
Sesampainya mereka Hermawan, Gandhi mengapit lengan Reyna memaksanya masuk kedalam rumah, sebelumnya berteriak kepada Pak Min sang penjaga rumah untuk tidak mengijinkan siapapun masuk ke rumah. Mobil Satria mengikuti mereka sepanjang perjalanan pulang, didudukkan Reyna di kursi ruang tamu lalu menyuruh May memanggil Hermawan.
Laki-laki paruh baya itu memasuki ruang tamu dengan raut muka heran melihat wajah Gandhi merah padam dan Reyna yang duduk dengan tangan terlipat didepan dada.
''Duduk Pak, Reyna mau bicara'' pinta Gandhi
Reyna menggeleng ''Aku tunggu Mas Satria, biar dia yang menjelaskan''
''Tak usah kau pikirkan lagi laki-laki keparat itu lagi'' jawab Gandhi dengan sinis
"Ada apa ini, Gandhi bicaralah yang sopan!'' tegur Hermawan
Belum juga ada jawaban dari siapapun, terdengar bunyi gaduh didepan. Nampak Satria yang dihalangi masuk oleh Pak Min, seketika Gandhi berlari keluar meneriaki beberapa pekerja disamping rumah untuk mengusir Satria keluar.
Reyna yang mencoba untuk keluar menemui Satria diseret masuk kembali oleh Gandhi, pintu depan dia hentakkan keras dan dibantingnya Reyna ke tempat duduknya semula.
Reyna menangis kesakitan, Hermawan membentak Gandhi menghentikan semua aksi bar-barnya dan meminta penjelasan
''Reyna, jawab!'' teriak Gandhi
''Kenapa tak kau suruh saja Mas Satria masuk dan menjelaskan''jawabnya tersedu
Gandhi mengacak rambutnya kasar, dia mengambil duduk disebelah ayahandanya, mengelus punggung pria paruh baya itu dan bicara perlahan
''Reyna dan Satria akan bercerai Pak'' terhenti ''Satria menghamili wanita lain''
Pria paruh baya itu menekan dada kirinya, memastikan jantungnya masih berdetak ''Benar yang kakakmu bilang Reyna?'"
__ADS_1
Reyna mengangguk lalu menghapus air matanya. Dia beranjak menuju kamarnya
''Duduk dulu Reyna, kau mau kemana'' tanya Hermawan
''Reyna capek pakdhe. Reyna ikut saja apa kata pakdhe dan Mas Gandhi. Kalian yang merencanakan pernikahan ini jadi terserah kalian saja mengakhirinya harus bagaimana'' jawab Reyna ketus
.
.
.
Reyna terbangun beberapa jam kemudian, terlentang lurus menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya melayang mengulang kembali peristiwa siang tadi. Sungguh tak menyangka reaksi dari Mas Gandhi bahkan niat baik Satria untuk duduk menjelaskan dan berpamitan baik-baik tidak diindahkan sama sekali.
Bayangan Bimo sekilas terlintas hatinya tergelitik untuk sekedar mengirimkan pesan ohhh shitttt Reyna baru tersadar tasnya tertinggal di mobil Satria, Reyna merutuki nasibnya, sungguh dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya.
Kepala May melongok di pintu kemudian masuk ke kamar Rey dan duduk di sisi ranjang
''Makan yuk Rey''
Reyna tak menjawab, ia turun dari ranjang dan menuju ruang makan lalu duduk di sebelah Adam, hanya terdengar dentingan sendok dan piring selama makan malam berlangsung
''Reyna, aku akan suruh pengacara untuk mengurusi perceraianmu, kau tak perlu datang ke persidangan'' suara Gandhi memecahkan keheningan
Reyna hanya mengedikkan bahunya
''Kau dilarang keluar rumah hingga masa iddahmu selesai'''
__ADS_1
Reyna tersentak
''Mas Gandhi keterlaluan, aku harus kembali bekerja Mas!''
''Itu syarat terakhir, setelah lewat masa iddah kau bebas melakukan apa saja, aku janji''
Otak Reyna berpikir keras
''Oke, tapi biarkan aku hubungi kantorku dulu untuk berpamitan'' setidaknya dia bisa menitip pesan untuk Bimo bahwa dia baik-baik saja pikirnya
''Tidak!'' tolak Ghani cepat ''Apa bedanya kau berpamitan atau tidak, aku tidak akan ijinkan kau kembali ke kota itu!''
Reyna berdiri dan menghambur kekamarnya diikuti May dibelakangnya
''Reyna,, ikuti saja yang Mas Gandhi mau. Kamu hapal sifatnya kan, baiknya ikuti saja jika kau tidak ingin dikekang lebih parah lagi'' bujuknya.
Ucapan Mbak May benar adanya, Mas Gandhi adalah laki-laki keras kepala , semakin kita lawan ia justru akan semakin brutal.
''Mbak, semua ini salah paham'' ucap Reyna disela isaknya
''Menghamili wanita lain adalah salah paham maksudmu?''
''Bukan...arghh sudahlah.,Kami dipertemukan baik-baik setidaknya ijinkan kami berpisah baik-baik juga"'
May menggeleng ''Kami hanya inginkan yang terbaik untukmu Reyna, maaf ..''
Punggung wanita itu hilang saat pintu kamar ditutupnya rapat. Tiga bulan tak akan alam, cukuplah untuk Bimo bersabar menunggunya.
__ADS_1