Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
62. Ayah Bimo


__ADS_3

Mereka berdua terbangun di pagi hari saat si kecil Dewa merambat naik ditubuh keduanya. Reyna mengerjab matanya, tubuhnya ngilu terhimpit dan ditindih kaki serta tangan Bram yang kekar. Kepala pria itu tak lagi di ceruk lehernya melainkan merosot didada Reyna bagaikan bayi sedang meminum ASI.


Bram membuka mata saat Reyna berusaha menyingkirkan tangan dan kakinya. Tangannya bergerak hendak memeluk Dewa namun ditepis oleh Reyna.


"Mandi dulu Mas..bau...minum lagi semalam?"


"Ehmm..cuma sedikit" jelas Bram berbohong arghh kepalaku mau pecah sungutnya dalam


Bianca buru-buru menempel pada Reyna setelah Bram berlalu


"Kalian berantem apa sih Rey? Serem ah lihat Mas Bram semalam?"


"Nggak apa-apa kok Bi.., nanti kapan-kapan aku cerita ya" Reyna hanya tersenyum


"Sudah baikan?" pertanyaan bodoh sebenarnya, dengan melihat mereka berdua tidur berpelukan saja sebenarnya sudah bisa disimpulkan


Reyna hanya mengangguk saja mengiyakan meskipun dia sendiri tak yakin.


---


Bram memasuki kamar untuk mengambil baju ganti. Matanya terpaku pada ponsel Reyna yang berbunyi, dia lirik dan mendengus sebal. Memang hanya nomor yang terpampang disana tapi ia yakin siapa yang menghubungi Reyna pagi-pagi begini.


"Halo!" jawabnya ketus


diam diseberang sana


"Halo!!" Bram setengah berteriak


"Aku mau bicara dengan Reyna"


"Reyna masih tidur, bicara saja nanti kusampaikan" jawab Bram asal


"Kutunggu dia di lobi hotel, lokasinya aku share lock"


Tit


ponsel itu lantas dimatikan begitu saja


Ponsel itu ia tenteng saat keluar kamar setelah selesai mandi. Reyna sedang menyuapi Dewa diruang tengah.


"Kamu nggak mandi?" tanyanya


"Nggak dan Dewa kan nggak bawa baju ganti, aku mandi dirumah saja nanti" Reyna menjawab sambil menyodorkan secangkir kopi


Bram menerima kopinya dan menyerahkan ponsel Reyna


"Habis ini kau kuantar"


Reyna membuka 3 pesan belum terbaca pada layar ponselnya,


-kita bertemu di lobi


-kau mau kita kemana hari ini?


-JANGAN AJAK PRIA ITU!


yang dijawabnya dengan singkat


play ground


"Mas Bram hanya antar aku saja kan?" tanya Reyna memastikan "Aku mau ajak Dewa ke play ground saja" lanjutnya buru-buru


"Maksudmu aku tak boleh ikut?" nada suara Bram meninggi


Reyna menghela napas panjang


"Tolong beri dia ruang Mas" Reyna setengah berbisik takut Bianca yang sedang didapur mencuri dengar.


Bram menegak kopinya lalu berpamitan pada Bianca dan Linda untuk pergi mengantar Reyna pulang.


.


.


.


Reyna baru selesai bersiap ketika ponselnya berdering. Bram yang sedang melihat televisi melirik tak senang

__ADS_1


"Iya Kak .. aku baru mau berangkat"


"Iya..iya.."


Berdiri mendekati Reyna, Bram menatap tak suka "ganti bajumu"


"ehh..kenapa.." Reyna mematut matut dirinya didepan cermin. Rambut gelombang yang beberapa waktu lalu ia warnai coklat pekat dia urai bebas.


Kaos vneck army favoritnya dipadu celana jeans basic dilengkapi sepatu sneakers couples dengan Dewa


"jangan pake kaos ganti saja kemeja" protes Bram, jangan sampai pria itu bebas melihat lekuk tubuh Reyna baginya menggiurkan. Sungguh cemburu membuatnya pendek akal.


Reyna menggelengkan kepalanya, selama ini Bram tdk pernah mempersoalkan penampilannya.


Reyna mengganti kaosnya dengan kemeja denim longgar, kali ini rambutnya ia ikat keatas untuk menghindari kegerahan.


Bram tersenyum senang, dada Reyna yang ia taksir berukuran 38B itu hampir sempurna tersamarkan oleh kemeja gombrongnya, demikian dengan tubuh bagian belakang Reyna. Tapi ehhh sebentar leher mulus milik Reyna pasti juga akan menggoda pria itu.


Entah bisikan setan dari mana tiba-tiba Bram menubruk leher Reyna dan menyesapnya kuat sampe Reyna berteriak kesakitan dan mendorong Bram kebelakang.


Pria itu hanya tersenyum simpul dengan puas.


.


.


.


Reyna membungkam mulutnya selama perjalanan, dia sungguh tak habis pikir dengan Bram. Rambutnya kini ia gulung menyamping meskipun tak sepenuhnya bisa menutupi jejak kelakuan bar bar pria disampingnya.


"Kabari aku kalau kalian sudah siap kujemput" kata Bram saat mobilnya hendak membelok ke sebuah bangunan hotel berbintang 4 di pusat kota.


"Nanti aku pulang naik taksi saja" jawab Rey masih kesal.


"Okay,,lagian aku capek mau tidur dirumahmu saja. Mana kuncinya" Bram memilih menerima saja,ia takut Reyna nantinya benar-benar marah padanya.


Reyna meletakkan kunci rumah di dashboard dan turun dari kursi penumpang. Mengajak turun Dewa dan mengamit tas besar dipundaknya. Dia berlalu masuk ke hotel, Bram memandangi Reyna hingga tak nampak lagi.


Mata Bimo berbinar saat sosok Reyna dan anak kecil yang digandengnya terlihat memasuki lobi hotel. Jantungnya berdebar saat keduanya makin mendekat merespon lambaian tangannya.


Berjongkok memandang lekat pada anak kecil itu, ia merasa sedang menatap pas foto masa kecilnya. Desir aneh merambat ke relung hatinya, tanpa sadar air bening menetes dari sudut matanya.


Terpancar rona kecewa di wajah Bimo, Reyna ikut berjongkok


"Tak apa Dewa, ayo salim.." suruhnya pada Dewa


Anak kecil itu menurut saja, diulurkannya tangan kanannya lalu ditempelkannya ke pipi saat Bimo menyambutnya.


Keduanya keluar dari lobi karena taksi online sudah menunggu diluar. Didalam taksi Dewa berpegang erat pada lengan Reyna dan hanya sesekali mencuri pandang pada Bimo.


"Dewa panggil aku apa ya Rey?"


"Bagaimana kalau ayah?,ya nak.. Dewa mau panggil ayah?"


Dewa hanya menyembunyikan mukanya malu


Ketiganya sampai di playground, Dewa segera berjingkrak jingkrak senang seakan menemukan surga dunianya.


Bimo berusaha mengimbangi Dewa dengan berlari kesana kemari tapi anak kecil itu berlari menjauh tiap kali Bimo hendak mendekat.


Setengah jam kemudian Bimo menyerah dan menyusul Reyna yang menunggu di tepi arena permainan.


"Sepertinya dia tak suka padaku Rey" katanya sedih


"Ah Kak Bimo, sabar namanya juga anak kecil. Dewa mudah akrab kok dengan orang asing, dia hanya butuh waktu" Reyna menepuk punggung Bimo


"Aku akan jarang bertemu dengannya, bagaimana dia tahu aku ini ayahnya"


"Kak Bimo akan selamanya tinggal di pulau itu?"


"Entahlah Reyna..masih banyak beberapa proyek yang belum selesai disana"


"Kak.. kenapa kau tak pernah bercerita soal Pak Alex?" tiba-tiba Reyna mengingat saat Satria mengungkit soal Pak Alex


"Ah.. aku tak mau karirku dibayang-bayangi Om Alex. Meskipun memang ada campur tangan beliau. Hanya jajaran direksi yang mengetahui aku adalah keponakan beliau. Itulah mengapa aku tidak serumah dengan Om Alex. Rumah itu aku jual ketika aku memutuskan menerima promosi"


"Jadi hanya semata karena promosi jabatan lantas Kak Bimo memilih pergi tanpa bersabar menungguku waktu itu?"

__ADS_1


"Bukan.. maksudku ahh.. Aku susah menjelaskan"


3 tahun lalu Bimo terpaksa menerima promosi jabatan jika ia ingin selangkah lebih maju untuk menggantikan posisi Om Alex sebagai direktur. Dari awal karir Bimolah yang digadang-gadang lebih layak menggantikan posisi Alex dibanding manager marketing dikantornya yang lebih banyak berperan dibelakang meja.


Harapan Om Alex dengan suksesnya Bimo sebagai manager dikantor cabang akan memuluskan karirnya sebagai pengganti Om Alex yang dirasa sudah pantas sebagai kandidat terpilih ditarungkan dengan manager marketing dikantor pusat.


"Oh ya bagaimana kabar Pak Alex. Mas Satria bilang kesehatan beliau agak terganggu setelah operasi ring jantung"


"Hemm ya begitulah. Itulah salah satu pertimbanganku aku harus menerima promosi itu. Kesehatan Om Alex tidak sebaik dulu dan beliau menginginkan berhenti dari jabatannya secepat mungkin"


drttt drttt


Reyna merogoh ponsel dari sakunya dan mengangkat panggilan video itu


"Mana Dewa Rey?" terlihat Bram nampak sedang tiduran


Reyna mengarahkan kamera ke arah Dewa yang sedang berlarian bebas


"Coba panggil dia" pinta Bram


Reyna melambaikan tangan kearah Dewa menyuruhnya mendekat


"Pap pap iyoooo" teriak Dewa kesenangan


"Heiii hati-hati jagoan nanti kau jatuh" teriak Bram


"Ayo cepat pulang..." rayunya pada Dewa


Dewa menggeleng dan kembali berlari menjauh


"Sudah ya Mas.." Reyna mengarahkan kamera ke wajahnya


"Kamu sudah makan sayang..?"


Cck Reyna berdecak sejak kapan bahasa Bram menjadi selebay itu


"Hemm iya nanti..gampang. Byeee"


Reyna memutus panggilan karena Bimo menatapnya tajam.


"Oh ya Kak.. ada kabar dari Mas Satria? Aku nggak enak mau hubungi dia" Reyna mengalihkan perhatian


"Ehm.. tadi pagi aku telepon dia. Niken sudah tahu kok"


Bimo menggenggam tangan Reyna tapi Reyna menepisnya pelan


"Kamu serumah dengannya Rey?"


Reyna menggeleng cepat "Ehhh.. dulu iya. Tapi sudah hampir satu tahun aku beli rumah sendiri Kak"


"Tadi malam???" tanya Bimo selidik


"Kan Dewa ketiduran disana..jadi ya terpaksa aku menginap"


"Cuma bertiga?" desak Bimo


"Enggaklah.." OMG padahal Reyna memang pernah sekamar bertiga


"Sudah lama kau berhubungan dengannya?" lanjutnya


Reyna menarik napas panjang dan mulai bercerita saat ia ditampung di keluarga Linda saat awal kehamilan.


"Jadi kalian akan menikah dalam waktu dekat?"


"Kak...kita bertemu sekarang karena Dewa bukan aku dengan Mas Bram" Reyna mengelak halus


"Kamu tak ingin Dewa punya keluarga utuh Rey? Apa kau pikirkan itu jika dia besar nanti?"


"Kak..maaf tapi aku harus bilang apa adanya. Bagi Dewa anak kita Mas Bram adalah cinta pertamanya. Buatku akan jauh lebih sulit menjauhkannya daripada harus mendekatkan dia padamu. Bukankah terlalu egois jika kita hanya memikirkan masa depan kita berdua tanpa memikirkan perasaan Dewa. Maaf, tapi aku sudah pikirkan hal ini dengan matang"


Bimo menunduk dan menopang kepalanya dengan dua tangannya


"Aku patah hati Reyna" desisnya


"Kak Bimo..maaf jika keputusanku untuk memberitahumu soal Dewa adalah suatu kesalahan, aku tahu aku akan membuatmu terluka dengan kondisi saat ini"


"Tidak Reyna.. aku berterimakasih kau memberikanku kesempatan ini. Sudah selayaknya aku perlu tahu soal anakku. Hanya saja sulit bagiku menerima kenyataan ini. Bahagia dan nestapa diwaktu bersamaan"

__ADS_1


Keduanya terdiam memandang lurus kedepan, melihat sosok kecil yang seakan tanpa beban berlarian tak kenal lelah. Jika waktu bisa berputar kembali.. entah episode kehidupan mana yang akan mereka perbaiki untuk menjadikan semuanya sempurna.


__ADS_2