
"Dewa suka?"
pesan Bimo baru Reyna baca sesampainya ia dikantor
"Makasih Kak"
balas Reyna
"Aku tidur disana saat aku berkunjung"
balas Bimo
Reyna tak membalas pesan itu, ia menggigit bibir bawahnya. Apa reaksi Bram jika ia tahu semua ini.
.
.
.
Bimo kian intens menghubungi Reyna dan Dewa, bulan depan Bimo berjanji untuk kembali datang. Sedangkan Bram makin larut dengan kesibukan di 2 tempat sekaligus, ia masih harus selesaikan beberapa project di butik dimana dia sebagai penanggung jawab, customer di outlet otomotifnya juga makin banyak.
Akhir pekan Reyna gunakan untuk membersihkan rumah sebelahnya, dia belum sempat bercerita kepada Bram soal ini. Tapi tak seperti dugaannya Bram justru santai saja saat mengetahuinya.
"Mas Bram nggak marah?" tanya Reyna takut-takut saat melihat wajah datar pria itu. Ia remas kemoceng ditangannya, mendekati pria yang duduk disofa dengan santai.
"Ehm.. enggak. Kenapa harus marah, hak dia sebagai ayah Dewa untuk belikan dia rumah, dimanapun itu" Bram meletakkan ponselnya, mendongak menatap Reyna.
Bram berdiri dan menarik pinggang wanita itu mendekat.
"Pernikahan kita tinggal tunggu waktu saja, aku selesaikan dulu urusan butik. Mungkin bulan depan aku mau ke Singapura mengurus beberapa hal disana demi masa depan calon istriku ini" Bram memainkan rambut Reyna
"Mau apa mas kesana??" tanya Reyna penuh selidik "Ahh jangan bilang kau akan bawa aku dan Dewa kembali kesana" pekik Reyna sambil menutup mulutnya
Bram mengecup gemas pipi wanita itu "Kebiasaan wanita suka menduga, kalau Gandhi ijinkan aku membawamu kesana sudah pasti aku boyong kau dan Dewa kesana"dia terkekeh
" Jadi? " desak Reyna
"Kita kan sudah pernah membahas ini sebelumnya dan aku tahu kamu keberatan jika harus menetap disana bersamaku"
Reyna manggut-manggut, sudah pasti pria ini juga telah meminta pendapat Gandhi soal ini
"Dulu aku berpikir akan kembali kesana selepas Bianca kembali mengurus butik, tapi ternyata aku menemukan masa depanku disini. Jadi yaaa.. aku jual saja semua aset disana, emm kita beli rumah disini nanti. Terserah kau saja yang pilih" tangan Bram mengusap punggung Reyna.
"Mas Bram nggak mau tinggal disini saja? "
Bram menggeleng
"Karena sempit?"
"Oh God.. Reyna.. apa kata orang jika suami menumpang dirumah istri?"
"Trus rumah ini? " Reyna melipat bibirnya
"Anggap saja ini rumah Dewa" Bram menjawab sekenanya, tanganya masih bermain dipunggung Reyna jemarinya mulai jahil meraba sesuatu yang ada dibalik kaos rumahan Reyna yang tipis.
"Mas..akhir bulan ini Kak Bimo mau ajak Dewa nonton. Ada kartun kesukaan Dewa diputar" Reyna mengalungkan tangannya di leher Bram "Aku kan harus ikut pergi" rayuan maut mulai Reyna tebar
Bram mendengus kesal, bahunya mengedik pasrah
"Ehmmm apa boleh buat.. mungkin aku sudah terbang ke Singapura saat kalian pergi"
"Ingat syaratnya... " lanjutnya dingin
"Iya aku ini calon istri orang"
"Ada lagi?"
Reyna mengecup pipi kanan dan kiri Bram
"Belum cukup" Bram masih pura-pura marah
Reyna berjinjit mengecup bibir Bram
"Lainnya?Bolehkah?"
Reyna memandangnya heran
__ADS_1
Tsssskkkk
"Boleh pegang kali ini??" senyum seringai Bram nampak setelah berhasil melepas 2 kait kecil itu meski terhalang kain tipis.
Muka Reyna menjadi merah padam serta merta ia berlari ke kamar setelah mendaratkan cubitan menyakitkan di pinggang pria yang meringis dibelakangnya.
.
.
.
Reyna telah memesan 3 tiket online untuk nonton di akhir pekan ini, mereka bertiga memilih tiket terakhir pukul 7 malam. Jadwal pesawat Bimo di siang hari agar ia dapat beristirahat sejenak di sore harinya.
Dihari H Reyna pergi kerumah Linda untuk membantu mengemas koper yang akan Bram bawa ke Singapura selama beberapa hari sekaligus menghabiskan waktu bertiga. Sore harinya Bram mengantarkan Reyna pulang ke rumah.
Dewa sangat antusias saat Reyna mengatakan bahwa mereka akan pergi menonton kartun favoritnya.
"Harusnya aku saja yang temani kalian" sungut Bram tak kunjung henti
"Kak Mas Bram sendiri yang bilang waktu itu kalau Mas Bram kemungkinan sudah di Singapura"
"Apa daya Rey, customer di outlet lumayan penting jadi ya aku re-schedule tiketku saja untuk besok pagi"
Reyna tak menjawab, sejak Bimo mengabarkan ia telah sampai dibandara untuk siap take off dari siang hari tadi ia belum mendapatkan kabar lagi.
Begitu sampai rumah Reyna nampak kecewa karena Bimo juga belum terlihat datang.
"Belum ada kabar? " tebak Bram
"Ehmmm ya.. Mas Bram mau langsung pulang?"
"Aku tunggu saja sampai kalian berangkat"
Hari telah bergulir senja tapi Bimo belum juga nampak, berkali-kali Reyna berusaha menghubungi tapi nihil nomornya selalu tidak aktif.
"Kau kuantar dulu saja kesana. Aku tunggu sampai dia datang terus aku pulang. Tinggalkan pesan saja supaya dia langsung kesana" tawar Bram
Sesat Reyna ragu tapi melihat Dewa yang tak kunjung henti merajuk karena mereka tak segera juga pergi. Kaosnya ia tarik-tarik sebal dan berjalan gelisah keliling rumah. Omelan kecilnya tak jauh dari kata kapan pergi.
Panggilan terakhir pengunjung gedung pemutaran film memaksa Reyna untuk masuk bertiga dengan Dewa dan Bram karena Bimo tak kunjung tiba.
Bahkan hingga setengah jam film berlangsung, Reyna menyerah dan mematikan ponselnya lalu ia simpan dalam tas. Perasaannya lebih mengkhawatirkan Bimo daripada kecewa karena ketidakhadirannya.
.
.
.
Satu jam kemudian ketiganya keluar dari gedung dengan riangnya, Reyna bergelayut manja dilengan Bram sementara Dewa menarik tangan Bram yang lain dan menunjuk-nunjuk outlet es krim di pelataran tangga gedung.
"Aku belikan Dewa es krim dulu" kata Bram
"Aku tunggu di mobil saja kalau gitu Mas"
Bram menyodorkan kontak mobil dan berlalu
Reyna menuruni tangga sambil merogoh ponsel dalam tasnya, hendak ia hidupkan dan mengetahui keberadaan Bimo.
"Reyna!!" teriakan seorang pria mengagetkannya. Bimo berdiri diujung tangga, tangannya mengepal wajahnya merah penuh amarah. Bukan karena satu jam lamanya ia berdiri menunggu disana melainkan melihat pemandangan kebersamaan ketiganya yang hanya sekian detik membuat darahnya mendidih.
"Kak Bimo kemana saja?!" sambut Reyna kesal bercampur cemas
Bimo berjalan kearah Reyna dan menyentak kasar lengan Reyna.
"Kak Bimo apa-apaan sih, sakit! " pekik Reyna
"Tak bisakah kau memberikan aku celah untuk benar-benar menjadi ayah Dewa?! "
"Kak Bimo kemana saja? Aku cemas nungguin. Dewa juga sudah rewel jadi aku ajak Mas Bram daripada tiketnya mubadzir" Reyna menjelaskan setenang mungkin padahal hatinya sedang kesal
"Harusnya kamu batalkan Reyna! Besok kan kita bisa kesini lagi" Bimo mengelak
"Kak Bimo nggak tahu sih gimana kalau anak kecil sudah rewel" Reyna cemberut
Bimo mendelik "Ahh.. kau benar! memang aku tak tahu apa-apa soal anak kecil, termasuk anak aku sendiri. Puas?!"
__ADS_1
Reyna memandang Bimo heran, sejak kapan Bimo berubah menjadi sesangar ini
"Iya, aku minta maaf. Besok kita jalan-jalan ya sebagai gantinya. Yuk pulang istirahat"
"Mudah kamu bilang kata maaf! Kamu nggak mengerti perasaanku Reyna"
Reyna ingin menyudahi saja perdebatan ini. Mengingat mereka berada di tengah keramaian.
"Sudah ah.. Aku mau pulang dulu. See you Kak" Reyna mengambil langkah lebar menuju tempat parkir.
Bimo tak tinggal diam, dia mengikuti langkah Reyna. Menjajari langkah perempuan itu
"Reyna... Sebentar lagi kemungkinan aku pindah ke kantor pusat. Aku ingin lebih dekat dengan Dewa.. denganmu"
Reyna diam, matanya sibuk mencari mobil Bram dikeremangan area parkir di antara deretan mobil
Bimo menggapai tangan Reyna, menghalau langkahnya dan menariknya paksa pergelangan tangan itu
"Reyna ... kau dengar aku? Menikahlah denganku!"
Mata Reyna membulat "Kak, kemarin sudah kubilang nggak semudah itu"
"Please Reyna.. kau pikirkan masa depan Dewa"
"Aku lebih pentingkan perasaan Dewa sekarang daripada masa depannya bersama kita Kak"
"Perasaan?? Dengan mengabaikan perasaanmu sendiri?? Aku yakin kau tak mencintai pria itu kan! "
telak
"Kak Bimo tahu apa sih, sudah ah. Aku mau pulang" Reyna mendorong Bimo kesamping
Tak disangka justru Bimo menarik tengkuk Reyna dan mendaratkan ciuman dibibirnya
"Kak.. argh!" Reyna terkejut dan mendorong Bimo menjauh tapi Bimo masih enggan melepaskan pergelangan tangan Reyna
"Ya ampun Kak.. lepas!" jika saja keadaan tidak seperti ini sudah pasti aku tak ingin kau lepaskan batin Reyna menjerit
Seperti bisa membaca pikiran, Bimo memajukan wajahnya menantang "Kenapa, kau mau lagi?"
Bola mata Reyna bergerak cemas, cepat lambat Bram akan menuju kemari dan dia tak ingin ada pertengkaran lagi
"Aku ini calon istri orang" sahut Reyna lirih
Mendekatkan wajahnya kedepan Reyna dan berbisik pelan
"Jangankan calon istri orang. Kau lupa kalau waktu itu kau ini istri seseorang" ledeknya
"Kak! beberapa bulan lagi aku menikah dengannya" Reyna mencetus kasar
Bimo menghentakkan tangan Reyna , meraup wajahnya dengan kedua tangan dengan frustasi.
"Jadi ini yang kau bilang kesempatan?? "tanya Bimo sarkas
"Aku tak pernah janjikan kesempatan apapun! " bantah Reyna
Ekor mata Bimo mendapati 2 bayang pria dan anak kecil dari kejauhan mendekat ke arah mereka berdua. Seakan kalap Bimo mendorong punggung Reyna ke badan mobil merengkuh tengkuk Reyna dan ******* bibir Reyna paksa penuh nafsu.
Reyna menjerit dan meronta kesakitan, mendorong tubuh Bimo dengan segala kekuatannya.
"Kenapa Reyna! Kenapa kau tak menginginkanku lagi? Ahhh.. atau jangan-jangan permainan ranjang pria itu lebih hebat jadi kau memilihnya? Hahh?! "
Reyna mendadak lemas mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Bimo barusan. Pria yang ia rindu selama ini hanya menaksirnya sebatas ranjang.
Plakkkk
Tamparan keras mendarat di pipi Bimo.
Sakit
Sakit telapak tangan Reyna tak sesakit hatinya saat ini. Dia membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar. Seketika air matanya tumpah di kursi belakang penumpang.
---
"Mati kau Bimo! " bisikan pelan dibelakang tubuh Bimo terdengar bagai dentuman bom nuklir nagasaki
Bram berdiri disana dengan tatapan tajam dan senyum sinis penuh kemenangan.
__ADS_1