mereka pasti tanyakan nama putri kita"


Bimo mendongak "Dewinta" jawabnya sambil tersenyum "Kita panggil dia Dewi"


"Hanya itu?"


"Iya. Cocok kan Dewangga dan Dewinta. Dewa dan Dewi, kita punya sepasang anak yang menggemaskan"


Bimo kembali menduselkan kepala ditempat favoritnya yang makin membesar bagai bola sepak takraw. Yang selalu membuatnya disetrum gairah hebat, tempat ternyaman ketika didera kelelahan


.

__ADS_1


.


.


Hari ini diselenggarakan syukuran kelahiran adik bayi cantik. Seisi rumah telah sibuk menyiapkan segala macam dari pagi hari. Reyna tak kalah repotnya menyiapkan ini dan itu, memastikan tak ada yang terlewat


"Biar aku yang gendong Rey" tawar Bimo saat melihat istrinya mondar mandir kerepotan sambil menggendong bayi


Terpaku menatap suaminya seakan tak percaya


"Mana?" Bimo menyodorkan dua tangannya


"Eh, enggak enggak. Jangan!" Reyna mendekap putri kecilnya


"Loh kenapa? Bukannya ini kan yang kamu inginkan. Lagipula aku juga pengen gendong"


"Jangan... Mbakkk... " Reyna memanggil pengasuh Dewa yang sekarang multi fungsi membantunya mengasuh putrinya


"Ada apa Bu?"


"Bantu gendong si kecil dulu. Sebentar saja"


"Aduh, tapi Mas Dewa sedang saya suapin Bu"


"Biar aku saja Rey" kali ini giliran Mas Gandhi


"Ahh, apalagi Mas, enggak deh" Reyna menggeleng


"Om saja, Om pangku sini pakai bantal" Alex datang setelah mendengar sedikit keributan


"Enggak, nanti kalau Om ketiduran bagaimana"


Duh rempong amat sih ya jadinya, Reyna jadi pusing.


"Ehmm.. biar aku saja, tolong ambilkan gendongan adik saja Mbak"


Mbak pengasuh itu menggangguk dan berlalu menuju lantai atas


"Kenapa sih Rey, aku bisa kok. Beneran" Bimo masih mengikuti istrinya kemanapun melangkah


"Iya, besok besok ya. Adik masih kecil, aku takut kenapa-napa"


"Reyna... sayang... " Bimo memeluk pundak istrinya dan mencium bayinya hati-hati "Mengurus bayi itu nggak jauh beda kok sama pas bikinnya"


Reyna sontak menutup mulut Bimo "Ih, Kak! Bisa-bisanya ngomong gitu ditempat umum"


"Maksud aku itu hal yang bisa dipelajari secara alami, mengalir begitu saja. Iya kan?"


"Ehm, iya benar. Tapi ada kalanya kita juga harus mempersiapkan diri dan belajar untuk segala sesuatu yang baru"


Acara syukuran berlangsung hikmat, dilanjutkan bincang keluarga yang hangat. Bukan Alex namanya jika tak berhenti memanjakan cucu-cucunya.


Alex berencana membangun play ground kecil yang tentu saja mengikis dari taman kesayangannya. Bukan hanya itu, pria itu berniat pindah kamar ke bawah, menghadiahkan kamarnya untuk Dewa agar si kecil Dewi menempati kamar milik kakaknya.


Kado yang nampak memenuhi ruang tengah kediaman Alex melengkapi semua ucapan dan doa bagi kelahiran si kecil Dewi, putri cantik pasangan Bimo dan Reyna yang saat ini saling menatap


Dua senyum saling dilemparkan oleh dua manusia dewasa. Memandang satu sama lain penuh arti dan kasih sayang. Cinta ini terbentuk bukan karena siapa aku atau siapa kamu tapi siapakah kita disaat bersama. Cinta yang akan membawa kembali sejauh kemana kaki melangkah.


T H E E N D


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!

__ADS_1


__ADS_2