Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
21. Kepingan Hati


__ADS_3

Reyna bersungut-sungut sepanjang perjalanan pulang


"Kenapa Rey, manisnya hilang lho" goda Bimo dibelakang kemudi.


"Kak Bimo nggak jengkel di bentak-bentak Mas Satria?"


"Biasa aja, orangnya emang gitu"


"Ihhh kesellll... jelas-jelas dia yang salah" Reyna meremas-remas tas ditangannya


"Jangan marah-marah ya Rey. Ntar kalau Satria kumat konyolnya aku yang repot. Bisa-bisa dia kurung kamu dirumah nggak boleh ngantor. Nasib aku gimana coba" bujuk Bimo


"Kak Bimo diem aja deh... nggak ngerti ya kalau cewek lagi kesel jangan digangguin deh"


"Cewek aku kalo lagi kesel aku cium ntar juga diem. Mau coba?" Bimo menggeser mukanya mendekat. Sedetik kemudian Bimo meringis kesakitan saat cubitan Reyna mendarat di lengannya.


"Ehhh Kak Bimo pacarnya bukan orang sini?"


"Emang kenapa?"


"Emmm nggak pernah lihat"


"Nggak punya"


"Bo'ooooong"


"Tanya aja Satria kalau nggak percaya"


Reyna melirik Bimo yang menggoyangkan kepala santai dengarkan musik, masak iya ganteng-ganteng nggak punya pacar. 


---


Satria berkacak pinggang saat mobil Bimo berhenti di depan pagar


"Temenin nggak?" tawar Bimo.


"Nggak usah, Kak Bimo pulang saja sana"


Bimo menurunkan kaca mobil memaksakan dirinya menyapa


"Cabut ya bro, dah aku antar dengan selamat tuh"


Setelah melihat anggukan Satria kemudian Bimo berlalu


"Mas Satria kemana aja siih??" serobot Reyna sebelum didahului Satria.


"Mobil aku dipake Niken, HP aku lowbat"


.


.


.


Sebulan Dua Bulan Tiga Bulan tak terasa sudah enam bulan pernikahan pura-pura itu berlangsung. Sejauh ini Reyna tidak mengeluhkan apapun selain nenek gombel yang makin hari makin merecoki kehidupan Satria. Satria sempat bercerita bahwa Niken mendesak Satria untuk segera menceraikan Reyna tapi dengan dalih dia masih butuh waktu sampai kondisi usahanya kondusif.


Dalam hati Reyna tidak ingin terlalu cepat bercerai, apa kata keluarga mereka jika bercerai hanya dalam hitungan bulan. Terlebih ketika mereka harus berkunjung pulang ke rumah orang tua. Pertanyaan soal buah hati sungguh membuat tidak nyaman keduanya, betapa pernikahan mereka diberkati dan didukung oleh seluruh pihak keluarga. Tak sampai hati jika Reyna menghancurkan impian mereka dalam waktu sekejab.


"Kata Ibu aku gemukan Rey.." Satria membuka percakapan ketika mereka sarapan dipagi hari

__ADS_1


"Masak sih, biasa aja ah Mas" Reyna mengamati Satria lekat-lekat


"Kita kan ketemu tiap hari mana kamu tahu bedanya. Ibu bilang kamu kurusan, jangan kerja keras Rey jaga badan. Kamu enjoy kerja sama Bimo?"


"Iya enjoy-enjoy aja. Ehmh Mas...Kak Bimo punya pacar nggak sih?"


"Kenapa nanya gitu. Kamu naksir Bimo?" Satria melirik Reyna penuh selidik


"Egghh..enggak, cuma mastiin daripada aku tiba-tiba didamprat sama embak-embak atau jangan-jangan sama tante-tante" Reyna terkekeh


"Nyindir kamu!" Satria melipat bibir "Bimo itu orangnya misterius Rey, seingatku dia terakhir serius dengan wanita hemmm yahhh setahun lalu lahh"


"Putus? Kenapa katanya?" Rey memajukan badannya


Satria mengangkat bahunya


"Reyna jangan sampai kamu suka sama Bimo!" hardiknya tiba-tiba


Reyna menatap Satria lalu menggeleng pelan


Enggak....enggak tahu batinnya


"Kamu layak punya suami baik-baik Rey" bilangnya lirih


---


Reyna bergegas melajukan motornya setelah menyelesaikan sarapannya. Satria memutuskan untuk tidak lagi mengantar jemput Reyna karena dia menghindari ribut-ribut dengan Niken.


Hari ini Reyna dan Bimo akan mengadakan pertemuan dengan 2 perusahaan untuk persentasi proposal. Saat ini mereka berdua berada di satu mobil duduk berdampingan tanpa suara.


Sepanjang jalan menuju dia teringang perkataan Satria. Dia dan Bimo bukan hanya dekat dalam urusan pekerjaan, lebih dari sekedar atasan dan asisten.


Dimata Bimo dia hanya adik untuk seorang Satria tapi tidak dimata agama dan negara, dia adalah seorang istri syah dari seorang laki-laki yah meskipun hanya sekedar pura-pura.


Bimo melirik ke arah Reyna, mengagumi lagi kecantikan alami wanita itu. Bimo bukan pria yang terbiasa terang-terangan dalam mengungkapkan perasaan, tapi tidak kali ini.


Dia sudah berusaha memberikan perhatian lebih kepada Reyna, tapi wanita itu seolah-olah tidak menghiraukannya dan bersikap masa bodoh.


Bimo berpikir mungkin karena adanya Satria diantara mereka yang menjadikan Reyna tak ingin terang-terangan membawa hubungan mereka berlanjut serius. Sudah jelas Satria tidak akan membiarkan dia berhubungan dengan pria dengan masa lalu kelam seperti dirinya.


.


.


.


Sore menjelang, keduanya pulang dengan wajah berseri meskipun tubuh mereka lelah karena perjalanan yang lumayan jauh.


"Berhenti dulu yuk Rey. Istirahat sebentar aku capek sekali"


Reyna menggangguk , dia berpikir Satria akan berhenti di kafe untuk minum kopi. Bimo justru berhenti di pinggir jembatan.


"Yuk" Bimo menjulurkan tangannya sambil tersenyum. Reyna hanya menyambut uluran tangan tersebut.


Mereka bergandengan tangan menyusur pinggir sungai. Airnya jernih cukup dangkal hingga batu-batu didasarnya terlihat jelas.


Bimo mendudukan dirinya di hamparan rumput liar , Reyna mengambil duduk bersila dibelakangnya, dipegangnya kedua pundak pria itu dan memijit perlahan.


"Ahhhh enaknyaaaa...." Bimo menggeliat setelah beberapa lama menikmati pijitan Rey

__ADS_1


"Makanya ajarin aku nyetir Kak biar kita bisa gantian"


"Serius? Kapan? Weekend? Emang boleh sama Satria?" Bimo reflek menoleh ke arah Reyna dengan serentetan pertanyaan.


Mata mereka beradu menyebabkan desir aneh di rongga jantung keduanya.


"Semangat amat tanyanya, coba bilang Mas Satria siapa tahu boleh" Reyna mengalihkan pandangannya kesamping, berharap mukanya yang memerah tak terlihat oleh Bimo.


Bimo menyingkirkan dua punggung tangan Reyna dari pundaknya. Beringsut menggeser duduknya kedepan dan tiba-tiba meletakkan kepalanya kepangkuan Reyna memandang dua bola mata Reyna dari bawah.


Dua bola mata Reyna mengerjab balik memandangnya. Bimo memejamkan mata senyumnya mengembang, dia hanya ingin berlama-lama dengan Reyna. Cukup diam dan rasakan.....


"Pegel Kakkk...." Reyna mendorong kepala Bimo menjauh dan mengambil posisi yang sama berbaring di samping Bimo


"Hangat ya Rey.." Bimo melipat kedua tangan dibelakang kepalanya.


"Hemmm.." gumam Reyna menatap langit dengan semburat jingga "hangat dan indah seperti ciuman pertama" kemudian dia terkekeh geli.


Bimo merubah posisinya menyamping dan bertopang pada tangannya memandang gadis disampingnya


"Who's the lucky guy?"


"Teman SMA aku Kak"


"Teman?"


"Teman rasa pacar"


"Ahh.. aku jadi penasaran rasanya dapat ciuman pertamamu"


Reyna menoleh kearah Bimo


"Yakin?" Reyna mengangkat alisnya


"Kenapa tidak?"


"Soalnya pelakunya dapat bogem mentah dari Mas Gandhi sesudah itu" Reyna tertawa terbahak


"Siapa itu Mas Gandhi?"


"Kakak sepupu aku" Reyna kembali berbaring dan memejamkan matanya.


"Sepupu kamu? Lagi? Apa semua sepupumu


kelakuannya bar-bar seperti Satria kalau ada pria mendekatimu Rey?"


Bimo memberanikan diri mengusap halus bibir milik Reyna yang membuat kelopak mata pemiliknya terbuka.


Bimo mendekatkan wajahnya menatap lekat-lekat wajah Reyna tanpa melepas usapan jemari dibibir itu.


"Bolehkah?" pintanya


Reyna terdiam batinnya berperang dia ingin sekali mengangguk tapi ada terselip kekuatan hebat untuk menolaknya


Jangan Rey, ingat kau istri orang, jika Bimo tahu yang sebenarnya apa bedanya kau dengan perempuan murahan


Tangan Reyna menepis halus jemari Bimo berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya yang kotor dengan rumput kering. Tanpa kata ia kembali ke mobil, Bimo hanya mengekorinya dibelakang


Sabar Bimooo ini hanya soal waktu, jagalah kepingan hati yang telah mulai tumbuh itu sudah cukup untuk saat ini

__ADS_1


__ADS_2