
Bimo menggeliat terbangun dari tidur siangnya, dia beranjak dari ranjang menuju dapur hendak mengambil air minum tapi langkahnya terhenti ketika melihat Reyna tertidur di sofa ,kepalanya beralaskan bantal sofa seadanya dan kakinya terlipat seperti kucing meringkuk. Bimo mendekat, mata Reyna sembab rambutnya acak-acakan, Sungguh Bimo tak menduga Reyna bertahan menunggunya yang tega berkata kasar, perlahan ia pegang kaki Reyna hendak membetulkan posisi tidurnya namun justru membuat wanita itu terbangun dan terduduk.
Mata Reyna mengerjab-ngerjab, dia memegang kepalanya yang terasa pening karena menangis.
‘'Kenapa kau tak pulang tadi?'' tanya Bimo
‘'Masih jam kerja, nanti pelanggaran'' Reyna merapikan kemejanya yang kusut
‘'Tidur di jam kerja juga pelanggaran''
‘'Kalau kita besok ditegur Pak Alex gimana?''
‘'Bilang saja meeting sampe sore''
‘'Anterin aku pulang Kak''
‘'Pulang sendiri bisa kan, mau aku pesenin taksi online?''
Reyna menghentak-hentakkan kakinya kesal, tangannya meyambar tas kerja di sofa kemudian tanpa suara dia berjalan menuju depan.
‘'Sorry Rey…" suara Bimo terdengar dibelakangnya.
Reyna menoleh kegirangan berharap Bimo berubah pikiran dan mau mengantarnya pulang.
__ADS_1
‘'Bukannya aku nggak mau anterin kamu. Aku nggak mau nganterin istri orang,apalagi itu istri Satria, harusnya kamu bilang dari awal. Mungkin dengan begitu tidak akan ada salah paham selama ini''
Reyna berjalan kembali duduk di sofa bersebelahan dengan Bimo
''Aku tunggu dua hari lamanya Kak untuk jelasin hal itu''
‘'Aku nggak butuh penjelasan apa-apa Rey, aku bukan siapa-siapa""
SAKIT
Kata-kata Bimo tidak hanya menyakiti Reyna tapi juga menyakiti dirinya sendiri.
Reyna menatap pria disampingnya, ia sama sekali tidak menduga Bimo akan berkata seperti itu. Reyna menggigit bibir bawahnya, berusaha menghibur dirinya sendiri bahwa ia yang telah salah mengartikan perhatian dan bahasa tubuh Bimo kepadanya selama ini.
Perasaan itu tumbuh kembali ketika dia bertemu Reyna dan hancur seketika menghadapi kenyataan yang sungguh tak terduga.
.
.
.
Reyna mengurung dirinya dikamar sejak memutuskan pulang naik taksi dari rumah Bimo, dia hanya butuh waktu untuk sendiri. Reyna tak menghiraukan panggilan dan ketukan Satria di depan kamarnya, air mata berhenti mengalir dari pojok matanya. Reyna berpikir mungkin ini balasan yang telah mempermainkan sumpah janji pernikahan.
__ADS_1
Pagi harinya Reyna beraktivitas seperti biasa, Satria mendekat hendak menyapa tapi ia urungkan ketika melihat mata Reyna sembab, mereka berdua hanya diam membisu saat menghabiskan sarapannya. Reyna bertekat untuk tetap menjalani pekerjaannya meskipun harus bertemu dengan Bimo.
Demikian juga yang terjadi saat Reyna bertemu dengan Bimo di kantor, berbicara seperlunya untuk urusan pekerjaan.
''Reyna'' Bimo menggeser kursinya mendekat ke mejanya, di berikannya beberapa tumpukan proposal yang penuh dengan coretan disana-sini ''Tolong kamu bantu aku ke bagian development untuk merevisi beberapa bagian seperti PT. A inginkan'' terangnya
''Ini perusahaan yang terakhir kita kunjungi ya Kak?'' Reyna membolak-balik dan mencermatinya perlahan
''Iya, kalau mereka approved proposal sesuai keinginan mereka bisa jadi kita punya proyek besar. Jadi tolong kamu fokus ya'' lanjut Bimo tanpa menoleh ke arah Reyna. Ia sengaja memberikan tugas yang sedikit berat agar Reyna bisa cepat melupakan masalah mereka.
''Kak Bimo yakin aku sanggup?'' Reyna masih berkutat dengan lembar demi lembar didepannya.
Pasti Reyna kamu pasti sanggup, perasaan ini tumbuh hanya karena terbiasa. Pasti perasaan ini juga akan hilang juga karena terbiasa.
''Kak!'' panggilan Reyna membuyarkan pikiran Bimo ''Apa aku sanggup kerjakan ini sendiri? Material yang mereka minta revisi banyak Kak'' Reyna meletakkan tumpukan proposal itu ke meja
''Eh,,ya nanti aku bilang Pak Alex gimana baiknya''
Setelah jam makan siang, Bimo mengabaran akan ada seorang dari team marketing yang akan membantu Reyna untuk mempercepat pengerjaan revisi proposal dan persiapan sample material. Tiga bulan adalah batas maksimal dari PT.A berikan.
Satu bulan berselang komunikasi Reyna dan Bimo terjadi hanya sebatas pekerjaan, Reyna menjadi sangat pendiam begitu halnya dengan Bimo, tidak ada lagi canda tawa. Keduanya tenggelam dalam kesibukan masing-masing, Reyna juga sudah jarang menemani Bimo dalam kunjungan rutin. Dia selalu mengelak dengan alasan pekerjaan.
Bagi Reyna maupun Bimo kondisi saat ini adalah peluang bagi mereka untuk menguburkan calon benih indah yang telah terkoyak oleh kenyataan pahit.
__ADS_1